Mohon tunggu...
Aribah Sofia Syah
Aribah Sofia Syah Mohon Tunggu... Lainnya - Nonton is passion

Seseorang yang suka menonton untuk merefresh pikiran

Selanjutnya

Tutup

Financial Pilihan

Pandemi bagi Kami, Pedagang Kecil

12 Mei 2020   19:13 Diperbarui: 12 Mei 2020   19:11 168
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Johor Plaza, Jember, Jawa Timur--dokpri

"When the World is running down, you make the best of what's still around. The key to overcome crisis is patience, courage, adaptation, and alertness" --Sting dan A. Ray.

Virus corona, adalah dua kata yang terasa tak asing lagi bagi setiap indera manusia. Telinga yang selalu mendengar kabar yang tidak seimbang antara kematian dan harapan hidip, bibir dan lidah yang bersatu untuk terus berkabar dan berucap akan ganasnya virus Corona ini, Mata yang hanya haru melihat keadaan yang diluar nalar, dan sebagainya. Sebagai manusia yang hakikatnya adalah makhluk sosial dan homoeconomicus, keadaan ini menjadi beban bagi sebagian lapisan masyarakat. Keadaam ini berangsur cukup lama dan berdampak di berbagai bidang kehidupan manusia terutama ekonomi.

Kebijakan physical distancing, dirumah saja, dan PSBB, ini sangat sekali menghawatirkan bagi setiap pedagang  terutama pasar tradisional. Miris sekali saat melihat beberapa pedagang ketika dagangannya jauh dari kata laku. Bagaimana nasib mereka yang mengambil laba tidak banyak dan hanya untuk menyambung hidup? Apa saja dampak yang dirasa oleh pedagang ketika dihimbau untuk Work From Home?

Menurunnya Pemasukan karena Pandemi

Himbauan physical distancing dan WFH terasa sangat meresahkan tidak hanya bagi pedagang. Bagaimana nasib mereka rakyat kecil yang harus bekerja di luar? Beberapa pedagang kecil termasuk di kota Jember mengalami pemasukan yang anjlok dikarenakan PSBB. Dalam sehari bahkan mereka tidak mendapatkan penghasilan. Penurunan pengunjung terjadi di pasar tradisional setelah ada himbauan PSBB sangat terlihat. "Hari ini sepi sekali, padahal hari Minggu, mungkin orang-orang sedang takut dengan corona. Syukur jika saya bisa memberi makan keluarga," saut Pak Rit, salah satu pedagang pindang di pasar tradisional kota Jember.

Bulan ramadhan menjadi bulan penuh harap bagi para pedagang. Biasanya para pedagang di pasar tradisional mendapatkan keuntungan dua kali lipat karena daya beli yang bertambah pada bulan suci ini. Namun tidak dengan sekarang, mereka berharap pandemi ini cepat berakhir dan dapat terus menyambung hidup dengan cara berjualan langsung tanpa adanya larangan berjarak.

Kesulitan Mencari Bahan Baku

Bagi pedagang kaki lima kekhawatiran terjadi ketika akan terjadi lonjakan harga sembako. Banyak toko bahan baku tutup karena takut tertular virus corona. Efek domino terjadi dalam rantai perekonomian. Banyak kegiatan ekonomi yang terhambat dalam memproduksi atau pun yang lain. Ketika biaya produksi tinggi karena susah dicari hal ini akan berdampak pada tingkat penjualan yang akan menurun.  

Tidak sedikit masyarakat Indonesia mengalami kesulitan ekonomi karena kehilangan pekerjaan dan hal ini berdampak pada perekonomian negara yang semakin menurun.

Memahami arti bersyukur

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Financial Selengkapnya
Lihat Financial Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun