Mohon tunggu...
Ari Budiyanti
Ari Budiyanti Mohon Tunggu... Membaca, menulis, mendongeng, dan berkebun menjadi kegiatan-kegiatan menarik yang tak henti-hentinya mengisi hari-hari saya. Mari terus menginspirasi sesama dalam karya kita. Salam literasi.

Suka: membaca, mengoleksi buku, menanam bunga, menulis puisi dan kisah lain, mendongeng, dan mengajar.

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Pilihan

Memberi dengan Bijaksana

14 Mei 2019   20:01 Diperbarui: 14 Mei 2019   20:06 0 26 8 Mohon Tunggu...
Memberi dengan Bijaksana
Photo by Ari. Dokumen Pribadi

"Bu, minta uangnya, saya mau pulang ke luar kota tapi kehabisan uang". Seseorang tiba-tiba menghalangi saya berjalan di trotoar dan berdiri tepat di depan saya. Karena kaget dan kasihan, saya spontan memberikan uang yang ada di kantung kemeja saya. Saya tidak ingat jumlahnya. Saya hanya merasa iba, ada Ibu-ibu sudah lanjut usia kehabisan uang tak bisa pulang di kota besar Surabaya. 

Ini adalah cuplikan kisah kehidupan saya lebih dari 10 tahun silam. Saat saya masih bekerja menjadi guru di Surabaya. Sedikitpun saya tidak pernah berpikir apakah si Ibu ini bohong atau tidak. Saat itu saya ingin memberi saja. 

Pengalaman di area halte Trans Jakarta beberapa tahun lalu. Di kawasan Halte Semanggi Jakarta, ada seorang bapak yang kesulitan berjalan lalu berusaha menyapu bagian jembatan penyeberangan sebelum masuk halte trans Jakarta. Lalu bapak ini menyodorkan tangannya meminta uang. Bukan hanya kepada saya. Tapi pada orang lain yang lewat di situ. Karena saya pas tidak pegang uang, tapi bawa roti yang baru saja saya beli, saya langsung spontan kasi aja roti itu. Saya kaget, pemberian saya ditolak bahkan bapak ini sempat menunjukkan rasa kesal pada saya. Meski tidak ada ucapan apa-apa. Dan sampai sekarang saya tidak paham mengapa pemberian roti saya di tolak. Jadi seandainya saya lewat lagi di situ, saya ingat si bapak ini, lalu sudah saya siapkan uang untuk saya berikan pada bapak penyapu ini. Walaupun saya jarang-jarang lewat situ.

Pemnadangan Halte Trans Jakarta dari Plaza Semanggi. Photo by Ari
Pemnadangan Halte Trans Jakarta dari Plaza Semanggi. Photo by Ari
Kejadian lainnya, masih di area jembatan penyeberangan tapi di depan pintu Gading Serpong Tangerang. Ini juga terjadi beberapa tahun lalu. Saat saya lewat di situ, saya dapati ada ibu-ibu bawa anak kecil sedang duduk meminta uang ke pejalan kaki yang lewat menyeberang.

Saya baru saja beli kemasan susu cair sekali minum dua rasa cokla dan strawbery. Juga ada sebuah jeruk yang saya satukan dalam plastik kecil. Spontan saja, melihat anak kecil itu, saya memberi dia satu kemasan susu cair itu dan juga jeruknya. Si anak menerima dengan senang. 

Tapi di waktu lainnya, kalau lewat di tempat itu, saya ya lewat saja. Meskipun kadang masih ada ibu-ibu yang minta-mintabuang dengan wajah memelas, kadang saya juga tidak selalu memberi. Apalagi saat saya sedang kelelahan dan bawaan barang saya banyak. 

Di satu kesempatan lainnya. Di kawasan jalan Kelapa Dua, ada seorang berkostum badut lucu menggandeng seorang anak kecil dan langkahnya sangat pelan. Badut ini memakai topi penutup bentuk kepala burung. Jadi tidak ketahuan siapa yang ada di balik kostum tersebut. Saya tidak memberikan uang kalau pas berpapasan. Sampai suatu ketika,saya naik angkot dan tanpa sadar saya melihat kedua orang tersebut sedang duduk beristirahat kelelahan. Topi penutup dibuka. Saya kaget sekali, beliau seorang nenek lanjut usia. Pantas sekali jalannya pelan. Sejak saat itu, kalau saya lihat mereka berdua pas lewat jalan Kelapa Dua, malah kadang saya kejar untuk saya kasi uang. Tentu saja saya masukan ke dalam kotak yang mereka bawa. Itu beberapa saja pengalaman saya dengan orang-orang yang saya temui di pinggir jalan. 

Pengalaman lainnya, dalam kendaraan umum, mulai dari angkot, bus umum sampai kereta api. Saya permah ada pada masa memberi untuk jaga-jaga agar tidak disakiti. Maksudnya begini, dalam perjalanan ke Surabaya naik kereta api ekonomi, dulu masih banyak pengamen dan penyapu gerbong kereta yang meminta uang. Ada kawasan tertentu yang pengamennya cukup kasar dan galak. Kalau tidak diberi bisa mengancam atau memberi umpatan-umpatan kasar. Saya tahu, saya siapkan uang receh banyak hanya demi tidak disakiti pengamen-pengamen di kereta api. Mana saya perempuan, sering bepergian sendiri kalau ke Surabaya. Jadi untuk keamanan sendiri, itu cara yang saya ambil. Memang terkesan saya memberi tidak dengan ikhlas ya. Tapi ini pernah saya lakukan. Tapi saya sudah lama sekali tidak naik kereta api ke Surabaya. Apakah fenomena ini masih ada atau tidaknya, saya tidak tahu. Mungkin dengan peningkatan pelayanan Kereta Api, sempat saya dengar, para pengamen tidak diijinkan lagi masuk ke dalam kereta api. 

Pengalaman lainnya di kampung semasa kecil saya. Orang yang meminta-minta biasanya berkeliling dari toko ke toko. Apalagi letak warung makan kakek dan nenek saya berdekatan dengan stasiun dan juga pasar.sudah pasti sangat ramai. Hari Sabtu saat pasar paling ramai, para peminta-minta ini pun semakin banyak. Bisa berselang 15 menitan. Kadang sampai almarhum nenek saya berujar, "yah datang lagi yang lainnya (peminta-minta)".  Tapi tetap saja nenek saya sudah sediakan uang untuk diberikan. Katanya berbagi sedekah. Kakek saya juga sama. 

Lalu naik angkot, biasanya ada pengamen yang sengaja duduk dekat pintu masuk angkot, dan menyanyi dengan suara seadanya. Lalu diakhiri dengan minta uang. Ada pula anak kecil yang duduk membagikan amplop untuk diisi uang dan dikumpulkan lagi. Ada kalanya saya memberi, ada kalanya juga tidak. Kadang-kadang saya masih mengikuti dorongan dalam hati saya saja. Kalau pas ingin memberi ya saya beri, kalau tidak, ya tidak memberi.

Itu beberapa kisah saya berkaitan dengan berbagai fenomena yang ada, yang saya pernah alami sendiri. Lalu mengenai hal pro dan kontra memberi sedekah di jalan raya ini, saya juga tidak akan saklek pada keputusan pro atau kontra. Kalau saya mau memberi ya saya beri. Kalau saya rasa tidak ingin memberi ya tidak saya lakukan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x