Arif Khunaifi
Arif Khunaifi profesional

Manusia biasa dari bumi Indonesia .:. Ingin terus belajar agar bermanfaat bagi alam semesta... .:. IG & Twitter: @arifkhunaifi .:. Facebook: Arif Khunaifi .:.

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Alasan Saya Tidak Pernah Berdebat dengan Aktivis Hizbut Tahrir

18 Januari 2018   08:07 Diperbarui: 18 Januari 2018   10:16 1652 34 19
Alasan Saya Tidak Pernah Berdebat dengan Aktivis Hizbut Tahrir
Image:antarafoto.com

Berdebat dengan aktivis Hizbut Tahrir (HT) adalah hal yang hampir tidak pernah saya lakukan baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Awalnya dari cerita yang mungkin sepele bagi kebanyakan orang, namun bagi saya itu hal yang tidak biasa.

Begini. Tahun 1999 saya sebagai anak ndeso yang ndlahom hijrah ke Surabaya untuk menuntut ilmu nyantri di Ma'had TeeBee pimpinan Mbah Luthfi yang masih kerabat sendiri baik beliau maupun istrinya. Dari jalur bapak saya memanggil beliau mbah, sedangkan dari jalur ibu saya panggil mas karena istri beliau kakak sepupu saya.

Oleh beliau saya dibiayai untuk masuk LPBA (Lembaga Pengajaran Bahasa Arab) yang tempat belajarnya persis berada di samping Masjid Agung Sunan Ampel. Sebuah masjid yang tidak pernah sepi dengan karena berada di komplek makam Raden Ahmad Rahmatullah atau yang biasa dipanggil Sunan Ampel.

Sebagai orang yang berbasic NU, tentu saya cocok dengan amaliah ibadah Masjid Ampel. Di sisi lain, saya dipertemukan dengan seorang teman belajar yang mengaku kalau dirinya aktifis Hizbut Tahrir (HT). Sebagai orang ndeso yang ndlahom, saya belum tahu apa itu hizbut tahrir mencoba bertanya apa itu HT.

Dia kemudian menjelaskan jika HT adalah partai politik internasional yang ingin menegakkan khilafah di seluruh belahan dunia. Dia juga sering diskusi sebelum masuk kelas dan bertanya mengenai penjelasan kitab pegangan HT berbahasa Arab yang dia bawa namun sudah difoto copy. Rupanya memang dia belum faham ilmu nahwu dan sharaf sehingga tidak bisa memahami betul apa yang ada dalam kitab tersebut. Dia juga mengajak saya untuk memusuhi aktifis tarbiyah yang mulai masuk LPBA. Padahal saat itu saya juga tidak tahu apa itu aktifis tarbiyah. Hehe...

Hal yang membuat kaget sekaligus tersenyum sendiri adalah ketika sudah mulai masuk di dalam kelas, para pengajar yang notabenenya mengajar Bahasa Arab tingkat dasar dan tentu tidak ada hubungan dengan politik dia serang dan dia debat panjang lebar tentang khilafah dengan rujukan foto copy kitab yang dia bawa. Bagaimana saya tidak senyum, la wong kitab yang belum dia pahami mendalam kok bisa digunakan alat berdebat.

Dari situ saya memahami, jika anak-anak HT itu sangat suka alias hobi berdebat. Hal itu diperkuat ketika saya belajar di IAIN Sunan Ampel. Bertemu dengan teman dekat yang pendiam di semester pertama sampai semester ketiga, namun menjadi tukang debat di berbagai tempat ketika mulai masuk semester empat semenjak bergabung dengan HT.

Walaupun saya juga tahu betul sejauh mana basic keilmuan islamnya yang sebenarnya belum mumpuni untuk bicara khilafah dalam siyasah islamiyah. Seseorang yang bicara khilafah, seharusnya dia sudah lunas pemahaman dengan masalah thaharah, shalat, muamalah, jinayah dan jihad. Bukan langsung loncat ke masalah khilafah. Bagaimana mau mendirikan khilafah kalau bersuci dari hadas kecil maupun hadas besar saja belum bisa dengan benar?

Awalnya mereka selalu memancing dengan pertanyaan pendek. Jika ada yang menjawab satu atau dua patah kata maka dia akan panjang sekali membahasnya yang ujung-ujungnya adalah perdebatan. Itulah salah satu karakter khas mereka sehingga sampai detik ini saya tidak pernah mau menanggapi status mereka di dunia maya maupun omongan mereka di dunia nyata dalam masalah khilafah.

Padahal dalam Islam, perdebatan (mujadalah) adalah pilihan terakhir untuk mengajak kebaikan orang lain setelah ucapan dan teladan yang baik. Debatpun, walaupun sudah menjadi pilihan terakhir harus disertai dengan cara yang baik yakni dengan ilmu dan disertai keikhlasan, bukan dengan cara serampangan. Jika itu tidak dilakukan, justru persaudaraan yang dikorbankan.

Debat yang tanpa disertai ilmu dan keikhlasan untuk menerima kebenaran akan menghasilkan kebencian yang berkepanjangan dan membuat hati sulit untuk khusuk dalam ibadah. Padahal tujuan utama manusia diciptakan oleh Allah adalah untuk ibadah. Maka, apapun yang bisa mengganggu lancarnya ibadah akan saya tinggalkan termasuk perdebatan.