Mohon tunggu...
ARI ISWAHYUDI
ARI ISWAHYUDI Mohon Tunggu... Guru - INFULANCER PSIKOLOGI AND TEACHER OF SPECIAL NEED STUDENT

PSIKOLOGI, EDUCATION,RELIGION,CHILD AND LIFE

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Begini Terapi Anak yang Mengalami Terlambat Bicara atau Speech Delay

12 Oktober 2021   09:13 Diperbarui: 14 Oktober 2021   08:16 149 1 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Sumber Gambar : Popmama.com

Sebagai orang tua pasti akan merasa khawatir ketika perkembangan bicara pada anak mereka masih belum sesuai dengan umur anak. 

Namun tahukah ayah dan bunda banyak sekali faktor yang dapat menyebabkan terlambat bicara seperti adanya gangguan pada pendengaran, kesulitan dalam mengekspresikan kata, gangguan pada organ oral, gangguan fungsi intelegensi, pola asuh yang salah dan lain-lain.

Ada beberapa terapi  yang dapat dilakukan untuk mengatasi keterlambatan bicara pada anak. Salah satunya adalah dengan mengunakan terapi verbal behaviour. Verbal behaviour digagas oleh tokoh psikologi behaviour B.F Skinner. 

Skinner berpendapat bahwa kemampuan berbahasa adalah prilaku yang dapat diajarkan  dan dibentuk sepertihalnya sebuah prilaku. Fokus pada terapi verbal behaviour adalah bahwa yang diperhatikan tidak hanya pada apa yang dikatakan oleh anak, tetapi juga alasan anak menggunakan kata tersebut.

Pada terapi verbal behaviour mengajarkan anak untuk berlatih cara berbicara secara ekspresif dan reseptif. Dimana cara melatih  bicara ekspresi ini dibagi menjadi beberapa komponen yaitu:

  1. Mand. Berasal dari kata demand yang berarti meminta. Cara berlatihnya adalah anak disodorkan sebuah benda yang sekiranya menarik minat anak, misalnya adalah kue, kemudian kita lihatkan didepan mata anak, kemudian kita lihat respon anak. Apabila anak terpancing maka ia akan otomatis terdorong untuk memintanya, dengan mengatakan kue. atau jika anak masih kesulitan mengatakannya bisa kita beritahu bahwa itu bernama kue dan kemudian anak diminta untuk mengulangi. Setelah itu berikan kue itu pada si anak. Jika hal ini dilakukan secara berkala maka anak akan terlatih untuk mengutarakan sesuatu yang ia inginkan.
  2. Tact, yaitu kemampuan malebel sesuatu yang anak lihat, dengar, cium, rasa atau raba oleh panca indra mereka. Caranya adalah kita berikan sebuah stimulus pada indra mereka, ketika anak merasakan apa yang kita stimuluskan, coba lihat respon verbal mereka, Secara otomatis anak akan mengucapkan apa yang ia rasakan. Jika anak masih kesulitan mengutarakan atau mengidentifikasi, kita bisa memancing dengan bertanya "apa yang kamu lihat ?" atau "apa yang kamu rasakan?". Namun jika anak belum mengerti, kita bisa memberi tau namanya kemudian anak diminta untuk mengulangi beberapa kali. Ketika anak menjawab dengan benar beri ia pujian seperti “pintar atau hebat”. Berlatih secara konsisten akan membuat anak peka pada panca indra dan anak akan berlatih mengutarakan apa yang sedang ia rasa.
  3. Echoic, yaitu mengimitasi suara atau kata yang sama persis dengan yang baru di dengar. Caranya adalah anak disuruh mengikuti perkataan kita. Misalnya “nak tirukan suara ibu ya, mobil..”. kemudian anak harus menirukan suara mobil sama seperti yang kita ucapkan. Ketika anak merasa kesulitan atau artikulasi yang ia ucapkan tidak sesuai, maka kita bantu dengan pelan-pelan dua suku kata seperti mo-bil dengan artikulasi kita yang jelas, kemudian menyuruh anak mengulangi beberapa kali . Ketika anak menjawab dengan benar beri ia pujian seperti “pintar atau hebat”. Latihan ini sangat berguna agar artikulasi bicara anak menjadi baik dan jelas.
  4. Intraverbal, yaitu memberikan pertanyaan sederhana pada anak atau melakukan percakapan sederhana dengan anak. Contohnya anak diberi pertanyaan “nak mata untuk apa ?” maka anak akan menjawab “melihat”. Berikan pertanyaan yang sekiranya anak mengerti dengan apa yang kita tanyakan dan ketika anak menawab dengan benar beri mereka pujian seperti “pintar atau hebat”.

Sedangkan terapi verbal behaviour dengan cara melatih kemampuan bicara reseptif pada anak adalah dengan:

  1. Imitation yaitu kamampuan meniru. Dimana anak dilatih untuk meniru setiap gerakan kita. Contohnya kita berkata “tiru” kemudian kita memegang kepala. Kemudian kita lihat respon anak apakah meniru yang kita lakukan. Ketika anak meniru sesuai dengan yang kita lakukan maka beripujian dengan berkata “pintar atau hebat”. Berlatih kemampuan ini akan membuat anak belajar memahami informasi yang didapat dan menjalankan informasi tersebut.
  2. Listener responding skill, yaitu kemampuan mengikuti intruksi dari orang lain. Contohnya adalah anak diberikan sebuah perintah sederhana semisal “ambil sepatu itu !”. kemudian kita lihat respon anak. Jika anak memahami dan menjalankan perintah kita, maka kita beri pujian seperti “terimakasih, kamu pintar”. Namun ketika anak masih kebingungan maka kita berikan pemahaman lagi dengan intruksi yang lebih sederhana dan dapat dipahami anak. Berlatih kemampuan ini secara berkala akan melatih kemampuan anak mengolah informasi yang ia dapat.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Edukasi Selengkapnya
Lihat Edukasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan