Mohon tunggu...
Ari Budiyanti
Ari Budiyanti Mohon Tunggu... Guru - *

Sudah menulis 2.291 artikel berbagai kategori (Fiksiana yang terbanyak) hingga 17-09-2022 dengan 1.736 highlight, 14 headline, dan 89.460 poin. Menulis di Kompasiana sejak 1 Desember 2018. (Masuk Kategori 20 Kompasianer Teraktif di Kaleidoskop Kompasiana selama 3 periode: 2019, 2020, dan 2021). Salam literasi

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Haruskah Ku Berhenti di Angka 88088

7 Agustus 2022   08:19 Diperbarui: 7 Agustus 2022   17:46 279 32 10
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Bukan angka kecil menurutku saat ini. Sebuah pencapaian sejarah menulisku di Kompasiana. Angka 88088 sebagai capaian poin fanatik. Haruskah kuakhiri di sini sebuah perjalanan menulis?

Mungkin sudah mencapai batas lelah. Hanya saja tak dirasa karena bahagia. Namun jika akhirnya harus terhenti karena amarah. Rasa kecewa yang merajai hati. Merajalela menutup mata akal pikiran nurani. Mungkin.

40 karya di bulan Juni. 36 karya di bulan Juli. Semua tak mampu menembus sekedar 3000 unique views di sini. Ada rasa aneh mengelilingi hati. Sungguh tak biasa. Mungkin mereka tak lagi mengunjungi karyaku. Meski media sosial telah menjadi tempat utama berbagi semua karya. 

Baca juga: Pudar

Pemuisi ini telah mencapai batasannya dalam berkarya. Pemuisi ini mungkin sedang ingin sendiri. Pemuisi ini mungkin hanya ingin menyepi sendiri. Untuk sesaat. Untuk dilupakan. Untuk pergi ke dunia lain dari untaian diksi yang mulai ditinggal pergi. 

Iya mungkin. Pemuisi ini sedang memikirkan jalan lain menuju perhentiannya yang melelahkan raga.

...

Baca juga: Singgah

Written by Ari Budiyanti

7 Agustus 2022

#PuisiHatiAriBudiyanti

#PuisiBaruAri

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan