Mohon tunggu...
Arif L Hakim
Arif L Hakim Mohon Tunggu... Konsultan - digital media dan manusia

digital media dan manusia

Selanjutnya

Tutup

Travel Story

Beginilah Rupa Satwa di Pesisir Ibukota

27 Oktober 2015   13:51 Diperbarui: 3 November 2015   07:43 135
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Rasa penasaran saya sedikit terobati saat secara tak sengaja bertemu rusa sesungguhnya, tepat di sebelah kamar tempat saya beristirahat di Pulau Bidadari. Awalnya agak hati-hati saat mendekati hewan yang dikelompokkan dalam keluarga cervidae ini. Saya pun mengamatinya dari jauh. Namun, saya pikir rusa bukanlah binatang buas pemakan daging, karena niat saya hanya untuk melihat, saya pun memberanikan diri mendekat.

Ketika semakin mendekati kawanan kecil rusa totol yang mungkin sejenis dengan rusa di Istana Bogor ini, si rusa jantan bergegas maju dari kawanan. Saya mengenalinya karena tanduk enam cabang yang melengkung kokoh di atas kepalanya. Rusa jantan ini ternyata bernama Juno. Bulan Mei yang lalu Juno telah memiliki seekor anak rusa hasil perkawinannya dengan Yuni, salah satu rusa betina. Sehingga sampai saat ini terdapat 6 ekor rusa di Pulau Bidadari.

Kawanan kecil rusa totol yang ada di Pulau Bidadari ini relatif ramah dengan wisatawan. Bahkan rusa-rusa ini juga tak segan menatap layar kamera ketika kami mendekati mereka.

 [caption caption="Juno, si rusa jantan pemimpin kawanan (dok. Detha)"]

[/caption]

[caption caption="Halo, namaku Juno (dok. pribadi)"]

[/caption]

Selain rusa, di pulau yang luasnya hanya 6 hektar ini juga terdapat elang bondol. Hewan dengan nama latin haliastur indus ini adalah salah satu hewan endemik Jakarta. Pada tahun 1989, sesuai dengan Keputusan Gubernur No 1796 spesies ini ditetapkan sebagai maskot Jakarta. Bahkan ketika saya mengorek beberapa referensi, di India hewan liar ini dianggap sebagai representasi kontemporer Garuda, burung suci yang biasanya menjadi kendaraan Dewa Wisnu. 

Habitat terbaik untuk burung yang dijadikan sebagai logo bus transjakarta ini adalah area tepi laut yang berlumpur seperti hutan bakau, muara sungai, dan pesisir pantai. Namun seiring bertambahnya segala infrastuktur yang dibangun di Jakarta, habitat elang bondol kian menyempit.

PT Seabreeze sebagai operator wisata di Pulau Bidadari rupanya peduli dengan kondisi tersebut. Hal ini terlihat dari pembuatan patung elang bondol yang berada di tengah pulau. Tak hanya berhenti di situ saja, di belakang patung ini, tetap terjaga dengan baik pohon kepuh yang tinggi menjulang belasan meter, pada cabang tertingginya tampak dengan jelas sarang elang bondol berada.

Uniknya, di pulau ini hanya ada sepasang elang bondol saja, tidak bisa lebih. Karena setelah mengerami telurnya selama 28-35 hari, si anak elang biasanya akan belajar terbang dan mulai meninggalkan sarang pada umur 40-56 hari. Berikutnya, anak elang akan mandiri setelah umurnya mencapai dua bulan dan mencari tempat baru sebagai lokasi tinggal.

 [caption caption="Patung Elang Bondol di Pulau Bidadari (dok. pribadi)"]

[/caption]

 [caption caption="Elang bondol terbang tinggi di angkasa (dok. Rahmat Hadi)"]

[/caption]

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun