Mohon tunggu...
A. Pangerans
A. Pangerans Mohon Tunggu... Belajar menulis lepas

Menulis untuk rekreasi

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Indonesia (Jangan Sampai) Jadi Episentrum Baru Virus Corona Dunia

26 Maret 2020   13:27 Diperbarui: 26 Maret 2020   13:32 167 12 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Indonesia (Jangan Sampai) Jadi Episentrum Baru Virus Corona Dunia
Screnshoott laman liputan6.com

AaMencermati berita dari laman liputan6.com, Video jenazah Pasien dalam Pengawasan (PDP) Corona Covid-19 asal Kabupaten Kolaka viral di media sosial. Sebelumnya, perempuan berusia 32 tahun itu, meninggal di RS Bahteramas Sulawesi Tenggara, Senin (23/3/2020).

Dalam video yang beredar, tangis histeris menyambut jenazah wanita yang belakangan diketahui bernama Rahma itu ketika sampai di rumah duka. Jenazah PDP itu dibawa dari RS Bahteramas menuju Kabupaten Kolaka dengan menggunakan mobil pribadi milik anggota keluarganya.


Terlihat bahwa respon masyarakat terhadap seruan pemerintah pusat, pemerintah daerah, guru-guru mengaji untuk mengisolasi diri berupa anjuran tetap tinggal di rumah yang hingga saat ini masih dianggap remeh.

Terlihat, masih banyak yang masih berkeliaran tanpa memperhatikan syarat-syarat penjagaan kesehatan. Kita semua patut khawatir keberhasilan physical distancig dapat berhasil dengan baik.

Aktifitas di pasar tradisional dalam kerumunan orang yang berbelanja terjadi interaksi begitu luar bisa. Antara pembawa covid-19 dengan yang sehat hampir tak bisa dibedakan.

Dari tangan yang satu ke tangan tang lain uang kembalian berputar. Bisa saja salah satu uang yang ada dalam genggaman kita, padanya ada covid-19 yang menempel siap menulari kita.

Salat berjamaah yang masih dihadiri oleh sekian banyak orang, salat jumat yang juga masih dilaksanakan dihadiri banyak jamaat. Patut kita sesali. Keyakinan bahwa orang-orang yang ada di sekitarnya adalah orang sehat membuat miris hati kita.

Pemahaman dan kesadaran tentang kesehatan dan proses penyebaran covid-19 yang banyak masih belum diketahui dan dipercayai sehingga masyarakat merasa tenang-tenang saja. Padahal setiap orang akan berpeluang menjadi penyebar covid-19 tersebut.

Sementara ini yang mereka ketahui bila sudah ada pasien yang meninggal baru gempar. Baru siap-siap untuk menjaga jarak dan menjauhi kerumunan.

Padahal sebelum terdapat pasien yang meninggal sudah berapa orang yang terjangkiti. Tak ada yang tahu sama sekali.

Pakar Kesehatan Masyarakat, Ascobat Gani memprediksi Indonesia bakal menjadi episentrum baru virus corona Covid-19, setelah Kota Wuhan, China. (Amp.suara.com, 25/3/2020)

Ascobat Gani menyebut berdasarkan pada temuan kasus virus corona meningkat tajam dari hari ke hari. Indonesia telah kehilangan kendali untuk menekan penularan virus corona yang telah menyebar luas.

"Mungkin kita akan mengikuti Wuhan atau Italia. Saya pikir, kita berada kita berada dalam kisaran tersebut," ucap Gani seperti disadur Suara.com dari Reuters, Rabu (25/3/2020).

Ascobat juga mebyebut, lonjakan drastis kasus virus corona di Indonesia disebabkan oleh respons lambat dari pemerintah yang berupaya menutupi jumlah korban sebenarnya.

Sekali lagi, kita tidak tahu siapa yang tertular dan siapa yang menularkan. Kalau anjuran semua pihak untuk tetap tinggal di rumah tak mendapat perhatian serius dari seluruh lapisan masyarakat. Kemungkinan beras kita akan dibuat kaget dengan lonjakan temuan penderita covid-19.

Menurut laman kompas.com Update terakhir corona di Indonesia, hingga Rabu sore ada 790 kasus Covid-19 di Tanah Air. Angka ini bertambah 105 kasus dalam 24 terakhir, sejak Selasa (24/3/2020) pukul 12.00 WIB hingga Rabu ini pukul 12.00. Indonesia di tataran dunia menempati urutan ke 37 dengan 790 terinfeksi dan 58 meninggal.

Achamad Yurianto, Juru bicara pemerintah untuk Penanganan COVID-19 seperti dirilis di laman nasional.tempo.co, meminta agar apabila masyarakat merasa sakit atau tertular dari orang lain, diminta untuk menghubungi fasilitas kesehatan dan berkonsultasi dengan dokter. Menurutnya, dengan pemeriksaan yang teliti, bisa ditentukan apakah ada dugaan yang mengarah ke COVID-19 atau tidak.

"Oleh karena itu, jangan membuat keputusan sendiri, untuk meminum sesuatu obat, untuk melakukan sesuatu kegiatan, yang diyakini bisa menyembuhkan atau mencegah ini padahal belum terbukti secara ilmiah," kata Yuri, ditulis Selasa (24/3/2020)

Yurianto juga meminta agar physical distanting dilakukan di dalam rumah, sehingga penularan yang terjadi di dalam rumah dapat dikendalikan sedemikian rupa.

VIDEO PILIHAN