Mohon tunggu...
Satu Cinta
Satu Cinta Mohon Tunggu... (Semua Tulisan Sudah Disetujui Kontributor untuk Dimuat di Akun Solidaritas Ini)

Akun gotong-royong untuk menolong sesama tanpa bedakan SARA. Setiap klik dan share artikel-artikel di akun ini adalah bantuan Anda untuk calon penerima bantuan. Tertarik menyumbang artikel dengan tetap mencantumkan nama Anda sebagai penulis? Tidak ada ikatan harus menulis rutin sebagai kontributor. Kontak: arigita@mail.com (ingat: mail.com) FB: https://www.facebook.com/satu.cinta.790256 Twitter: https://twitter.com/satucin09545161 Calon penerima bantuan hasil K-Rewards dua bulan ke depan: seorang anak kurang mampu (data terverifikasi)

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Hidup adalah Kesempatan untuk Berbagi Berkat

25 Agustus 2019   09:02 Diperbarui: 25 Agustus 2019   09:39 0 2 1 Mohon Tunggu...
Hidup adalah Kesempatan untuk Berbagi Berkat
salimasayyid.wordpress.com

Penulis: Yulisa FcH

Seorang Filsuf dari Jerman Timur, Arthur Schopenhauer (1788-1860) dikenal sebagai seorang yang pesimis. Ia berpandangan, hidup adalah penderitaan. Titik tolak pemikirannya adalah tentang "kehendak", bagian hidup terdalam di dalam diri manusia.

Menurutnya, kehendak adalah dorongan buta yang tidak pernah mencapai kepuasannya. Kehendak tidak pernah tenteram, selalu berjuang, tetapi tidak pernah mencapai apa-apa. Dibandingkan dengan aktivitas tubuh atau kesadaran, daya dorong kehendak sangat kuat. 

Kehendak tidak pernah lelah dan selalu membutuhkan pemuasan sepenuhnya secara terus-menerus. Namun, pemuasan sepenuhnya inilah yang tidak pernah tercapai.

buzzfeed.com
buzzfeed.com

Keadaan ini sangat menyiksa dan menyebabkan berbagai macam penderitaan dalam kehidupan manusia. Dengan demikian, kehendak adalah sumber penderitaan yang mewujudkan dirinya dalam berbagai bidang kehidupan. Misalnya, seseorang ingin punya rumah mewah, setelah punya rumah mewah ingin punya mobil, dan seterusnya.

Itulah penderitaan, karena kehendak tak pernah terpuaskan dan hanya sejenak memberi kelegaan. Hidup adalah rangkaian penderitaan yang tak pernah berhenti. Akibatnya orang jadi pesimis. Inilah pendapat Schopenhauer.

Sebab Kecemasan dalam Diri Kita

Pada dasarnya kecenderungan manusia adalah menghindari penderitaan. Kalau bisa hidup ini mulus-mulus saja tanpa masalah sehingga kita bisa hidup enak dan nyaman tanpa beban. Namun, selama kita masih menghirup udara di dunia ini, rasanya itu tidak mungkin.

Usaha menghindari persoalan hidup kadang justru membuat kita masuk dalam persoalan hidup yang lebih berat lagi. Persoalan hidup kadang  berawal dari kecemasan-kecemasan dalam diri kita. 

Bertolak dari pemikiran Shcopenhauer, kecemasan-kecemasan berawal dari kehendak atau dorongan akan hasrat yang  dapat kita raih dan sejenak membuat kita bahagia. Karenanya kita takut kehilangan apa yang telah kita raih itu sehingga membuat kita cemas dan menderita.  

Saat kehendak yang satu terpenuhi, muncul kehendak yang lain lagi dan terus menerus seperti itu dan semua itu tak pernah terpuaskan.
Dorongan atau kehendak dalam diri kita memang penting, tetapi tidak selalu harus dipenuhi. Memang, tidak mudah untuk memilah-milah mana kehendak yang perlu atau tidak perlu untuk saya ikuti.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3