Muhammad Arif
Muhammad Arif

Lahir di Riau, Tanggal 14 April 1989

Selanjutnya

Tutup

Muda

Zaadit Sebut Jalan TOL hanya Dinikmati Orang Pakai Mobil, Hmmmm Zaadit.. Zaadit..

12 Februari 2018   21:31 Diperbarui: 12 Februari 2018   22:04 577 0 0

Gak tau tiba-tiba saya ingin membahas soal zaadit Mahasiswa UI yang mengancungkan map kuning kepada presiden Jokowi, taulah mungkin kawan-kawan soal berita yang telah beredar itu dan telah dibahas berbagai macam media massa. 

Aksi Zaadit itu memunculkan berbagai pandangan, ada yang setuju dan ada yang tidak.  

Dan kalau saya lihat berbagai macam pandangan,  ada yang mengatakan tindakan Zaadit itu bisa dilihat dari subtansial bukan dari etis.  Pandangan-pandang itu salah satunya menilai bahwa apa yang dilakukan Zaadit adalah hal yang kreatif. Pemberian "kartu kuning" sudah hal yang tepat, sehingga tindakan itu menjadi pertimbangan lagi buat pemerintah terhadap kebijakan-kebijakan yang ingin diputuskan. 

Dan pandangan lainya menilai apa yang dilakukan Zaadit itu tidak tepat waktu dan tempat,  istilahnya kurang etislah. 

Lainya,  ada yang kecewa kepada Zaadit lantaran ia waktu di undang oleh mata najwa penampilannya kurang maksimal dalam menjawab pertanyaan dari najwa dan hanya retorika. 

Ada hal yang di sesalkan oleh orang-orang terhadapnya yaitu soal ia menilai bahwa jalan TOL itu hanya di nikmati oleh orang-orang hanya yang memakai mobil saja.

Tentu hal ini saya pribadi juga tidak setuju, Zaadit seolah pendek akalnya. Sebenarnya disini saya intinya ingin menulis tentang zaadit, Kok jalan TOl  dinikmati orang pakai mobil saja? Ya memang benar juga sih kalau tol itu dilalui oleh mobil,  tapi "menikmati" tentu tidak. Banyak dampaknya terhadap keberlangsungan dan keberlanjutan kehidupan ekonomi sosial masyarakat gara gara tol itu.  

Gak apa apa zaadit namanya juga keceplosan yah zaadit, namanya juga masih belalajar ya Zaadit.

Jadi gini, kalau untuk kritik mengkritik  itu memang tugasnya mahasiswa apalagi kalau  udah masuk  BEM tentu harus kritis dong, tapi untuk mengkritik itu kita harus di kaji dulu permasalahanya.

Teringat saya waktu jadi mahasiswa dulu, senior saya pernah ngomong kalau sudah menyandang status sebagai mahasiswa maka ia memegang emban,  sebagai ulin nuha, ulil abshor dan ulil albab. 

Ulil artinya orang yang mempunyai ke kemampuan, jadi kalau diartikan ulil nuha berati orang mempunyai kemampuan daya berpikir. cerdas dan intelektual, kalau ulil albab artinya orang yang memupunyai kemampuan keahlian khusus dalam ilmu ilmu tertentu, sedangkan ulil abshor orang yang mempunyai analisa atau pengamatan yang tajam. 

Jadi kalaulah saya lihat zaadit, jujur saya kecewa sebagai orang pernah menyandang status mahasiswa, cara berpikirnya zaadit,  tentang jalan TOL itu. Saya melihat ketiga ulil di atas tidak digunakan dengan baik oleh zaadit dalam melihat Jalan TOL.  tapi ya sudahlah ya namanya juga belajar.  

Kalaulah boleh saya berpesan seperti dinilai orang-orang yang katanya Zaadit terlalu beretorika tidak subtansial. Jadi gini,  kalaulah kita hayati betul betul tentang tiga ulil diatas mudah-mudahan retorika kita berisi,  bukan retorika asal bunyi. 

Dan soal kritik, saya setuju. Seperti yang dikatakan salah satu dosen UI, bahwa kritik tidak harus sampai ke solusi,  kritik itu mengurai persoalan, membedah masalah.