Ario Aldi L
Ario Aldi L Penulis

Suka dengan Sastra, Sosial, Politik.

Selanjutnya

Tutup

Humor

Cara Menjadi Manusia Nista

10 Mei 2019   08:46 Diperbarui: 10 Mei 2019   11:10 30 0 0

Bagaimana cara menjadi manusia nista? Ditengah hiruk pikuk modernisasi, westrenisasi, komersialisasi, politisasi, jongkoknisasi. Sebagai manusia nista saya akan mengajarkan kepada saudara, saudari bagaimana membentuk pribadi yang nista!

Di alam liar maupun di tempat yang bukan alam liar  kamu harus memiliki :

Nafsu yang Membara Tak Ada Pagar

Ya, sebagai manusia nista jangan sampai lupa kalau nafsu adalah salah satu hal yang tidak bisa dikontrol. Kalau ada kesempatan sedikitpun jangan sampai dilewatkan. kalau anda adalah pengusaha, gilas semua lawan dengan berbagai cara, gilas konsumen dengan branding yang menipu, tak usah takut dengan apapun. Putih mata pun tak ada masalah, kalau saudara/i adalah pejabat. Gunakan jabatan untuk mendapatkan jaringan untuk korupsi, suap 40 juta 55 juta terima saja! beri makan anak-anak anjing di sekitarmu, kalau menggonggong siram saja kepalanya dengan tuak sisa semalam.

Terapkan Konsep Hidup Hanya Sekali

Hidup hanyalah sekali, apapun kemasannya apapun ideologinya. Bersenang-senang itu boleh! Nyerempet - nyerempet dikit orang - orang lacur tak masalah asal memberi uang jajan yang pantas. Beri semua uangmu untuk kegiatan yang memberimu manfaat tak terkecuali seks kesana kesini. Kalau ada yang menegurmu racuni pikirannya dengan segala dalih yang kamu tahu bergerombol lebih baik!

Pasar Sinting Saya Waras

Terakhir, lawan anda adalah kewarasan anda sendiri. Kalau anda waras berarti anda kalah. Kenapa orang orang begitu sinting padahal saya waras? Ya karena saya melakukan hal-hal yang saya ingin lakukan. Bisa saja saya mati di lorong-lorong gang larut malam dengan botol pecah yang menancap diantara belikat dan leher. Saya bangga dengan hal itu terimakasih.

Humor sampah telah anda baca, namun banyak tokoh besar suka melakukan demikian tapi tetap saja, di media dimana pun selalu yang terlihat adalah sosok yang manusiawi tak bercela.

Tulisan ini tidak ada maksud apapun untuk para pembaca yang memiliki pikiran kolot silahkan langsung undur diri, saya ingin berdiskusi dengan pembaca/penulis yang tidak kolot pemikirannya