Mohon tunggu...
Nur Arifin
Nur Arifin Mohon Tunggu... Mahasiswa

Mahasiswa Magister Ekonomika Pembangunan. Penerima Beasiswa Pusbindiklatren Bappenas Linkage MEP UGM - Jepang. ASN di Badan Pusat Statistik.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Menilik Kondisi Ketenagakerjaan di Ranah Minang

27 Desember 2018   07:30 Diperbarui: 27 Desember 2018   07:31 0 0 0 Mohon Tunggu...

Bagi sebagian besar orang, mencari pekerjaan mungkin menjadi hal yang cukup sulit meski berbagai upaya telah ditempuh. Selain rendahnya pertumbuhan lapangan kerja baru, seringkali lapangan kerja yang tersedia tidak sesuai dengan keterampilan dan keahlian mereka, ditinjau dari tingkat pendidikan, misalnya. 

Alih-alih bekerja pada lapangan kerja tersebut, sebagian orang justru memilih untuk menganggur dengan tanpa henti berupaya mencari pekerjaan yang diidamkan. Tengok saja salah satunya saat pemerintah membuka lowongan CPNS, berbondong-bondong masyarakat mencoba peruntungan, tidak terkecuali di Sumatera Barat.

Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi rupanya kurang memberi sinyal positif bagi kondisi ketenagakerjaan di Sumatera Barat. Padahal pertumbuhan ekonomi yang tinggi mengindikasikan bahwa perekonomian tengah bergeliat. Dalam kondisi tersebut, seharusnya dapat menyerap tenaga kerja sebanyak-banyaknya dan mengurangi tingkat pengangguran secara signifikan.

Sebagaimana dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Barat, pertumbuhan ekonomi pada triwulan III-2018 tumbuh sebesar 5,24 persen dibandingkan triwulan III-2017. Jika dibandingkan dengan nasional, pertumbuhan ekonomi di Sumatera Barat relatif lebih tinggi. Akan tetapi, disisi lain, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Agustus 2018 hanya berkurang sekitar 0,03 persen poin dibanding Agustus tahun sebelumnya.

Jumlah Pengangguran

Meskipun secara persentase terjadi penurunan, namun secara jumlah, pengangguran justru meningkat hampir tiga ribu orang dari 138,7 ribu orang menjadi 141,68 ribu orang. Hal ini terjadi karena dalam periode yang sama juga terjadi peningkatan jumlah angkatan kerja yang cukup tinggi sebagai pembagi dalam penghitungan persentase TPT. 

Secara empiris, hal yang membuat penambahan jumlah pengangguran adalah penambahan angkatan kerja pada periode tersebut tidak diimbangi dengan penambahan jumlah orang yang bekerja, sehingga otomatis selisihnya menjadi penambah bagi jumlah pengangguran pada 2017. Dengan kata lain, penambahan jumlah orang yang bekerja tidak sama dengan atau lebih besar dari penambahan jumlah angkatan kerja. Jika hal ini terjadi terus menerus, jumlah pengangguran dapat terus bertambah dan tidak menutup kemungkinan TPT menjadi lebih tinggi.

Partisipasi Angkatan Kerja

Menurut World Economic Forum, salah satu indikator terburuk di Indonesia pada penghitungan indeks daya saing global atau Global Competitiveness Index 2017-2018 adalah rasio partisipasi perempuan pada angkatan kerja terhadap laki-laki. Di Sumatera Barat, pada Agustus 2018 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) laki-laki tercatat sebesar 80,35 persen sedangkan perempuan sebesar 54,53 persen. Hal ini berarti bahwa dari 100 laki-laki 80 orang diantaranya adalah angkatan kerja, sementara dari 100 perempuan hanya 55 orang yang menjadi angkatan kerja. Rasionya mencapai 0,68 atau lebih tinggi dari level nasional yang pada saat itu tercatat sebesar 0,62 dan menduduki peringkat 113 dari 137 negara.

Meski lebih baik dari level nasional namun tetap saja diperlukan usaha ekstra untuk mendorong perempuan terjun menjadi angkatan kerja. Hal ini guna mencapai salah satu target Sustainable Development Goals (SDGs) yaitu mencapai pekerjaan tetap dan produktif dan pekerjaan yang layak bagi perempuan dan laki-laki, termasuk bagi pemuda dan penyandang disabilitas.

TPT Berdasarkan Pendidikan

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN