Mohon tunggu...
Ari Budiyanti
Ari Budiyanti Mohon Tunggu... Guru - A teacher and Writer

Penulis Buku: 1. Jejak Literasi Ari Budiyanti. 2. Bunga-Bunga Puisi Hati. ~ Someone who likes gardening, reading, writing, teaching, singing, and telling story.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Menanti Hujan Tanpa Suara

20 September 2021   23:44 Diperbarui: 21 September 2021   09:28 267 43 8
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Menanti Hujan Tanpa Suara
Foto: iStock/Willowpix via news.detik.com

Pada pagi hari yang memutih di ujung sana. Terlihat jelas rumput-rumput menjebak embun dalam lekukan bak jaring laba-laba. Ternyata itu adalah hasil karya alam pedesaan. Masih dilingkupi hawa dingin dan dipenuhi kesejukan. Di sinilah kampung halamanku.

Petak-petak sawah banyak menghampar di tepian jalan utama. Aliran sungai kecil untuk irigasi sawah masih lancar mengalir. Membuai kenangan atas kisah-kisah di suatu masa. Membuat segala beban hidup tetiba tak terpikir.

Berpuluh tahun telah berlalu dari hari itu. Aku masih bisa mengingat jelas ukiran rasa dalam kalbu. Namun kini tak semua sama lagi. Begitu banyak perubahan jaman memengaruhi. 

Terkadang kemarau panjang seolah merusak segala pemandangan. Semua merasa kepanasan dan tak bisa menahan gerah. Lalu umpatan-umpatan dikemukakan. Menjadi lupa atas berkat-berkat sebelumnya yang diterima melimpah. 

Kemudian alam dalam putaran waktunya menurunkan hujan. Namun para insan telah melupa pada pelestarian hutan. Hingga derasnya air bergemuruh menghujam bumi tanpa mendapatkan tempat persembunyian. Kemarau panjang membuat mereka lupa memperhatikan lingkungan

Lalu luapan air tak jua terbendung. Melewati batas-batas desa dan pemukiman. Tak bisa tersalurkan dengan baik lagi sang tirta dalam deras aliran. Pun angkasa tak jua berhenti dari mendung. 

Pada hujan yang seolah menjadi ancaman di pemukiman, kubisikan aneka kata hati. Maukah kau datang sewajarnya saja. Berkebalikanlah dengan durasi kemarau nan lama. Aku memanti hujan tanpa suara. Berharap tak ada genangan air yang berkepanjangan. 

Mungkin beginilah ketakutan insan pada alam yang tengah marah dalam kecamuk. Seolah tengah mengamuk. Menyisakan bencana yang tak terpungkiri. Sekali lagi karena pada semesta mereka kurang peduli. 

...

Written by Ari Budiyanti

#PuisiHatiAriBudiyanti

20 September 2021

Karya ke 26 bulan September di Kompasiana

Tulisan ke-1755 keseluruhan

Mohon tunggu...
Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan