Mohon tunggu...
Ari Budiyanti
Ari Budiyanti Mohon Tunggu... Guru - Guru yang suka berpuisi

Sudah menulis 2.311 artikel berbagai kategori (Fiksiana yang terbanyak) hingga 29-09-2022 dengan 1.754 highlight, 14 headline, dan 90.021 poin. Menulis di Kompasiana sejak 1 Desember 2018. (Masuk Kategori 20 Kompasianer Teraktif di Kaleidoskop Kompasiana selama 3 periode: 2019, 2020, dan 2021). Salam literasi

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Pudar

5 Agustus 2022   20:55 Diperbarui: 6 Agustus 2022   05:13 177 26 4
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Iustrasi puisi pixabay.com

Aku sedang terdiam sendiri menatap langit membiarkan angkasa menelan segala pahit. Realita mengguncang sanubari sungguh aku tak dapat lagi.

Bagaimana bisa mereka terus semangat menggoreskan pena sedang aku tidak sama sekali. Rasanya seperti terhempas hingga menghancurkan semangat berkarya.

Bagaimana bisa menerima ini sebagai nyatanya keadaan yang ingin kupungkiri.
Namun bukankah ada tangan-tangan kuat menopang segala kesedihan.

Bahwa sesunggunya terkadang bahagia datang dengan cara tak terduga. Rasa yang menggebu kini sirna ditelan realita yang menyedihkan jiwa.

Baca juga: Singgah

Saat semua berjalan sebagaimana mestinya namun ternyata tak sesuai harap diri. Kini semua telah pudar bahkan keinginanku sudah menguap untuk sekedar menguntai diksi.

Salam pergi dariku yang sudah melihat realita bahwa fiksi karyaku tak mampu lagi menarik untuk dibaca mereka yang bertandang dalam sejenak di rumah besar ini.

Selamat tinggal puisi hati

....
Written by Ari Budiyanti
-#PuisiHatiAriBudiyanti
#PuisiBaruAri

5 Agustus 2022

2-2.258

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan