Mohon tunggu...
Arif Rahman
Arif Rahman Mohon Tunggu... Wiraswasta & Pengajar di Kampus AKUBANK

Rekanan pendiri AKUBANK Business School (www.akubank.co.id) dan Editor in Chief Money&I Magazine (www.moneyinsight.id). Terobsesi dengan orang-orang yang berhasil dengan berbagai keterbatasan

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Mengelabui Demokrasi lewat Algoritma Media Sosial

11 Januari 2019   11:41 Diperbarui: 11 Januari 2019   13:00 0 8 1 Mohon Tunggu...
Mengelabui Demokrasi lewat Algoritma Media Sosial
Ilustrasi (Pexels)

Liverpool meradang, Kloop pelatihnya, boleh jadi mengkalim dirinya tetap happy, dengan posisi mereka sebagai pemimpin klasemen dengan jarak 4 poin. 

Tapi kekalahan dengan Manchaster City awal 2019 ini, adalah kejutan baru buat si ahli strategi. Pasalnya, inilah pertarungan 2 ahli taktik lapangan bola dalam level paling tinggi di dunia. Yang satu petaha dengan ideologinya penguasaan bola, yang satu penantang, yang strateginya agresif poll!

Guardiola bahkan pernah bilang, lebih baik pensiun daripada kalah penguasaan bola, ini prinsip, yang sudah diterapkannya sejak lama baik di Barcelona ataupun Bayern Muenchen. 

Dan yang namanya prinsip, adalah karakter, representasi dari integritas seseorang. Namun demi kemenangan, Guardiola menggadaikan ini.

Tak ada juego de posicion, ini terlihat dari keputusannya menarik gelandang enerjik Kyle Walker, padahal inilah sosok di balik permainan cantik si biru selama ini. 

Guardiola, menurunkan Danilo dan Laporte yang berkarakter lebih defensif. Jurus pragmatis ini berhasil meredam gempuran the Reds yang memang saat ini dikenal paling angker. 

Gerakan mereka layaknya strategi Zone Press yang dipraktekkan AC Milan medio 90an ketika menjadi raja Eropa, menekan tanpa lelah. 

"Para penyerang Liverpool membuat saya sangat takut, saya tidak bercanda, bek sayap kami tidak sanggup membendung  lini sayap mereka," kata Guardiola dalam film dokumenter berjudul All or Nothing tahun lalu.

Ketakutan yang wajar, dari 5 kali bertemu di tahun 2018, Manchaster City 4 kali kalah. Untuk itulah tiki taka dikorbankan, tanpa cara itu, penguasaan bola ada di kaki para pemain Liverpool. 

Manchaster City untuk pertama kalinya, memiliki total operan yang rendah, cuma 593 dari rata-rata 697 operan per laga yang selama ini merupakan raihan tertinggi di Liga Inggris. 

Tapi..., mereka menang, di laga krusial yang oleh Guardiola sebut sebagai partai final. Dengan mendekati poin pemimpin klasemen, maka kans juara terbuka kian lebar, dan bukan tidak mungkin memenangkan perburuan di akhir musim. 

Cara ini pula yang pernah di lakukan Scolari ketika membawa Brazil juara dunia, mengorbankan Jogo Bonito, bermain pragmatis yang penting menang dan menggegam piala.

Strategi untuk menang ini, nampaknya memang jadi lebih utama daripada bermain dengan cara yang baik dan benar. Toh saat ini, penonton juga senang, sekalipun permainan dianggap tak menghibur, namun fans gembira dengan hasil akhir.

Di percaturan politik, hal senada terjadi. Kubu patahana, yang selama ini dikenal 'main cantik', tak ragu mengadopsi cara lawannya yang agresif.

Dari penunjukan calon Wakil Presiden yang sarat nuasa politik identitas --satu hal yang dulu ditentang mereka- serta membangun pertahanan habis-habisan menampik serangan isu, yang yang benar, maupun yang keliru. 

freepik.com
freepik.com
Sementara penantang, tak kalah bergegas, cukup berhasil dengan konsisten membangun satu narasi-narasi baru untuk mendogma calon pemilih, yang memang di Indonesia, belum cukup dewasa.

Memanfaatkan kelemahan demokrasi sebagaimana di khawatirkan Socrates beradab silam, ketika ia menolak sistem pemerintahan ini.

Karena menurutnya, dengan memberikan hak politik (memilih) kepada masyarakat bawah, yang notabene tak mengerti politik, maka kualitas pemerintahannya tak cukup legitimasi. 

Dan betul saja, saat ini, dengan mudahnya uang digunakan untuk membangun persepsi, di masyarakat bawah, pilihan bisa tergantung berapa amplop atau baju kaos yang mereka dapatkan, bukan berdasar siapa calon yang menurut hati nurani mereka benar. 

Socrates meminta demokrasi di buang, dan mengadopsi aristokrasi, yang sayangnya, paham ini juga menjadi tirani dalam sejarah.

Dan sekarang ini, bukan politik uang saja yang juga berperan, tapi juga berita bohong, yang diproduksi untuk mendulang suara. Di kelompok masyarakat kebanyakan, berita bohong bisa berarti benar, tak perlu jurus sakti ilmu copywriting tingkat dewa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2