Mohon tunggu...
Arif GilangDwi
Arif GilangDwi Mohon Tunggu... Manusia

Penulis lepas

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | Hymne Penghitam Langit dan Prosa Tanpa Tuhan*

12 Januari 2020   09:46 Diperbarui: 12 Januari 2020   15:40 54 1 0 Mohon Tunggu...

Hidup adalah abstraksi. Esok hanyalah mitos. Dan enyahlah waktu yang berlalu. Harapan kini mewujud jeruji-jeruji di lantai bawah tanah penjara. Lapar membuat iblis melanggar nazar. Aku hanyalah jasad yang menunggu makhluk-makhluk pengerat dan belatung-belatung lapar. Masa depan adalah rangkaian-rangkaian rantai yang menyeret leherku. 

Wewangian mawar hanya cocok untuk tanah pekuburan. Dan semerbak wangi minyak hanya cocok ditempatkan di sudut kamar mayat. Tanganku tak lagi mampu menghitung dzikir-dzikir yang lenyap ditelan bising bacotan Padri & marketing surga. Ingin aku menghantam mimbar dengan balok dan kerikil reruntuhan penggusuran. Juga, mengencingi altar dengan sisa-sisa anggur yang lolos melewati ginjal. Bagi mereka yang hidup di Sevastopol, aku hanyalah seorang pelesir yang gila. 

Aku begitu jijik dan mual melihat seorang sersan kehilangan lengan, juga dengan nyanyian gembira para pembawa tandu. Tapi, aku merasa amat bahagia kala martil gagal menembus pelipisku, kala hidup semakin tak layak dijalani. Aku benci tiap kata yang kutulis dalam buku harianku. Sebaliknya, aku sangat ingin menghiasi lembar-lembar resolusi yang tertempel di dinding kamarku dengan gambar penis warna-warni. Akan kubakar lembar-lembar eksamen. 

Aku adalah mereka yang menari di pelataran desa El Dorado, dan tiap-tiap kalian adalah diri Candide yang mabuk idealisme tentang hari esok dan masa depan. Tapi, sudahlah. Langit sudah menghitam. Alunan musik malam sudah semakin membosankan. Aku benci semua hal, maka aku merasa bebas. Bahkan diriku sendiri. Bunuhlah aku di malam sebelum semarak pesta melepas balon hasrat dan lilin tertiup. Padam.

*) Judul yang sama yang pernah digunkan oleh Balcony & Homicide dalam demo album mereka.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x