Arif Rahman
Arif Rahman wiraswasta

Hobi saya menulis, tapi saya juga hobi hitung-menghitung. Jadilah saya Accounting sekarang. Kerjanya susun Laporan Keuangan supaya para pemilik perusahaan dapat mengevaluasi kinerja perusahaannya. Saya menawarkan jasa penyusunan laporan keuangan kepada yang membutuhkan. Jadi, saya Accounting yang Wirausahawan yang hobi menulis. Yang jelas, apa dan siapapun kita, Hidup itu ibadah.

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Gerindra Tawarkan Prabowo-Anies, PKS seperti "Kekasih yang Tak Dianggap"

14 Juni 2018   10:08 Diperbarui: 14 Juni 2018   10:15 654 0 1
Gerindra Tawarkan Prabowo-Anies, PKS seperti "Kekasih yang Tak Dianggap"
Aher-Anies, foto : inilah.com

Untuk konteks lokal atau Pilkada PKS masih punya gigi, koalisinya dengan Gerindra masih diperhitungkan. Sebut saja Syaikhu kader PKS yang diusung sebagai Cawagub Jawa Barat berkoalisi dengan Gerindra. Tetapi untuk konteks nasional, 9 capres PKS yang berkualitas dianggap tidak memiliki cukup elektabilitas. Di tambah  sikap PKS yang seringkali mengalah karena bargaining-nya lebih lemah.

Terakhir, Anies Baswedan dimunculkan oleh Gerindra sebagai Cawapres. Tentu saja ini pukulan yang kesekian kali atas kesetiaan PKS berkoalisi dengan Gerindra. Kesetiaan PKS ini dapat dilihat ketika satu persatu partai koalisi Prabowo-Hatta meninggalkan gerbong koalisi seperti PPP, Golkar, dan Demokrat. Bahkan, Partainya Hatta Rajasa pun bergeser ke kubu pemerintah terpilih. Akhirnya PAN dapat jatah menPAN RB. Hanya PKS yang tetap kukuh menemani Gerindra di posisi Oposisi.  

Sikap Gerindra saya kira tak lepas dari survey yang dilakukan oleh berbagai lembaga survey yang tidak menempatkan kader-kader PKS pada posisi yang bergengsi. Kita ambil saja contoh dari survey yang dilakukan Median pada 24 Maret -- 6 April 2018, Capres PKS dengan elektabilitas tertinggi yaitu Anis Matta masuk urutan ke-8 dengan 1,7 persen.

Survey Elektabilitas Capres dari Median ( sumber : Detikcom )
Survey Elektabilitas Capres dari Median ( sumber : Detikcom )
Bahkan capres PKS lainnya, Ahmad Heryawan tidak masuk 10 besar dalam survey ini. Posisi tawar PKS makin lemah karena dikenal selalu mengalah. Di Pilgub DKI lalu, PKS mengalah dengan menyerahkan posisi Mardani Ali Sera yang semula dijagokan sebagai Cawagub mendampingi Sandiaga.

Akankah PKS mengalah lagi? Sepertinya belum, karena Mardani "melawan" dengan mewacanakan Anies-Aher. "Menyingkirkan" Prabowo sebagai Capres. Dan justru ini sejalan dengan pemikiran dari pengamat politik dari Universitas Paramadina, Handri Satrio yang lebih menjagokan Aher. 

"Duet Prabowo dan Aher itu bagus. Tapi lebih bagus lagi kalau capresnya adalah Aher, dan cawapresnya Prabowo," kata pengamat politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio, kepada INDOPOS. "Kendalanya ada di Prabowo. Sejak pertengahan 2017 hingga masuk tahun politik 2018, di berbagai lembaga survei elektabilitasnya tidak pernah naik dan selalu kalah jauh dari Jokowi. Selain itu publik sudah menganggapnya sebagai sosok usang," ujarnya.

"Selain religius, prestasi Aher juga sukses membangun Jawa Barat selama dua periode menjadi gubernur," ucap Hendri. "Intinya, bagi saya, lebih mudah menjual sosok Aher dibanding Prabowo,".

Senada dengan Hendri,  Jerry Massie pengamat Politik dari Indonesia Public Institute menilai Aher sebagai jualan yang bagus.  

"Yang bisa ditawarkan ke publik adalah sosok Aher. Kalau elektabilitas Prabowo sudah mentok," Dalam pengamatannya, Aher dinilai sosok pekerja, bukan pencitraan. "Selain dari kalangan religius, Aher yang saya amati lebih banyak kerja dan tak banyak bicara. Tahu-tahu publik tinggal melihat banyak prestasi yang dilakukannya," ucapnya.

 Salah satu prestasi terakhir adalah bagaimana Aher berhasil membangun bandara internasional Kertajati di penghujung masa jabatannya, tanpa menggunakan dana APBN. "Janji-janji kampanyenya terhadap masyarakat Jawa Barat sudah lunas. 

Dan Aher pun yang saya tahu, mendapat predikat gubernur terbaik. Dan itu prestasi yang tidak mudah dalam memimpin provinsi dengan penduduk terbesar di negeri ini," bebernya.