Arif Meftah Hidayat
Arif Meftah Hidayat pelajar/mahasiswa

dengan atau tanpa saya menulis, dunia juga tidak akan berubah

Selanjutnya

Tutup

Media Artikel Utama

"Tulisan Receh" dan Harapan Besar di Baliknya

11 Maret 2018   17:15 Diperbarui: 11 Maret 2018   19:24 835 25 9
"Tulisan Receh" dan Harapan Besar di Baliknya
astralife.co.id

Dalam tahapan "belajar menulis" bukan kesalahan besar ketika memiliki keinginan agar tulisannya diterima, dibaca, dan ditanggapi baik oleh banyak orang. Yang salah adalah ketika apa yang diinginkan tidak terpenuhi kemudian muncul rasa rendah diri dan berhenti dari apa yang baru saja dipelajari. Padahal sesungguhnya, perlu sebuah konsistensi dan usaha yang tidak kenal henti agar tulisannya bisa diterima oleh pembaca.

Menulis adalah sebuah pembelajaran. Kegagalan pada awal tahap pembelajaran adalah wajar. Bahkan gagal ketika sudah berpengalaman pun juga merupakan hal yang dapat dipahami dan dimaklumi.

Namun dari sisi tulisan yang dihasilkan, tidak ada sebuah tulisanpun yang bisa dianggap gagal. Semua tulisan yang sudah ditulis adalah keberhasilan. Walaupun terkadang memang berbeda tanggapan dan pandangan terhadap karya tulis yang dihasilkan. Ada tulisan yang secara konten dan gaya bahasa dapat diterima dengan mudah oleh pembaca, ada pula yang sebaliknya. Namun sekali lagi, itu semua hanya soal "jam terbang" di dunia kepenulisan.

Yang perlu diyakini bersama adalah, bahwa setiap tulisan pasti memiliki pembacanya masing-masing. Dalam tahapan awal menulis, ketika tulisan tidak bisa diterima oleh suatu kelompok pembaca, maka akan ada kelompok lain yang membacanya. Ada kelompok lain yang secara ilmu, kemampuan, serta pikiran satu frekuensi dengan apa yang penulis awam tuliskan.

Naik ke level penulis berikutnya, akan ada kelompok pembaca lainnya lagi yang akan membaca tulisannya. Sampai di level tertentu ketika hampir semua kelompok pembaca bisa menerima dan mengerti apa yang dituliskannya.

Harapan dan keinginan untuk dapat diterima oleh semua segmen pembaca akan dapat terpenuhi dengan adanya konsistensi dan pengulangan yang tiada henti.

Seperti memberikan sejumlah nilai mata uang. Nominal seribu rupiah mungkin tidak bernilai untuk beberapa kalangan, namun bisa bernilai tinggi untuk kalangan yang lain. Ada masa ketika baru bisa memberikan uang sejumlah seribu rupiah, namun ada masa pula ketika bisa memberikan sepuluh, seratus, atau bahkan seribu kali nilai tersebut. Tentu saja juga perlu kerja keras dan usaha yang tiada henti untuk dapat mencapainya.

Orang yang baru belajar menulis juga berharap bisa menyampaikan apa yang diketahui dan dipikirkannya. Setiap penulis pastilah memiliki misi. Dan bisa menyampaikan lewat tulisan dari apa yang diketahuinya adalah misi paling umum yang dimiliki oleh setiap penulis.

Perlu sebuah apresiasi untuk setiap tulisan yang dihasilkan. Saran dan kritik membangun kepada utamanya penulis yang baru belajar menulis salah satu bentuk apresiasi yang paling tinggi. Mengapresiasi "tulisan receh" dari penulis pemula selain sebagai bentuk penghargaan akan usaha yang dilakukan juga merupakan bentuk menghidupkan literasi. Karena semakin banyak penulis yang konsisten pada dunia kepenulisan, akan semakin banyak tulisan berkualitas yang dihasilkan. Semakin banyak tulisan berkualias yang dihasilkan, seharusnya semakin banyak pula kebaikan-kebaikan yang dapat disebarluaskan.

"Tulisan receh" seharusnya justru diberdayakan. Dikembangkan. Mungkin saja penulis yang menghasilkan "tulisan receh" saat ini suatu saat nanti menjadi salah satu penulis besar karena konsistensi dan usahanya yang tidak kenal henti. Menjadi penulis  yang terpenuhi semua harapan terbesarnya dari awalnya yang baru bisa menghasilkan "tulisan receh".