Mohon tunggu...
Sastra Kita
Sastra Kita Mohon Tunggu... Penulis - Seputar Seni dan Sastra

Penulis, Sastrawan, Penyair, dan Dramawan

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Implan: Sarana atau Senjata Modern

21 September 2021   11:40 Diperbarui: 19 Oktober 2021   18:59 65 8 5
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Implan: Sarana atau Senjata Modern
fb-img-1632158393603-614a933e0101907f10000a44.jpg

(SARANA ATAU SENJATA MODERN)

oleh Arief Akbar Bsa

Dikala senja, langit-langit mulai memerah membuka gerbang gelapnya malam, #Purwadana telah sampai memasuki kota Hitam dalam legenda "Cahaya Mihrab" tempat berpijaknya "Bouraq" di Yerusalem yang akan terbang menuju 12 pintu langit singgasana Illahi. Ia telah melewati seperdelapan perjalanannya dan mendapatkan luka beragam dari akibat beratnya menyusuri jejak dan pencarian artefak-artefak keberadaan wanita mulia #Ranggita yang tak lain adalah kekasihnya. 

Dengan jumlah sepuluh jari manifestasi dari jasad Ranggita yang bersemayam pada #Jemari_Jingga, Ia menyadari pada fase perjalanan kali ini ia dihadapkan pada implanisasi, di mana saat memasuki gerbang kota, Ia dihadang segerombolan manusia chipset yang mau tak mau Purwadana diharuskan melakukan pembenaman sebuah chip pada bagian tubuhnya agar saat memasuki kota penuh dengan deret sensorik yang bertebaran di langit-langit kota dapat memberikan akses masuk juga bertindak sebagaimana layaknya penduduk lainnya yang mendiami kota Hitam itu. 

Seakan baik-baik saja proses implanisasi itu pada tubuh Purwadana, oleh sebab jika saat tahap pembenaman implan Ia merasakan kesakitan, maka manusia-manusia chipset itu akan tahu, curiga kalau Ia bukan dari ras/golongan manusia mutakhir dan tak akan diperbolehkan memasuki kota. Ia menyadari bahwa dirinya adalah manusia biasa yang datang untuk terus berjalan menghitung jari jemari agar dapat bertemu dengan kekasihnya Ranggita. Maka dari itu perjumpaannya di fase ini, Ia terpaksa menahan sakit luar biasa ketika bagian tubuhnya disayat-sayat ditanamkannya sebuah chip demi bisa memasuki kota Hitam tanpa ada kecurigaan dari para penduduk kota. 

Kini Ia terbaring lemah oleh sebab reaksi efek serum saat proses pembenaman chipset mulai menjalar di tubuhnya. Dalam kesakitan luar biasa itu Ia teringat ketika Ranggita paparkan sebuah cerita, suatu saat nanti akan singgah di fase seperdalapan perjalanan, menjumpai manusia-manusia chipset. Ranggita telah uraikan dan jelaskan semuanya tentang teknologi chip implan yang digadang-gadang bakal menjadi salah satu teknologi masa depan, diklaim mampu berikan kemudahan bagi manusia.

Dengan teknologi ini, manusia disebut dapat dengan mudah mengakses seluruh perangkatnya.
Tidak lagi diperlukan banyak kunci akses untuk hal-hal seperti melakukan transaksi pembayaran, menyalakan smartphone, menyalakan mobil, bahkan membuka pintu akses pabrik, semuanya bisa dilakukan hanya dengan menggunakan chip yang sudah ditanamkan di anggota tubuh manusia.

Cukup dengan mendekatkan anggota tubuh yang telah ditanam chip ke pemindai, maka dengan mudah akses pun diberikan. Kendati begitu, sampai saat ini belum semua orang mengetahui tentang teknologi chip implan ini dan berpesan pada Purwadana jika telah singgah pada fase itu agar berhati-hatilah, karena efektifitas akibat implanisasi akan membuat tubuh meledak oleh karena penempatan chip tersebut sejatinya hanya berlaku bagi robot dan bukan untuk manusia biasa.

"Duhai kekasihku, jika engkau telah tiba dan agitasi menyeretmu untuk dibenamkan implan chip oleh manusia-manusia chipset, berlakulah selayaknya kau bagian dari penduduk itu. Tahanlah rasa sakitmu dan jika telah selesai, segeralah berlalu dari kota itu,," jelas Ranggita.

"Setelah kau jauh dari kerumunan, segeralah kau buang chip dari tubuhmu agar tulang belulang serta jantungmu tak meledak. Pakailah ion partikel hijau yang kuberikan padamu kala singgah di ruang sekam api untuk mengurangi rasa sakit, dan gunakan molekul asam yang berkadar minus nol gas monatomik zat helium agar kau tidak terkontaminasi pada proses pelepasan implannya" lanjut Ranggita.

Lalu Ranggita pun menjelaskan dalam hitungan tak kurang dari seratus empat puluh purnama, dunia ini menciptakan perbudakan modern dengan dalih pembenaman chipset pada tubuh manusia. Dibeberapa generasi akan marak tehnologi yang terbuka pada publikasi hasil-hasil riset, tesis, disertasi dan journal yang memungkinkan *Semua Manusia (tak terkecuali anak-anak kecil) dapat dengan mudah menyerap serta mengembangkannya sendiri untuk dijadikan "Senjata/kejahatan yang mampu memperbudak manusia menjadi takut dan taat pada pemegang kendali chipset (tuannya/bos) tersebut. Jika membangkang, maka empunya akan menekan tombol yang terkoneksi pada chipset, seketika akan "buuummm" meledak, pun jika melanggar radius batas jarak tertentu atau berupaya menjauh dan membuang chipset tanpa ion partikel hijau darinya sebagai netralisasi implanisasi.

"Seperti robot, kau kan tahu, ia diperintah apa saja patuh dan taat, karena jika ia membangkang, maka robot itu akan dihancurkan atau diledakkan sama seperti tubuhmu jika tertanam chipset yang berisi bahan cairan ion-ion yang mematikan." ucap Ranggita.

Purwadana memang sudah mengetahui akan hal itu dari kekasihnya Ranggita, maka dengan serta merta Ia pun segera melepaskan chipset yang terbenam ditubuhnya dan bersiap untuk kembali melanjutkan perjalanannya mencari kepingan artefak tentang keberadaan Ranggita.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Edukasi Selengkapnya
Lihat Edukasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan