Mohon tunggu...
A. Pangerans
A. Pangerans Mohon Tunggu... Belajar menulis

Menulis untuk rekreasi

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

"Sa Ka" Penyemprotan Disinfektan di Tengah Penyebaran Covid-19

27 Maret 2020   08:28 Diperbarui: 27 Maret 2020   08:59 46 10 0 Mohon Tunggu...



Pagi-pagi kepsek saya datang ke rumah. Padahal harusnya sekolah masih libur. Guru masih mengajar lewat google classroom. Koq ada piket-piketan sih?

"Pak, hari ini jadwal piket lho. Jangan nggak masuk."

"Nggak ada siapa-siapa. Yang dipiketin apa?"

"Kita melakukan penyemprotan dengan disinfektan seluruh ruangan. Pokoknya semua ruang sampai atas-atasnya disemprot semua. Jangan sampai ada yang ketinggalan."

"Waduh, disinfektankan lebih berbahaya jika terhirup kita. Sesak napas nanti. Kan zat kimia itu?"

"Disinfektannya yang biasa saja. Sejenis pembersih saja. Pembersih lantai, pembersih toilet, pembersih pakaian, sabun cuci jenis tertentu saja. Jadi bukan zat kimia."

Legalah hati saya. Kalau cuma ditergen pembersih yang disemprotkan tak mengapa.

"Jangan lupa, kita diminta foto laporannya nanti. Penyemprotan mandiri. Di semua ruang."

Akhirnya sesuai instruksi, beberapa guru pun bergerak melakukan penyemprotan. Semua sisi disemprot.

Dokpri
Dokpri

Nah, yang jadi masalah, masak iya plapon hingga jendela semua disemprot. Apa gak mubazir tuh? Logikanya, penyemprotan dilakukan untuk membunuh kuman, termasuk virus corona yang diduga menempel karena ada tangan atau bagian tubuh yang telah menempel pada barang di sekolah. Siapa tau terbawa oleh siswa.

Kita tidak sedang berjuang melawan nyamuk demam berdarah. Kalau nyamuk yang kita bunuh, mungkin saja sela-sela ruang kita semprot tak masalah.

Kalau penyemprotan berkaitan dengan virus corona kan berkaitan dengan barang yang sering dijadikan interaksi oleh siswa dan guru. Jadi saya menganggapnya "Sa Ka" penafsiran. Mungkin saja saya yang "Sa Ka" salah kaprah memaknai maksud dari penyemprotan tersebut.

Melihat di televisi orang-orang pada melakukan penyemprotan maka ikut-ikutan melakukan penyemprotan. Padahal hakikat penyemprotan itu dilakukan untuk apa, hanya kira-kira. Untung saja bahan yang digunakan untuk menyemprot itu tidak mahal-mahal banget. Masih terbilang murah jika dibandingkan dengan jumlah dana BOS yang ada.

Dokpri
Dokpri

Kalau sekiranya penyemprotan dilakukan pada fasilitas umum yang sering dijadikan tempat interaksi mungkin saja masuk akal. Itu pun sebaiknya dilakukan berkali-kali. Penyemprotan secara berkala pantas dilakukan.
Jika penyemprotan hanya dilakukan sekali dan sudah dianggap steril selamanya dari virus corona adalah salah kaprah penafsiran.

Apalagi jika yang disemprot bagian atas bagunan yang hampir tidak mungkin tersentuh oleh orang. Benar-benar salah kaprah.

Sesuai anjuran petugas kesehatan, bagian yang disterilkan adalah barang yang sering dipegang oleh orang. Misalnya kalau di sekolah atau perkatoran: gagang pintu, kursi, meja, tiang bangunan, lantai selasar yang biasa dijadikan tempat bersandar dan tempat duduk.

Menyikapi anjuran pemerintah terkait virus corona banyak yang salah kaprah menafsirkannya. Diminta libur, malah liburan, malah mudik, malah membuat acara yang tetap mengumpulkan orang-orang.

Harusnya jarak interaksi adalah satu meter, dianggap terlalu jauh. Antrian tetap berdesak-desakkan. Sering mencuci tangan dengan sabun, memakai masker. Hampir semua dilakukan dengan salah kaprah.

Yang sakit malah tak menggunakan masker, sementara yang sehat menggunakan masker. Akhirnya masker langka dan harganya mahal.

Dokpri
Dokpri

Anjuran agar tetap berada di rumah, tugas dari guru bertumpuk akhirnya siswa malah belajar berkelompok. Interaksi sesama siswa di luar pengawasan guru malah lebih berbahaya. Salah kaprah penafsiran terjadi dan terjadi.

Akhirnya, mencermati dan memahami karakter instruksi dan anjuran yang telah diberikan oleh pemerintah dan atasan sebaiknya dicermati dengan sebenar-benarnya. Semoga salah kaprah dari sebagian besar kita berkurang.

VIDEO PILIHAN