Mohon tunggu...
Bledhek
Bledhek Mohon Tunggu... Operator - ____________

Pengkhayal LEPAS

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Hidup Memang Tak Gampang, Banjir Menggenang Tak Pupuskan Harapan

11 Januari 2021   09:47 Diperbarui: 11 Januari 2021   10:47 358
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Tiga hari hujan berturut-turut benar-benar menyisakan genangan. Dan sangat dalam. Tak hanya di pelupuk mata. Tak juga di separo hati. Semua menggenang tak menyisakan kering lagi.

Tak hendak protes pada Tuhan. Katanya, hujan adalah berkah yang diturunkan dari langit. Berkah buat yang satu mungkin akan dimaknai sebagai petaka bagi yang lainnya.

Betapa tidak! Buruh sawit, terdiri dari ibu/bapak tua, muda hingga yang masih remaja. Menanti genangan air surut. Buat apa?

Di ujung nun jauh di sana, 5 - 6 km menanti kotak hitam bernama sidik jari. Dan nasib mereka tergantung kapan jempol itu menempel di sana. Jika kendaraan ditinggalkan dan berjalan kaki jam berapa mereka tiba di tempat tujuan?

Masker yang menutup separo wajah tak lagi mampu membedakan, apakah ada kesedihan atau senyuman saja. Mata-mata kosong menatap arus deras memotong jalan. Tak terlalu dalam mungkin, hanya sampai di ujung pangkal paha.

Mereka berharap untuk saat ini, surutlah wahai air sisakan sedengkul saja agar kendaraan butut napas kehidupan mereka mampu bertahan dan menyeberang.

Agar jempol ini mampu meraih kotak hitam sidik jari. Agar 67.500 rupiah bisa menjadi pendapatan hari ini.

Jangan kira setelah lepas dari penggalan jalan, mereka akan meluncur mengejar mimpi. Kubangan demi kubangan harus diterjang, lumpur tanah liat yang menyelimuti roda kendaraan tak seberapa menyiksa. Walaupun kadang setiap satu putaran rodanya macet dan harus dicungkil dahulu baru bisa berputar.

Tetap di depan mataku mereka berbaris seakan antri sembako, istimewanya kali ini tak ada perebutan. Juga tak ada antrian. Masing-masing berebut untuk menerjang paling belakang.

Maka satu persatu kendaraan nekad menyeberang. Ada yang selamat. Ada yang napasnya tersumbat. Jika sudah begitu, kendaraan harus disungsang. Busi harus dilepas dan dikeringkan. Syukur-syukur jika mesin tak lemas kemasukan air.

Bila mesin sudah kemasukan air, artinya hanya bengkel yang mampu mengeringkan dan mengganti olinya. Minimal kantong saku mereka yang telah bocor kian besar bocornya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun