Mohon tunggu...
Ariana Maharani
Ariana Maharani Mohon Tunggu... Dokter - MD

Pediatric resident and postgraduate student of clinical medical science at Universitas Gadjah Mada, Instagram: @arianamaharani

Selanjutnya

Tutup

Healthy Artikel Utama

Stereotip Beban Kerja Tenaga Kesehatan di Puskesmas

4 Agustus 2022   21:06 Diperbarui: 5 Agustus 2022   04:47 1113
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Petugas mendisinfektan ruangan di salah satu puskesmas di Tangerang Selatan, Banten, yang dijadikan sebagai tempat transit pasien Covid-19, Sabtu (23/1/2021)

Refleksi Dokter Internship Puskesmas - Bagian Pertama

Sudah hampir tepat setengah jalan alias tiga bulan lamanya saya ditempatkan di Puskesmas sebagai dokter internship di Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan, dari total enam bulan. 

Enam hari kerja dalam seminggu yang terdiri atas kombinasi dari jadwal jaga pagi dan jadwal jaga malam yang bahkan tak pernah saya kira sebelumnya mengingat selama ini hanya mengantongi pengetahuan bahwa hanya rumah sakit lah satu-satunya tempat yang menyediakan pelayanan rawat inap dan dengan begitu hanya rumah sakit yang terdapat jadwal jaga malam. 

Berbagai pengalaman telah saya peroleh walau hanya dalam waktu yang sangat singkat, ditambah dengan pengetahuan dan keterampilan yang telah dibagikan oleh dokter-dokter dan perawat-perawat senior di Puskesmas ini, serta kesempatan untuk memahami tantangan di dunia kerja yang sebelumnya tak pernah saya pelajari di bangku kuliah, yakni tantangan untuk memahami berbagai variasi sikap kolega kerja yang berguna untuk kehidupan kerja saya setelah menyelesaikan internship ini.

Beban Kerja Tenaga Kesehatan di Puskesmas

Stereotipe jika tenaga kesehatan di Puskesmas adalah tenaga kesehatan yang ingin memiliki banyak waktu santai, saya pikir adalah stereotipe yang salah. 

Setelah ditempatkan di Puskesmas, saya mempelajari tidaklah benar semisal untuk menghakimi bahwa tenaga kesehatan di tempat A lebih santai daripada tempat B. 

Setiap tempat memiliki positif dan negatif yang saling menyeimbangkan. Mungkin benar jika kasus-kasus penyakit di Puskesmas adalah kasus-kasus santai sehingga tak memerlukan penanganan ekstra, jika sudah di luar kendali alias di luar kompetensi, dapat langsung dirujuk ke tingkat yang lebih tinggi (namun tentu dengan penanganan awal terlebih dahulu). 

Tapi dengan bekerja di Puskesmas kita menyepakati bahwa kita tak hanya bekerja untuk melayani pasien-pasien di poli rawat jalan saja maupun rawat inap, namun juga untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat yang bersifat promotif preventif semisal melalui promosi kesehatan, skrining kesehatan, imunisasi, yang tak hanya menguras tenaga saat harus mendatangi satu desa ke desa lainnya sambil menenteng tas berisi alat-alat pemeriksaan tanda-tanda vital maupun tas berisi kit antropometri, namun juga menguras pikiran saat harus membuat laporan pertanggung jawaban terkait bagaimana capaian dan kaitannya dengan standar pelayanan minimal yang telah disyaratkan untuk masing-masing program. 

Selain itu, tak jarang kita mendengar bahwa Puskesmas tak memiliki jumlah tenaga kesehatan yang sesuai dengan jumlah ideal yang dipersyaratkan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun