Mohon tunggu...
@Arie
@Arie Mohon Tunggu... Orang biasa yang mau berfikir luar biasa. that" ist #email : ari.ponty@gmail.com,

Orang biasa, yang mau berfikir luar biasa. Hobi menulis sejak remaja, sayangnya baru ketemu Kompasiana. Humanis, Humoris, Optimis. Menjalani hidup apa ada nya.@ Selalu Bersyukur . Mencintai NKRI. " Salam Satu Negeri,!!" MERDEKA,!!

Selanjutnya

Tutup

Novel

Bom di Bali

10 Oktober 2019   06:00 Diperbarui: 11 Oktober 2019   19:59 0 1 1 Mohon Tunggu...
Bom di Bali
Image; balitripdestination.wordpress.com - Ground zero Bali Bombing, Legian

TRUE Story : Dari Kisah, Kusujudkan Cintaku di Mesjid Sultan, (Eps,43)

Bab.X.hal.5 #Bom Bali Pertama , ( Amrozy. Cs ) 12 Oktober 2002
Malam itu malam minggu, seperti biasa turis sangat ramai di sekitar Kuta . Jalan Raya Legian penuh sesak kendaraan. Sepeda motor, mobil, taksi dan kendaraan pribadi memenuhi tiap sudut kota itu.  

Kawasan Legian dan Kuta bermandikan cahaya. Memang daerah itu banyak tempat hiburan malam. Cafe ada di mana-mana.  Diskotik,  karoeke, pub, lounge, bar, di selingi  hentakan suara music yang hingar bingar. Seperti biasa, aku hanya mengurung diri di kamar ku, dan menonton Vcd  yang kusewa tadi siang dari tempat persewaan langganan.  

Sekitar jam sebelas malam, terdengar dentuman keras yang rasanya tak berapa jauh dari toko dan tempat tinggal ku di Gang Menuh, sekitar jalan Pattimura, Legian, Kuta.  "Duuarrrrr,!" ledakan pertama mengguncang Legian. Bumi terasa bergetar hebat. Aku melompat dari tempat duduk ku dan melihat keluar dari lantai dua kamar ku.  Terlihat kepulan asap dan api disebelah selatan yang membumbung cukup tinggi .  

Belum hilang keterkejutan, tiba-tiba,; "Duaarrrr!", ledakan kedua membahana. Kumatikan Vcd , ku kunci kamar, dan ku keluarkan sepeda motor dari tempat parkiran di belakang.   Aku segera mencari sumber ledakan,!  Di kejauhan, sirine ambulan dan mobil kebakaran terdengar bersahut-sahutan. Ditengah jalan, aku bertemu dengan beberapa orang yang tengah lalu lalang setengah ketakutan. Ku tanyakan,:"Kenapa?". Mereka menjawab sambil setengah berlari, :"Bom, Bom, Paddys caf dan Sari Club kena bom!!" Banyak korban tewas, kata nya. 

 Astagfirullah,!"gumam ku dalam hati.  Ketika sampai di jalan Raya Legian, kulihat banyak orang berlarian. Anggota Pecalang dan pemuda mengangkut orang yang terluka dan berdarah-darah dengan alat se adanya. Sebagian wisatawan terlihat duduk di pinggir jalan, dengan wajah pucat pasi.  Rupanya mereka yang selamat dan tidak cedera serta jauh dari tempat ledakan bom tadi. 

Aku coba mendekat ke tempat ledakan. Tapi terhalang serpihan dan bebatuan yang berhamburan di tengah jalan. Potongan besi, bekas meja, dan serpihan kayu, berserakan dimana-mana dalam jarak sekitar empat ratus meter dari lokasi ,"Paddys Caf dan Sari Club," tempat dimana dua ledakan Bom terjadi.  Didepan Sari Club, ada lubang besar menganga seukuran seperempat lapangan bola Bangunan nya setengah hancur tak berbentuk. 

Sementara di seberang nya, Paddys caf, kondisi nya lebih parah. Mayat dan orang terluka bergelimpangan dimana-mana. Bau amis darah dan kepulan debu tercium menyengat.  Aku berdiri tercekat.  Apa yang tejadi?  Dalam kebingungan, seseorang datang dan mendekati, mengajak ku untuk membantu sebisa ku.   Refleks aku bergerak dan menolong beberapa orang yang terluka, memapah nya keluar dari reruntuhan, dan menduduk kan mereka dipinggir jalan, sebelum dijemput ambulan dan dibawa kerumah sakit terdekat.  

Pak Bambang, atau haji Bambang terlihat begitu sibuk.  Beliau memang orang yang paling intens terlibat dalam upaya membantu korban yang menderita luka ringan dan luka parah. Sesekali terdengar suara nya memberikan arahan dan perintah dalam upaya melakukan evakuasi korban yang masih banyak bergelimpangan belum tertangani.  Beliau bekerja dengan cekatan.  Tim medis , polisi, tentara, masyarakat umum, pecalang, siapa saja ikut turun tangan malam itu. Semua ikut membantu sebisanya.  Sebagian meng evakuasi korban. sebagian menyingkirkan puing-puing yang berserakan dijalan, agar mobil Damkar dan Ambulan bisa lebih mendekat.  Seisi kota terlibat membantu. Penduduk Kuta dan Legian, hampir semua turun tangan. 

Pukul setengah lima , aku meninggal kan lokasi kejadian, dengan badan letih, kumal dan  bekas debu serta  percikan darah korban yang ku bantu dan ku papah. Dalam perjalanan  pulang,  aku bergumam, manusia macam apa yang sanggup membunuh begitu banyak manusia tak tentu pasal nya? Tak jelas sebab nya dan tak tau apa salah mereka?   Seingat ku, Islam mengajarkan tentang persaudaraan kepada semua manusia, tanpa sekat batasan perbedaan suku, agama, ras, warna kulit, dan teritorial kedaerahan.  Jika mereka pemeluk Islam, maka mereka saudara kita se Iman.  Jika mereka bukan pemeluk Islam, maka mereka saudara kita Se Rt, se Rw, se Kelurahan, se Kecamatan, se Kabupaten, se Provinsi, se negara, se tanah air, sebangsa ,!" 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2