Mohon tunggu...
A. Pangerans
A. Pangerans Mohon Tunggu... Belajar menulis

Menulis untuk rekreasi

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Dr. Ignaz Semmelweis Sang Pelopor Cuci Tangan, Bukankah Wudu Sudah Mendahuluinya?

21 Maret 2020   02:15 Diperbarui: 21 Maret 2020   02:32 329 23 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Dr. Ignaz Semmelweis Sang Pelopor Cuci Tangan, Bukankah Wudu Sudah Mendahuluinya?
Dream Tata Cara Wudhu yang Benar Sesuai Sunnah, Beserta Doa dan ...


Dr. Ignaz Semmelweis Sang Pelopor Cuci Tangan, Bukankah Wudu Sudah Mendahuluinya?



Dengan tidak bermaksud merendahkan Dr. Ignaz Semmelweis, sang dokter Honggaria keturunan Jerman pelopor prosedur antiseptik dengan cara mencuci tangan. Hidup pada masa 1 Juli 1818 -- 13 Agustus 1865.

Bukankah Muhammad, SAW (25 April 571 - 8 Juni 632) telah jelas memberikan tuntunan dengan cara mencuci tangan, membasuh muka, menyapu kepala dan mencuci kaki sudah termasuk dalam prosedur kebersihan. Setidaknya 5 kali dilakukan dalam 1 x 24 jam.

Benar yang disampaikan Gatot Nurmantyo, dengan pernyataannya dalam akun instagram yang kemudian banyak dianggap nyleneh dan dibully habis oleh sebagian besar orang tak tak suka dengan pernyataannya.

"Di negeri asalnya covid-19-cina, yg penganut paham komunis dan sebagian besar tdk beragama beramai-ramai mendatangi Masjid dan Belajar Berwudhu hingga mengikuti Sholat Berjamaah," kata Gatot dalam instagramnya.

Di sadari atau tidak, dipercayai atau tidak. Kalau ada pernyataan setidaknya lima kali berwudu sehari semalam, artinya lebih dari itu bisa dilakukan. Bukankah ketika berwudu mencuci tangan dengan air yang suci lagi mensucikan. Air dari kran berjalan.

Proses wudu sendiri dimulai dengan membersihkan tangan sampai benar-benae bersih, menyulami lobang hidung dengan air sebanyak tiga kali. Artinya kotoran dalam hidung gang menjadi penyebab bersayarangnya penyakit dari lobang hidung dalam menghirup udara.

Bukankah covid-19 juga masuk lewat udara dari lobang hidung. Bukankah berpegangan benda-benda yang telah ada covid-19-nya tercuci bersih.

Demikian juga ketika membasuh kaki sampai tidak ada lagi kotoran yang menempel. Padahal wudu belum dilakukan. Baru pada tahapan permulaan.

Selanjutnya wudu pun dilakukan dengan membasuh muka sebanyak tiga kali, artinya basuhan pertama membuang kotoran termasuk jika ada penyakit hang bersarang di wajah dibersihkan. Jika masih ada tersisa penyakit dilakukan pembersihan ke dua, hingga ke tiga afar semua yang melekat pada wajah terbasuh dan jatuh semua.

Demikian juga mencuci tangan dari siku hingga jari tangan. Juga dilakukan sebanyak tiga kali. Artinya setelah tiga kali dilakukan tidak akan ada lagi tersisa kotoran dan penyakit yang menempel di siku hingga jari tangan.

Masih belum selesai, pada rambut juga mungkin saja terdapat penyakit yang bersarang. Makanya ketika wudlu rambut dibasuh dengan air. Mengapa cuma sekali? Karena pada rambut tidak ada pori-pori.

Setelah itu baru mencuci kaki, pada bagian terakhir sekali. Percikan-percikan dari cuci wajah, cuci tangan mungkin saja tertinggal di kaki. Makanya kaki dicuci paling akhir. Hingga semua anggota tubuh bersih baik dari kotoran maupun dari penyakit yang coba bersarang.

Oleh karena itu mereka yang coba membuly pak Gatot Nurmantyo dengan pernyataannya yang dianggap nyleneh barangkali layak untuk bercermin diri.

Terlepas dari kontroversi yang telah dilakukan pak Gatot tersebut, barangkali jika kita mencoba dengan nalar jernih menyikapi tentang proses wudlu yang minimal 5 kali sehari semalam telah diajarkan jauh sebelum Dr. Ignaz Semmelweis Sang Pelopor Cuci Tangan.

Pembaca boleh saja sepakat dengan opini ini, juga boleh tidak sependapat. Yang jelas dalam keyakinan beragama setiap orang punya hak untuk mengemukakan pendapat dan alasannya. Yang penting tidak saling menjatuhkan. Tidak saling mengungkapkan kebencian.

Saling menghargai pendapat masing-masing sesuai dengan keyakinan yang dimiliki.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x