Arifin BeHa
Arifin BeHa

Wartawan senior tinggal di Surabaya. Dan penulis buku.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Bahasa, Antara Keuntungan dan Kasih Sayang

9 Januari 2019   22:34 Diperbarui: 10 Januari 2019   05:40 609 0 0
Bahasa, Antara Keuntungan dan Kasih Sayang
Abdul Adzim Irsad -tengah pakai jas- foto bersama para koleganya (Dok Pribadi)

Sewaktu duduk di bangku sekolah ada seorang guru bahasa yang selalu berkata, "Dengan bahasa, dunia dalam genggamanmu".

Bahasa adalah alat komunikasi. Sarana komunikasi, baik antara manusia dengan Tuhan maupun dalam hubungan sesama manusia. Dalam berkomunikasi dengan orang lain, kita tidak bisa lepas dari penggunaan bahasa. Dalam bisnis, kemampuan berbahasa oleh lawan bicara bisa meraih keuntungan

Bahkan saking pentingnya, orang yang tidak bisa mengucapkan kata-kata pun masih juga dibilang memiliki bahasa, yaitu "bahasa tubuh". Seringkali pesan yang disampaikan oleh bahasa tubuh -nonverbal, justru mengandung makna sebenarnya kita tidak bisa menghindar dari tutur bahasa.

Banyak orang memiliki kemampuan lebih dari satu bahasa. Salah satunya, bahasa Arab. Pada era klasik di Indonesia, bahasa ini terfokus pada tujuan agama. Memahami teks Alquran dan Hadis Rasulullah SAW atau untuk memahami dzikir dan wirid yang bersumber pada Alquran dan teks hadis.

Seiring dengan perjalanan waktu, pada era 1970-an arah tujuan belajar bahasa Arab mulai berkembang. Banyak penelitian ilmiah terkait pengunaan bahasa Arab, ternyata sudah mengarah pada tujuan selain agama. Pembelajaran bahasa Arab untuk haji, umrah, telah berubah. Bergeser menjadi ruang ekspresi wisata, politik, dan diplomasi.

Demikian benang merah desertasi ujian akhir promosi doktor, Abdul Adzim di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Selasa (8/1/2019).

Abdul Adzim membahas secara khusus tentang bahasa Arab dengan tujuan pariwisata melalui pendekatan komunikatif pada Jurusan Sastra Bahasa Arab UIN Malang. Penulisan ini berdasarkan hasil investigasi, observasi dan analisis terhadap mahasiswa Bahasa Arab.

Setelah melakukan observasi, ternyata cukup banyak mahasiswa yang tertarik dengan penggunaan bahasa Arab untuk tujuan yang lebih luas: wisata.Tujuan penelitian penulisan pembelajaran ini untuk meningkatkan kemampuan bahasa Arab, khususnya yang terkait dengan istilah-istilah pariwisata. Termasuk melakukan percakapan langsung dengan wisatawan.

"Semakin membanjirnya wisatawan dari berbagai negara Arab ke Indonesia, harus diimbangi ketersediaan pemandu wisata khusus yang bisa membantu para turis" tutur Adzim usai menyampaikan orasi.

Dengan demikian, pembelajaran bahasa Arab itu tidak berhenti pada tujuan menjadi guru bahasa Arab seperti yang terjadi selama ini. Lebih dari itu mahasiswa yang lulus dan mempelajari bahasa Arab punya potensi menggarap bidang wisata. Lewat apa yang ia sampaikan melalui desertasinya, Abdul Adzim yakin penggunaan bahasa Arab bisa meraih keuntungan berupa materi.

Bagaimana caranya? Lelaki kelahiran 20 November 1977 ini memberikan gambaran. Mahasiswa lulusan UIN harus membuat sebuah lembaga pendidikan kursus bahasa Arab dengan tujuan wisata. Lembaga kursus tersebut wadah menyiapkan guide, atau menjadi duta wisata. Lembaga kursus ini nantinya juga bisa menjual paket destinasi wisata Nusantara kepada orang-orang Arab yang datang terutama pada musim liburan.

Pada 2016, jumlah wisatawan asal Arab Saudi berjumlah 186 ribu orang. Angka ini naik sekitar 16 persen dari tahun sebelumnya yang mencapai 151 ribu orang. Meski bukan yang tertinggi dibanding negara lain, tapi kunjungan dari Arab Saudi ini memiliki tren cukup baik karena meningkat setiap tahunnya, setidaknya dalam empat tahun terakhir.

dokpri
dokpri
Wisawatan mancanegara dari Arab Saudi rata-rata menghabiskan waktu 12 hari di Indonesia. Hal ini merupakan kunjungan terpanjang dibanding negara-negara Asia lain yang datang ke Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2015, Wisman asal Arab Saudi menghabiskan waktu 12,27 hari, disusul oleh Pakistan dengan 9,35 hari, dan di posisi ketiga ada Bangladesh dengan rata-rata kunjungan 7,63 hari.

"Wisatawan Arab Saudi yang berlibur di Indonesia, khususnya di Bali bisa menghabiskan 1700 dollar dalam waktu 3-5 hari" tutur Abdul Adzim.

Berawal dari Musholla

Abdul Adzim Irsad lahir di Desa Karang Anyar, Ambulu, Kabupaten Jember. Adzim putra terakhir dari pasangan suami istri Irsad dan Siti Khotimah. Ke empat kakaknya semua perempuan. Pendidikan yang ditempuh sejak kecil berawal dari Musholla di depan rumahnya. Di situlah dia kenal bahasa Arab. Ia menyelesaikan pendidikan di MI, Mts dan Madraasah Aliyah swasta di Jengawah. Tahun 1977 Adzim mendapat beasiswa Pendidikaan Bahasa Arab di Umm al-Qura University Makkah, selama 3 tahun.

Setelah menyelesaikan studi S1 Abdul Adzim meneruskan studi S2 dengan jurusan yang sama di UIN Malang. Penulis puluhan buku ini juga menjadi staf pengajar Bahasa Arab di Universitas Negeri Malang dan dosen Teosofi Islam di UIN  Maulana Malik Ibrahim.

Di penghujung acara Prof. Dr. H. Moh. Ainin, M.Pd mewakili Dewan Penguji yang terdiri dari tujuh orang, memberi kesempatan kepada Abdul Adzim untuk bicara menyampaikan kesan. Lewat Bahasa Indonesia yang santun Abdul Adzim Irsad mula-mula menyampaikan rasa hormat pada ibunya yang duduk di kursi deretan depan. Menurut Abdul Adzim, dukungan ibunya menjadi api semangat untuk menyelesaikan studi S3-nya.

Ucapan terima kasih juga tertuju untuk istrinya, Dienok Naziel Iqmalia dan putranya Muhammad Hamzah. Kedua orang ini selalu menginspirasi penyusunan desertasinya.

Dari atas mimbar Adzim juga menyapa satu demi satu para tamu dan koleganya yang duduk di kursi berundak. Abdul Adzim yang terbiasa berkutbah suaranya mendadak parau. Kelihatan sekali dia terbawa suasana haru. Bibirnya berkali-kali terkatub seperti menahan tangis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2