Mohon tunggu...
Ario Aldi L
Ario Aldi L Mohon Tunggu... Penulis

Hanya menulis di akhir pekan.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Eksistensi Prostitusi di Tengah Wabah

23 Juni 2020   12:23 Diperbarui: 1 Juli 2020   01:21 29 2 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Eksistensi Prostitusi di Tengah Wabah
Ilustrasi : pixabay.com


Bagaimana eksistensi prostitusi di tengah wabah saat ini. Kita semua tau bahwa prostitusi adalah bisnis tertua di dunia bahkan sepanjang sejarah di berbagai belahan dunia, prostitusi memiliki tempat spesial dalam masyarakat dan kita tidak bisa menyangkal bahwa meskipun lokalisasi semacam itu ditutup akan lahir lokalisasi-lokalisasi lainnya dalam berbagai bentuk yang sialnya pembatasan gadget tidak kunjung memiliki penawar. Menurut saya bisnis prostitusi masih sedikit lebih baik daripada legalnya gerakan-gerakan LGBT seperti yang umumnya bergeliat di negara-negara liberal. 

Bukankah selama ini baik itu disadari atau tidak, setiap hari kita dipaksa untuk menelan berbagai hal informasi yang menurut saya kebanyakkan darinya berbau prostitusi. Karena begini prostitusi lebih baik ada dan terbatas. 

Daripada dengan ditiadakannya prostitusi angka pencabulan semakin tinggi, tingkat kriminalitas seiringan dengannya. Memang aneh sebenarnya di tengah wabah seperti ini ada yang membicarakan tentang prostitusi. Karena menurut jenis penularannya, sangat tidak mungkin eksistensi prostitusi sangat luas.

Tapi melihat bagaimana tumbuh kembangnya bisnis prostitusi adalah suatu fetish tersendiri bagi saya. Di dalam lingkaran tersebut terdapat arus perputaran ekonomi yang tidak sedikit. Jadi seperti ini, prostitusi memiliki berbagai macam kelas yang menurut berdasarkan ditinjau dari segi tarif dan layanannya. Umumnya semakin ekslusif layanannya maka tarifnya semakin tinggi pula misalnya pada hotel-hotel yang beberapa bulan lalu telah ditutup karena kepergok menjalankan bisnis tersebut atau pembayaran "uang aman" yang macet.

Ini hanya perspektif dari mahasiswa awam saja. Tapi dari beberapa hal yang saya sebutkan diatas kita tetap tidak bisa menyangkal bahwa prostitusi adalah kebutuhan yang wajar. Hanya saja untuk legalisasinya saya tidak terlalu faham. Apabila ditanya perihal legalisasinya tentunya saya tidak setuju. Meskipun dampak akibat penggusuran prostitusi menyebabkan kriminalitas meningkat, tentu ada solusi lain daripada itu semua.

Karena ini bukanlah permasalahan yang sepele. Bagaimana tontonan mempengaruhi persepsi dan pola pikir anak-anak adalah kekhawatiran saya. Kapan hari saya memergoki anak tetangga saya dengan tenangnya melihat tiktok di depan rumah. Semua orang tau bahwa hampir keseluruhan isi dari tiktok adalah mengumbar-umbar aurat. Tentunya saya tidak pro khilafah. Tapi saya sangat memperhatikan dari apa=apa saja dampak dari tulisan saya misalnya.

Jika ada asumsi dari masyarakat mengatakan penutupan lokalisasi terasa sia-sia. Maka saya sangat setuju dengan hal tersebut. Sialnya era teknologilah yang menurut saya membuat hal tersebut sia-sia. Bukan pada masyarakatnya dengan tingkat kebutuhan yang semakin hari terpengaruh oleh perkembangan teknologi hanya untuk menjadi seperti hewan. 

Pemblokiran yang dilakukan oleh pemerintah, dalam hal ini kementerian kominfo memang sudah cukup baik. Sialnya pajak dan uang sumbangan yang diberikan oleh pemilik saham aplikasi tersebut terus mengalir dalam anggaran negara.

Saya tidak tau apa hukumnya menggunakan uang tersebut terlebih bantuan yang disalurkan ke tiap-tiap pelosok desa. Meskipun ada dalih karena kebutuhan mendesak maka hal tersebut menjadi mafhum. Maka apa kabar dengan prostitusi. Selamat siang.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x