Mohon tunggu...
Arief Nur Rohman
Arief Nur Rohman Mohon Tunggu... Manusia

Pegiat Moderasi Beragama Provinsi Jawa Barat. Menaruh minat pada Pendidikan, Pengembangan Literasi, Sosial, Kebudayaan, dan Pemikiran KeIslaman.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Game dan Ke-adab-an yang Hilang

18 Mei 2021   12:42 Diperbarui: 18 Mei 2021   13:04 206 9 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Game dan Ke-adab-an yang Hilang
(Sumber: Dokumentasi Pribadi) Desain by. Canva: canva.me/768P8sqLlgb

Terdapat dua jeratan yang tidak pernah bisa lepas dari generasi milenial dan generasi setelahnya, yaitu piranti digital dan media sosial. Keduanya saling simpul dalam perilaku kehidupan generasi hari ini. Seperti jerat induk Singa dengan mangsanya.

Perkembangan teknologi tidak bisa dibendung dengan apapun. Dari masa ke masa terus mengalami perkembangan dan menciptakan hal baru. Bahkan, ia mampu menggantikan beberapa peran yang dikerjakan manusia. Produk teknologi membawa banyak manfaat, peran, dan fungsi. Namun tidak sedikit pula yang meninggalkan jejak madarat dan kerusakan.

Satu di antara yang menjadi produk teknologi dan piranti digital adalah game. Game adalah sarana hiburan bagi manusia yang bijak menggunakannya. Ia mampu memberikan kepuasan batin dan suntikan energi setelah penat menjalani hari. Namun game juga mampu menjadi bumerang bagi penggunanya tatkala ia terlena dalam arus permainan yang ditawarkan. Bisa berupa; sikap angkuh, acuh, abai, boros, dan perilaku tidak produktif lainnya.

Game mampu menyasar semua usia. Mulai dari anak hingga dewasa. Tergantung jenis, pola, dan tingkat kesukaran yang ditawarkan. Satu di antara game yang sedang digandrungi anak-anak dan remaja hari ini adalah Free Fire. Game buatan warga Singapura yang dirilis 30 September 2017 ini, tak kurang dari lima tahun usianya, sudah menduduki posisi pertama untuk kategori paling banyak diunduh secara global dan game paling banyak diminati di Indonesia --terutama kalangan anak usia sekolah dasar.

Free Fire adalah satu jenis permainan yang misinya untuk membunuh dan menghancurkan lawan dengan menggunakan senjata. Mula-mula para pemain dibawa dalam satu pesawat, kemudian mereka diwajibkan untuk terjun bebas, mencari seperangkat senjata, dan peralatan medis untuk bertarung melawan pemain lain serta mempertahankan hidup.

Tidak sedikit anak yang mahir mengoperasikan game ini. Kita bisa melihat di berbagai daerah, banyak anak-anak dengan rentang usia 8-15 tahun ini mampu dengan lugasnya memainkan sesuai dengan karakter, posisi, dan misi yang ia pilih. 

Selain itu, untuk mendapatkan seperangkat aksesoris lainnya mereka tak segan mengeluarkan uang jajannya untuk membeli voucher game yang ia tukar dengan diamond dan seperangkat lainnya yang bisa digunakan ketika bermain. Minimal uang yang harus ia keluarkan setiap pembelian voucher game sebesar sepuluh ribu rupiah agar bisa mendapat diamond. Harga dan jumlah diamond ini berlaku kelipatan. Bahkan ada sebagian anak yang mampu mengeluarkan uang untuk membeli voucher game lebih dari seratus ribu. Mungkin jika dikalkulasikan jumlahnya bisa mencapai satu juta lebih.

Beberapa fenomena belakangan kita temui, saat masa lebaran tiba jika anak-anak zaman dulu membelikan hasil uang yang diberi sanak saudara/ keluarga dengan makanan, minuman, dan kebutuhan lainnya. Lain dengan anak sekarang, mereka membelikan "uang angpau" nya untuk membeli diamond di mini market terdekat, bahkan dengan jumlah besar. Hal ini mengindikasikan bahwa, ada satu sikap dan keadaban yang dibentuk melalui permainan ini. yaitu sikap konsumtif dan boros.

Tidak hanya itu, yang lebih mencengangkan adalah anak-anak lebih fasih menyebutkan nama-nama senjata dalam game tersebut daripada nama-nama Tuhannya. Mereka pun lebih hapal nama-nama karakter dan tempat yang dijadikan arena perang daripada dua puluh lima Nabi yang wajib diketahui.

Saya pernah melakukan survey kecil terhadap dua puluh siswa sekolah dasar negeri terkait game Free Fire, dengan mengajukan tiga pertanyaan beruntun dan sistematis. Pertanyaan dari survey tersebut mengenai; Nama senjata, nama karakter, dan nama lokasi/ tempat dalam game tersebut. Namun sebelum soal dikerjakan oleh siswa, terlebih dahulu saya memberikan soal muatan Pendidikan Agama Islam sebagai asesmen dan evaluasi terhadap pembelajaran yang dilakukan dalam pertemuan tersebut.

Hasilnya cukup menarik dan memantik kesadaran saya. Pertama, Segi waktu. Siswa cenderung lebih lama mengerjakan soal Pendidikan agama Islam daripada soal Free Fire yang diberikan. Lebih dari tiga puluh menit waktu yang dihabiskan siswa untuk menjawab sepuluh soal uraian singkat. Sementara itu, kurang dari sepuluh menit mereka selesai mengerjakan soal game dengan jawaban lengkap, benar, dan cepat. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN