Mohon tunggu...
Ari Supriadi
Ari Supriadi Mohon Tunggu... Jurnalis - interest terhadap politik, pemerintahan dan lingkungan

Warga biasa. Tukang ngopi, kerja cuma sampingan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Beas Perelek, Solusi Jaring Pengaman Sosial di Tengah Pandemi Covid-19

1 Mei 2020   23:59 Diperbarui: 2 Mei 2020   01:05 170
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

"PERELEK, perelek...." ujar petugas Masjid Jami Al-Ikhlas, Cijoro, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten (saat itu masih Jawa Barat), medio 1995 silam. Ya, sudah lama rasanya saya tidak mendengar suara itu yang mengetuk pintu-pintu rumah warga untuk mengumpulkan beras.  

Petugas masjid setiap pekan rutin berkeliling kampung untuk mengambil sedikit beras dari rumah-rumah warga. Meski sedikit, entah hanya satu gelas ukuran 200 cc atau satu kaleng susu kental manis, tetapi beras-beras itu akhirnya terkumpul banyak dalam karung berbahan kain bekas produk terigu.

Pada medio itu, usia saya baru menginjak 10 tahun dan belum mengetahui betul apa tujuan dikumpulkannya beras oleh petugas masjid yang diambil dari rumah-rumah warga, yang mayoritas kelas menengah ke bawah itu.

Mengulik sejumlah literasi, budaya beas perelek ternyata sudah lama hidup di tengah masyarakat Jawa Barat. Ya saat itu (sebelum tahun 2000), Banten masih bagian dari Provinsi Jawa Barat, jadi secara budaya masih sangat kental pengaruh dari "wetan". Jika di Jawa Barat dikenal dengan istilah beas perelek, kearifan lokal serupa juga hidup di tengah masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan sebutan "jimpitan".

Beas perelek sebagai salah satu simbol budaya gotong royong masyarakat Sunda memiliki tujuan dan manfaat kembali untuk masyarakatnya. Setidaknya beas perelek akan kembali kepada masyarakat melalui kegiatan sosial, ekonomi, dan juga keagamaan. 

Ketika memasuki musim paceklik (paila), maka beas perelek bisa dimanfaatkan oleh masyarakat yang membutuhkan. 

Kemudian beas pelerek juga bisa dijadikan modal usaha (skala kecil) masyarakat tanpa harus ada bunga dalam pengembaliannya atau hasil dari beas perelek bisa digunakan oleh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) untuk memulai kegiatan usaha, seperti menyediakan piring, gelas, kursi atau tenda untuk hajatan, dan juga beas perelek bisa digunakan untuk konsumsi saat dilakukan rehab masjid. 

Kembali Menghidupkan Budaya Beas Perelek

Namun, saat ini saya melihat budaya beas perelek mulai hilang, terutama di wilayah perkotaan yang masyarakatnya sibuk untuk memenuhi kebutuhan domestiknya. Padahal di tengah pandemi virus corona (Covid-19), eksistensi budaya seperti itu sangat dibutuhkan di tengah masyarakat. 

Beas perelek bisa menjadi jaring pengaman sosial berbasis kearifan lokal untuk memenuhi salah satu kebuhan pokok (pangan) masyarakat. Dengan adanya beas perelek, masyarakat tidak perlu lagi menunggu uluran bantuan pihak luar, termasuk pemerintah yang tentu birokrasinya panjang dan berbelit. 

Belum lagi jika kepala daerahnya mau dua periode, bisa jadi bantuan itu dipolitisasi. Sebab, sejatinya perut (lapar) masyarakat tidak akan mau dan mengerti birokrasi, tapi kalau dipolitisasi mungkin tidak apa-apa? Yang penting dapat bantuan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun