Mohon tunggu...
Ario Aldi L
Ario Aldi L Mohon Tunggu... Penulis

Suka dengan Sastra, Sosial, Politik.

Selanjutnya

Tutup

Humor

Hari Pendidikan Nasional Terima Kasih!

9 Mei 2019   20:17 Diperbarui: 9 Mei 2019   20:25 0 3 1 Mohon Tunggu...
Hari Pendidikan Nasional Terima Kasih!
From; unsplash.com/culture oleh Markus Spiske

Hari pendidikan nasional hari ini, dibaca sebagai hari merayakan pendidikan entah itu dilema keluh kesah sebagai guru honorer ataupun guru tetap yang masih mendapat upah minim.

Hari ini saya menulis ini, bukan untuk mengangkat dilema sistem pengupahan para guru. Melainkan datang dari kisah saya dan lingkungan disekitar saya sendiri. 

Hari pendidikan nasional adalah hari yang sangat istimewa untuk mengingatkan betapa sistem pendidikan hari ini harus diperbaiki lebih terstruktur dimana pendidikan bukan menjadi stratifikasi yang mewah, yang akan berimbas pada kesenjangan pendidikan tidak lagi nampak apalagi tercium baunya. 

Kalangan rakyat kecil yang tersisihkan karena budaya kapitalisme yang sekarang populer terdengar dengan sebutan -wirausahawan/wati-. Sial arogansi nafsu dibalut dengan modernisasi menjadi tidak nampak tulang busuknya. 

Ketika anak-anak seusia TK-SD mengamen di terminal bahkan baru bisa berjalanpun menjadi alat untuk mempertebal kantong para preman-preman yang tak kelihatan sosoknya. Apa memang keadaan harus seperti ini?, Andai saja biaya pendidikan tidak terlalu mahal dan seluruh akses pembelajaran menjadi hak setiap warga negara yang diberikan secara cuma-cuma. 

Namun apa daya kebobrokan moral selalu menjadi alasan untuk memandang rendah suatu golongan yang dianggap tak pantas tanpa menelusuri akar gesekan sosial penyebab ia menjadi demikian.

Pengamen, pengemis atau apapun yang dianggap nista seharusnya masih menjadi kewajiban negara.

Setidaknya jika negara tak mampu memberi jalan keluar, apa tidak ada rasa empati diantara manusia yang muncul atas keresahan ini? 

Kesejahteraan masyarakat sangat bergantung pada yang lainnya, hidup gotong royong sangat kami rindukan sebagai budaya lama yang tetap ingin kami pegang erat sampai urat diseluruh tubuh keluar, tali tampar sudah kami jepit di antara ketiak kami. Naas lawan kami adalah mesin, sudah.

Mungkin ini terdengar naif maupun egois, sistem hutan rimba harus tetap berjalan.

Tapi saya akan menolak mengikuti sistem tersebut, negara tidak lagi menjadi suatu hal yang teramat penting untuk diperbincangkan di warung emperan. Biarlah uang pajak tetap berjalan, kami akan menganggap uang itu adalah shodaqoh.

Semoga tulisan saya bukan hanya untuk dikagumi atau apalah itu, saya akan senang jika ada diantara kalian mau mengamalkannya. Terimakasih!