Mohon tunggu...
Ari Budiyanti
Ari Budiyanti Mohon Tunggu... Membaca, menulis, mendongeng, dan berkebun menjadi kegiatan-kegiatan menarik yang tak henti-hentinya mengisi hari-hari saya. Mari terus menginspirasi sesama dalam karya kita. Salam literasi.

Suka: membaca, mengoleksi buku, menanam bunga, menulis puisi dan kisah lain, mendongeng, dan mengajar.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Merenda Rindu Gegara Mimpi

15 Agustus 2019   21:46 Diperbarui: 15 Agustus 2019   22:44 0 23 10 Mohon Tunggu...
Cerpen | Merenda Rindu Gegara Mimpi
Photo by Ari

"Dara, kira-kira kita lolos ga ya di mata kuliah yang satu ini". Ayu datang dari Laboratorium, selesai menemui asisten dosen. Langsung duduk di hadapan Dara yang sedang menikmati es campur di kantin kampus. Tanpa sapaan, salam atau basa-basi saat baru bertemu layaknya teman yang lain. Ayu dan Dara sudah terkenal sebagai sepasang sahabat karib sejak masuk kuliah semester 1. Ayu langsung mengeluarkan kegalauan hatinya pada Dara setelah menempuh ujian akhir semester mata kuliah Fisika Dasar. 

"Aku kira tadi sudah aku coba kerjakan semaksimal mungkin. Kuperas otakku untuk menyelesaikan soal-soal itu. Tapi aku masih juga tidak bisa. Buntu ide. Yang kupelajari seminggu ini seolah terbang melayang-layang di udara sampai ke langit menyatu dengan awan-awan yang sebentar lagi akan menjadi hujan. Mendung kelabu di langit sana senada dengan hatiku kini." Ayu memang mudah sekali menyatakan isi hatinya pada Dara. Iya sering berlebihan begitu. Dara kadang hanya bisa geleng-geleng dan merespon dengan satu kata "lebay".

Ayu heran, sahabatnya seolah tidak menyadari kehadirannya. Dara memang seringkali berperkara banyak hal di pikirannya sehingga tidak menyadari kedatangan Ayu. Lambaian tangan Ayu pun langsung mengenai sasaran, tepat di depan mata Dara. "Hai Non, jangan melamun ajah, ntar kesambet loh" gerutu Ayu yang kesal karena dipastikan keluh kesahnya tadi itu pasti tak terdengar dengan baik oleh Dara. 

Dara tersentak menyadari lambaian tangan Ayu. "Ayu, udah selesai urusan sama si Ryan?" Dara melontarkan tanya yang mengejutkan Ayu. 

"Ryan..? Ryan yang mana? Aku tidak mengerti yang kau maksudkan. Siapa Ryan itu?" Selidik Ayu penuh heran pada Dara. Keningnya berkerut menandakan seriusnya dan melupakan kekesalannya berganti rasa penasaran. Sahabatnya ini punya kenalan bernama Ryan dan aku tidak tahu selama ini. Pikir Ayu.

" Mmm, Ryan itu ... ah aku juga tidak tahu siapa dia" Dara berusaha menyembunyikan dari Ayu. Jadi tadi Dara sedang memikirkan seorang yang semalam muncul dalam mimpinya. Ryan, kakak kelasnya di SMA dulu. Lama tak bersua. Katanya sih Ryan juga kuliah di kampus yang sama dengannya. Tapi masa iya selama satu semester ini tidak pernah bertemu. Rasanya aneh. 

"Dara, ngaku. Ayo siapa Ryan itu?" Ayu yang melihat gelagat Dara menyembunyikan sesuatu, merasa tidak senang. Sudah jadi kebiasaan dan perjanjian di antara mereka, tidak boleh ada rahasia. 

"Ryan.. aku salah bicara. Maksudku asisten dosen baru itu. Siapa namanya? Brian ya?" Kata Dara mengalihkan perhatian. Dia baru ingat ada asisten dosen baru di laboratorium untuk mendampingi para mahasiswa tingkat 1. 

Ayu masih memincingkan matanya, menandakan masih sangsi kalau Dara salah sebut nama. Tapi terburu Dara melanjutkan. "Bagaimana tadi ujian Fisdas? Bisa?" Mendengar kata Fisdas, Ayu baru ingat kekesalannya lagi. Dicuekin oleh Dara saat tadi datang dan curhat. 

"Tuhkan bener, ga didengerin kan tadi ceritaku, ngelamunin Ryan sih ya" gerutu Ayu kesal. "Maap..." Dara merasa tidak enak, sama sekali tak dengarkan cerita Ayu, bahkan tak menyadari kedatangan Ayu. 

"Biasa, ga bisa lagi. Tahu sendiri kan, kalau udah berkaitan dengan hitung menghitung, rumus-rumus dan mengapilkasikannya, aku jadi mati gaya. Fisdas, Matdas, ah dapat C aja syukur. Aku ga bakal mau ngulang untuk memperbaiki. Asal lolos aja."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
KONTEN MENARIK LAINNYA
x