Mohon tunggu...
Ario Aldi L
Ario Aldi L Mohon Tunggu... Penulis

Polemik dinamika juga estetika romantisme.

Selanjutnya

Tutup

Musik Pilihan

Sewajar Apakah Menonton Musik Live sebagai Pelarian?

28 Juni 2020   20:38 Diperbarui: 4 Juli 2020   16:08 25 11 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sewajar Apakah Menonton Musik Live sebagai Pelarian?
gambar : pixabay.com


Pertanyaan tersebut tentunya muncul dipikiran pembaca sekalian. Mengapa menonton musik live menjadi pelarian anak-anak muda generasi teknologi hari ini. Apakah hal tersebut berkaitan dengan tingkat emosional dan perubahan budaya yang drastis dari era sebelum millenial ini?

Yang pertama mungkin saja pemicu utamanya adalah tingkat stres dan budaya yang terlalu melirik ke arah barat. Kita tau benar bahwa orang-orang hebat banyak terlahir dari barat. Meski tidak dapat dipungkiri bahwa tidak sedikit pula orang-orang hebat yang dilahirkan dari negara-negara ketimuran.

Seperti dalam beberapa patah tulisan Pramoedya dalam Arus Balik. Hidup hanya menunda kekalahan. Kita tidak akan bisa melawan arus yang terus berkembang. Kita dipaksa menelan pepatah hanya ikan mati yang mengikuti arus. Dan beberapa hal lainnya yang sangat ideologis yang seharusnya banyak dianut dan memberikan feedback pada masyarakat. Memang terdengar utopis namun memang saat ini realitanya memang demikian.

Tingkat konsumsi penggunaan internet semakin hari semakin tinggi, baik hal tersebut digunakan untuk membangun brand personal, jalinan relasi dan sebagainya yang berhubungan erat dengan upaya meminimalisir kelumpuhan ekonomi di masa yang akan datang. 

Hari ini membahas masa pribadi di media sosial bukanlah menjadi hal yang tabu--sangat berbeda dengan zaman sebelum hari ini. Bukan berarti saya menolak mentah-mentah perkembangan yang terjadi hari ini bahkan terjerat lumpuh oleh masa lalu tapi memang ada sedikit kekeliruan dalam memahami kejadian-kejadian yang sedang menjadi tren pada hari ini.

Kedua, selain tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat teknologi memiliki tingkat ketergantungan akan hal-hal yang khalayak amini sebagai kemajuan budaya dan infrastruktur penunjang kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang dinilai telah cukup merdeka adalah salah satunya. 

Masyarakat menilai budaya seperti moshing dan baku hantam dalam menonton musik bergenre metal bahkan reggae adalah kemerosotan budaya, sebaliknya hal tersebut memanglah ciri khas dari pertunjukkan itu sendiri.

Masyarakat menggunakan aktivitas tersebut untuk mencari euforia bahkan sekedar untuk menonton mantan yang sedang bersama pacar barunya bersenang-senang di dekat panggung. 

Memang kerancuan inilah yang terjadi dan memang sedang menjadi populer dikalangan millenial. Setelah kepergian Bapak Sobat Ambyar masyarakat cenderung beralih kepada musik entitas mereka yang pada awalnya. 

Menonton musik live adalah salah satu pilihan yang dipilih oleh millenial untuk mengesampingkan masalah-masalahnya--meskipun jika para generasi sebelum hari ini membaca artikel ini akan langsung membantah dengan pernyataan konkritnya "Sudah sampai mana?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x