Mohon tunggu...
Arie Saptaji
Arie Saptaji Mohon Tunggu...

Penulis serabutan, peternak teri, dan tukang nonton. Ia juga aktif menerjemahkan, menyunting naskah, mengerjakan ghostwriting, dan mengadakan pelatihan menulis dengan metode ART. Untuk bekerja sama, silakan menghubungi ariesaptaji@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Film

Potret Dua Perempuan

2 Mei 2019   22:38 Diperbarui: 2 Mei 2019   22:44 0 1 0 Mohon Tunggu...

Mantan Manten (Farishad Latjuba, 2019) tampaknya sengaja dirilis pada bulan April sebagai kado untuk Hari Kartini. Menariknya, film itu memiliki banyak kesejajaran dengan Kartini (Hanung Bramantyo, 2017).

Kartini menawarkan pembacaan ulang atas kiprah pejuang emansipasi itu. Mantan Manten menampilkan Yasnina, perempuan masa kini yang menghadapi tantangan mirip dengan Kartini.

Tulisan ini akan menelisik kesejajaran tersebut: dua perempuan berbeda zaman, tetapi menghadapi pergumulan yang serupa. (Bagi pembaca yang belum menonton, tulisan ini akan membocorkan alur cerita kedua film.)

Menghadapi Tembok

Kartini dan Yasnina sama-sama menghadapi tembok. Sama-sama menghadapi kekuatan tradisi dan kepongahan laki-laki.

Kartini harus pisah kamar dari Ngasirah, ibu kandungnya, dan harus memanggilnya "Yu" (panggilan untuk pembantu). Setelah menstruasi, ia menjalani pingitan sampai ada bangsawan meminangnya.

Mending jika sang bangsawan masih lajang. Lebih besar kemungkinan ia akan menjalani poligami.

Yasnina ditelikung oleh Iskandar dalam sebuah kasus di perusahaannya. Pengkhianatan ini dilakukan secara terbuka dalam rapat dewan pemegang saham yang didominasi laki-laki, hanya Yasnina seorang yang perempuan.

Mata para lelaki itu tidak memperlihatkan belas kasihan, malah mengharapkannya segera enyah. Tampaknya mereka risih ada perempuan yang cerdas dan kuat di tengah-tengah mereka.

Dalam masa pingitan, Kartini dinasihati Soelastri, kakak perempuannya, tentang pentingnya perawatan tubuh. Dengan tubuh itu, kata Soelastri, perempuan bersiap menjemput takdirnya.

Namun, dengan bantuan Sosrokartono, kakak laki-lakinya, Kartini menemukan jalan takdir yang berbeda. Meskipun tubuhnya terkurung, ia dapat menemukan kebebasan pikiran melalui buku-buku bacaan.

Yasnina perempuan terpelajar, pernah kuliah di Amerika Serikat. Ia manajer investasi dan konsultan keuangan yang andal. Ia berupaya mengerahkan kecerdasan dan sumber dayanya yang tersisa untuk melawan Iskandar.

Pendukung dan Penentang

Dalam perjuangan mereka, Kartini dan Yasnina memiliki pendukung masing-masing. Bagaimana komposisi dan kekuatan pendukung mereka?

Pendukung utama Kartini tak lain ayahnya sendiri, Raden Sosroningrat, Bupati Jepara. Ia memberikan kelonggaran khusus kepada Kartini dan adik-adiknya ketika mereka berada dalam pingitan. Mereka dapat bergaul, belajar, memperluas wawasan, dan juga menilik kondisi masyarakat.

Sosroningrat juga merestui Kartini mengajukan proposal beasiswa kepada Kerajaan Belanda. Para bangsawan menentangnya. Kalau keinginan Kartini dituruti, kata mereka dalam sebuah ucapan profetis, "Tukang kayu bisa menjadi raja!" Serangan ini membikin Sosroningrat ambruk.

Pendukung lainnya adalah orang Belanda, yang digambarkan terkagum-kagum oleh mutiara dari Jawa ini. Berbeda dari film-film lain yang cenderung secara stereotip menggambarkan orang Belanda sebagai penjahat, di sini mereka tampil sebagai sahabat, pahlawan, dan juru selamat. Ide-ide Barat mencelikkan mata Kartini akan konsep emansipasi perempuan.

Sosrokartono hanya bisa mendukung Kartini dari jauh. Joyodiningrat, Bupati Rembang, ikhlas menerima persyaratan pernikahan yang diajukan Kartini dan siap mendukung cita-citanya.

Kartini juga mendapatkan peneguhan dari ajaran Islam. Seorang kyai menjelaskan bahwa baik laki-laki maupun perempuan diwajibkan untuk "membaca" dan mencari ilmu.

Akhirnya, tentu saja, ada Ngasirah, sang ibunda. Perempuan ini berdoa dari jauh dan berdiplomasi melalui pintu belakang, sebelum nantinya memainkan peranan penting dalam proses pergumulan Kartini mengambil keputusan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3