Mohon tunggu...
A Zainudin
A Zainudin Mohon Tunggu... Penyuka Sastra

Menulis sesuai kata hati.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Meneladani Kesabaran Rasulullah pada Kisah Perjalanan ke Thaif

29 Oktober 2020   11:55 Diperbarui: 29 Oktober 2020   19:32 209 59 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Meneladani Kesabaran Rasulullah pada Kisah Perjalanan ke Thaif
Ilustrasi Kota Thaif. Sumber: Republika.co.id

Sahabat, ijinkan aku menukilkan kisah Rasul saat beliau mendakwahkan agama ke Thaif dalam bentuk puisi.  Harapanku, kisah ini dapat menginspirasi kita agar kesabaran menjadi pegangan utama, saat kita memperjuangkan cita-cita yang diyakini kebenarannya.

DI SUDUT KEBUN, SELEPAS THAIF*

Di sudut kebun, selepas Thaif
Lelaki mulia itu bersimpuh, mengerahkan segala rasa segala asa
Tangan menengadah, wajah menunduk pasrah
Hilang segala perih segala nyeri
Musnah sakit dari darah yang membasahi terompah


Tak takut karena nyawa yang nyaris terenggut
Tiada putus asa karena dihidangi muka cemberut
Namun lelaki mulia khawatir, langit murka menurunkan bala
Sadar bahwa kebinasan Thaif tinggal sekejapan mata


Padahal Bani Tsaqif telah ditawari kemuliaan
Janji kehormatan di dunia, dan Syurga tanpa dusta
Tapi petinggi itu mengerling matanya, hati mereka membeku
Tawaran lelaki mulia itu seperti beradu dengan batu
Bahkan saat disampaikan ke seluruh pelosok kota
seluruh jiwa itu penuh angkara, tak terkecuali anak-anak belia
batu menghujan kepala, bersama Zaid** lelaki mulia itu di kejar penuh luka
hingga darah menggenangi terompah. Langit mendadak berduka



Di sudut kebun, selepas Thaif
Utusan mulia itu merasa dhoif
melepas semua beban pada al Hanif***
Berangkat dari pualam hatinya, keluh itu memancarkan cahaya
Sang Khaliq melalui Jibril menawarkan pilihan:
Apakah diperbolehkan Malaikat Gunung menunjukkan kekuatannya
menyatukan penduduk durhaka itu dalam himpitan dahsyatnya?


Makhluk paling mulia itu menggeleng, hati lembutnya bersinar terang
Tak ada dendam, jelaga hati jauh hanyut dan karam
Tidak perlu pembalasan, masa depan jauh berharga dibanding kebinasaan
Anak cucu mereka jadi harapan
Saat cahaya putih nanti menyala terang


Di sudut kebun itu, selepas Thaif
Doa lelaki mulia itu meluncur menembus langit
Jatuh menjadi pendar-pendar cahaya
Yang kelak dibawa anak cucu mereka


*) Dari Kisah Rasulullah berdakwah di Kota Thaif (dari Buku-buku shirah Nabi)
**) Anak angkat Rasulullah yang menemani berdakwah ke Thaif

***) Al Hanif ; Yang Maha Lembut (salah satu sifat Allah)

Peristiwa tersebut memang sudah jauh berlalu, terjadi empat belas abad silam, namun jejaknya terekam abadi sepanjang jaman.  Peristiwa yang terjadi pada tahun 10 kenabian, setelah beliau mengalami dua peristiwa duka yang tak terperikan.  Dua sosok pendukung utama pendukung dakwah beliau, Abu Thalib-sang paman, dan istri idaman segala jaman, Khadijah Al Kubra, wafat setelah berlangsungnya pemboikotan tak berperikemanusian yang dilakukan oleh Suku Quraisy.

Namun beliau memang Nabi, yang memiliki semangat baja, kesabaran berganda dan tak menyisakan kata menyerah pada kamusnya.  Suasana duka tak menyurutkan beliau untuk melaksanakan tugas beliau yang utama, mendakwahkan agama meski tantangan bahkan nyawa taruhannya.

Peristiwa Kepergian Nabi ke Thaif ini dibadadikan dalam sejarah sebagai salah satu peristiwa yang menunjukkan kesabaran beliau di level istimewa.  Setelah peristiwa ini, Allah memberikan hiburan beliau dan para sahabat dengan diterimanya dakwah beliau di Kota Yastrib (sebelum dikenal Kota Al Madinah Al Munawaroh) yang kelak akan mengubah sejarah dunia dan menjadikan periode dakwah Nabi mengalami fase baru.

Doa Nabi yang dikisahkan dalam puisi di atas, kelak akan terjawab melalui tokoh Muhammad Ibnu Kasim, tokoh yang menyebarkan Islam ke wilayah India, yang merupakan keturunan Bani Tsaqif, penduduk Kota Thaif. Nyatalah, bahwa doa adalah senjata. Meski tak harus dikabulkan sekejapan mata, tapi begitu diterima maka doa adalah bukti janji-Nya.  Janji bahwa Dia akan menerima segala permintaan dan pinta.  Oleh karena itu, Rasulullah menyontohkan kepada kita sebuah doa mulia, jauh dari dendam di dada, yang memberikan kebaikan kepada sesama.

Itu adalah contoh untuk kita semua agar kita  mendoakan kebaikan meskipun musuh memberikan keburukan dan kejahatan.

Tangerang Selatan, 29 Oktober 2020 (Dari puisi yang dibuat tahun 2017 dan disempurnakan hari ini untuk KOmpasiana)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x