Mohon tunggu...
@Arie
@Arie Mohon Tunggu... Orang biasa yang mau berfikir luar biasa. that" ist #email : ari.ponty@gmail.com,

Orang biasa, yang mau berfikir luar biasa. Hobi menulis sejak remaja, sayangnya baru ketemu Kompasiana. Humanis, Humoris, Optimis. Menjalani hidup apa ada nya.@ Selalu Bersyukur . Mencintai NKRI. " Salam Satu Negeri,!!" MERDEKA,!!

Selanjutnya

Tutup

Novel

Frustasi(Eps. 19)

16 September 2019   05:30 Diperbarui: 12 Oktober 2019   15:19 0 4 3 Mohon Tunggu...
Frustasi(Eps. 19)
Image : ohsemmama.com

TRUE Story : dari Kisah, Kusujudkan Cintaku di Mesjid sultan

Bab.VI.hal.1 .FRUSTASI

##, Hidupku habis dijalan, selama masa kegelapan , tahun sembilan belas sembilan puluhan,

Aku mencoba berbagai cara, mencari jalan, untuk sekedar memenuhi kebutuhan ku sendiri. Apa saja yang bisa di pegang, kutangkap. Apa saja yang bisa menghasilkan, kukerjakan. Aku banyak hidup di pasar, bersama teman-teman, siang dan malam.  Teman ku segala lapisan,:  mulai pencopet, penodong, penipu, penjambret, pemabuk, pedagang kaki lima, waria, Psk, tukang catut, makelar tanah, makelar mobil, makelar motor, pedagang asongan, tukang parkir, tukang pukul, preman, penjudi, perek, bandar kolok-kolok, bandar toto gelap, bandar kyu-kyu,:  pokok nya aku bergaul dengan siapa saja, kapan saja dan dimana saja. 


Apa saja pekerjaan yang ditawarkan dan bisa dikerjakan, aku kerjakan. Untuk mencari sekedar sesuap nasi dan sebatang rokok. Aku pernah jadi porter, membantu memikul barang belanjaan orang - orang di sekitar Pasar Tengah dan Parit Besar, Kapuas Indah, Seroja, sepanjang jalan Sultan Muhammad, Pasar Flamboyan, Pasar Mawar atau Pasar Sentral itu. Sepanjang jalan Tanjungpura, dan tempat lainnya. Malam hari kadang aku membantu temanku berjualan nasi, berjualan rokok, berjualan kopi, di lapak atau warung mereka. Sering pula di musim buah durian, aku membantu berjualan durian di Pasar Flamboyan, mulai pukul 4 sore, sampai tengah malam, tak jarang sampai pagi. ( klik disini )

 Aku jadi mirip gelandangan yang jarang pulang ke rumah. Hidupku dari suatu tempat ke tempat lain nya. Kadang aku tidur di rumah teman, kadang dirumah kosong yang kami jadikan markas, gelap tanpa penerangan. Kadang di pos kamling. Kadang dibelakang warung kopi di pinggir jalan. Alhasil, dimana mata mengantuk, disitu aku merebahkan badan. Meski begitu aku tetap menjaga kebersihan badan, dengan mandi setiap pagi dan petang. Dimana saja aku bisa mendapatkan air untuk  mandi. Kadang di sungai Kapuas , WC umum terminal, kamar mandi masjid.  Pakaian ganti kudapat dari pinjaman teman, kadang kami bertukar pakaian, kadang aku pinjam dari mereka, dan mereka juga pinjam pakaian ku. Pakaian dalam sampai kadang seminggu,karena malas mencuci,  habis pakai langsung kubuang dan beli yang baru.  ( lihat disini )

Image :sinarharian.com.my
Image :sinarharian.com.my

Satu hal yang aku temukan hidup di jalanan, rasa solidaritas teman yang begitu tinggi. Mungkin karena kami merasa senasib. Mereka yang bersahabat denganku, bukan hanya orang kere. Ada beberapa temanku yang pakai mobil. Mereka merasa tidak betah dirumah, karena tak ada siapa -siapa disana. Papa sibuk dengan proyek nya. Mama sibuk dengan arisan nya. Sehari hari mereka diurus Bi Inah, yang membesarkan dan merawat mereka sejak  bayi sampai dewasa. jiwa mereka merasa kosong. Mereka merasa hampa. Mereka merindukan kasih sayang orang tua, yang tak mereka dapatkan dirumah. Aku menjadi salah satu tempat curhat mereka. Tak jarang mereka menangis sesenggukan di pundak ku, melepaskan perasaan nya.  ( baca juga )

Dari situ aku belajar, syukurlah, aku dibesarkan dengan kasih sayang penuh dari kedua orang tua kami. Meskipun dalam kondisi sederhana, dan kekurangan materi. Sepanjang perjalanan itu, Satu hal yang tetap ku jaga, aku tidak mau minum minuman keras. Segala bentuk alkohol, ku tolak dengan cara halus.  ( klik link ini )

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
KONTEN MENARIK LAINNYA
x