Novel Pilihan

"The Stranger", Memandang Hidup yang Datar dari Kacamata Meursault

6 Desember 2018   01:58 Diperbarui: 6 Desember 2018   14:59 332 1 1

Buku ini ditulis oleh Albert Camus, tokoh sastra yang waktu SMP pernah nggak sengaja gue temuin quotenya;

Jangan berjalan di belakangku, aku mungkin tidak memimpin. Jangan berjalan di depanku, aku mungkin tidak mengikuti. Berjalanlah di sampingku, dan jadilah temanku.

Sebuah quote yang sangat disuka, yang sering gue rapal pada masanya. Sialnya meski familiar di kuping, quote ini, nggak ngebuat cara berteman gue jadi lebih baik.

Btw buku ini masuk dalam daftar 1001 Books You Must Read Before You Die.

Isi ceritanya sederhana, tapi kayaknya sesuatu yang sebenarnya ingin Camus katakan ini cukup kompleks deh. Iya, soalnya kita nggak dengan mudah bisa nerima kesederhanaan cara berpikir tokoh ciptannya.

Orang Asing, yang versi aslinya berjudul The Stranger, bercerita tentang seorang pemuda usia tiga puluhan barangkali. Berperan sebagai orang biasa dengan gejolak hati yang serba stagnan. Bahasa alaynya, segalanya b aja.

Nothing special, everything is ordinary.

Diawali dengan kisah ibu si tokoh utama, Mersault, yang meninggal di panti jompo. Dia datang ke acara pemakamannya dengan perasaan yang biasa-biasa aja, bahkan nggak mau ngeliat ibunya untuk terakhir kali. Alasannya bukan karena saking sedihnya dia, tapi karena dirasanya nggak perlu. Yang pergi biarlah pergi.

Sampe Mersault balik kerja buat keesokan hari, dia bilang, kalo nggak salah kalimatnya kayak gini (atau nggak mirip-mirip hehe), "Akhir pekan telah berlalu, ibu sudah dikuburkan, aku akan bekerja dan hari-hari akan berlanjut seperti biasanya."

His way of thinking makes me look deeper to my own self.

Dan iya, memang, hari-hari emang akan berlanjut seperti biasa. Bahkan kita, kita juga. Setelah kejadian paling perih sekalipun, waktu bakal mengobati dan hidup akan biasa-biasa lagi. The difference is... this man's ability of adapting is quite fast.

Selanjutnya, diceritain Mersault ketemu mantan pacarnya, Marie. Si Mantah jatuh cinta lagi sama Mersault dan bener-bener seneng. They had sex and his ex-gf was asking for a marriage.

Mersault setuju-setuju aja kalo Marie minta nikah. Tanpa emosi. Tanpa gejolak hasrat. Tanpa rencana pesta yang aneh-aneh. Pernikahan hanyalah pernikahan. Terus pas perempuannya nanya,

"Apakah  kau mencintaiku?"

"Mungkin tidak."

"Kemudian mengapa kau mau menikahiku?"

Pokoknya laki ini ngejawab menikah adalah sesuatu yang mudah dan kalau perempuannya menyenangi hal itu, dia menyanggupi pernikahan.

Aneh? Berani?

Sama, sampe suatu hari Mersault kena musibah. Ceritanya dia sama calon istrinya, Marie lagi berlibur ke pantai. Terus gara-gara temennya, dia jadi terlibat suatu masalah. Karena suatu hal yang bukan disebabkan olehnya, seorang lelaki besar yang punya masalah sama temennya Mersault tiba-tiba udah ngeluarin pisau dan siap-siap nyerang dia. Nah kebetulan tokoh utama kita ini lagi megang pistol temennya yang iseng-iseng dia bawa dari penginapan tadi. Untuk membela diri, berdasarkan akal sehat yang bekerja di kepalanya, Mersault berpikir alangkah wajarnya kalau ia letuskan peluru ke si penyerang itu.

Matanya terpejam, dan dia melesatkan beberapa tembakan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2