Politik

Pengakuan Al Khathath, Buka Tabir Kepentingan Aksi Demo 212 Lalu

12 Januari 2018   17:43 Diperbarui: 12 Januari 2018   17:45 5727 1 0

Sekjen Forum Umat Islam (FUI), Al-Khathath ikut hadir dan berbicara saat La Nyalla Mattalitti menggelar jumpa pers mengenai "uang mahar" oleh Partai Gerindra, Kamis kemarin (11/1).

Ia prihatin sekaligus kecewa dengan sejumlah partai yang dinilainya "membela" Islam, ternyata membelot dari aspirasi umat Islam.

Sekjen Forum Umat Islam (FUI) itu menyebutkan bahwa Gerindra, PAN dan PKS tidak mendengar aspirasi umat di daerah dalam Pilkada serentak 2018 ini.

Pasalnya, ketiga partai tersebut menolak lima kader Alumni 212 untuk bertarung dalam Pilkada serentak tahun ini. Padahal, Presidium Alumni 212, menurut Al Khathtath, telah mengirimkan surat secara khusus saat pimpinan ketiga partai tersebut berembug menentukan calon kepala daerah.  

Hal itu tentu mengundang kekecewaan, karena menurut Al Khathath, para ulama itu sudah memperjuangkan dengan pengerahan Aksi Bela Islam 212 yang sangat fenomenal.  Selain itu para ulama juga sudah berhasil memunculkan Gubernur Anies-Sandi di Jakarta.

Pengakuan Al Khathath di atas tentu membuka tabir pada kita semua. Bahwa gerakan demo berjilid 411 dan 212 dua tahun lalu, ternyata bukan untuk tujuan agama semata. Melainkan hanya demi tujuan memenangkan calon dari poros Gerindra-PKS-PAN.

Hal itu tentu sebuah pembohongan publik. Karena selama ini digembor-gemborkan bahwa aksi 411 dan 212 merupakan aksi membela agama.

Itulah yang dinamakan politisasi agama. Yaitu, penggunaan simbol, ritus, maupun sentimen agama untuk kepentingan mobilisasi politik. Massa "ditipu" dengan jargon agama, namun sebenarnya itu untuk kepentingan politik.

Efeknya adalah adu domba antar masyarakat dengan isu agama dan tersebarnya kebencian pada sesama warga. Hal itu tentu merupakan cara politik kotor yang minim etika.

Ketiga partai di atas (Gerindra, PKS, dan PAN) berhasil menggunakan strategi politisasi agama tersebut di Jakarta, dan hasilnya calon mereka dapat memenangkan pemilihan kepala daerah. Tak menutup kemungkinan mereka akan menggunakannya di daerah lain.

Begitulah bila nafsu berkuasa telah mengalahkan nalar kebangsaan. Mereka reka mengorbankan persatuan dan kesatuan bangsa dan negara ini hanya untuk kepentingan kekuasaan yang sempit.

Ke depan, mari kita mawas diri. Kita perlu berpikir jernih. Jangan sampai kita ditipu lagi oleh para begundal politik itu dengan bujuk rayu isu agama atau isu lainnya.

Mari kita jaga rumah bersama Indonesia Raya ini.