Mohon tunggu...
Rafli Siru
Rafli Siru Mohon Tunggu... suka minum kopi, makang pisang goreng, suka bajalang deng suka pa ngana.

ig: raflisiru

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

The Good Samaritan, "Sitou Timou Tumou Tou" dan Covid-19

30 Juni 2020   12:44 Diperbarui: 30 Juni 2020   13:05 76 1 0 Mohon Tunggu...

Wabah Corona Virus Disease (baca: COVID-19) kini menjadi realitas sosial yang dihadapi masyarakat dunia, khususnya Negeri Indonesia tercinta.

Pada Sabtu (27/06), bahkan terjadi rekor baru tambahan kasus harian, yakni 1.385 kasus baru. Sehari kemudian pada hari Minggu (28/06), ada tambahan 1.198 kasus baru dan pada hari Senin (29/06) ada 1.082 kasus baru sehingga total jumlah warga Indonesia yang positif virus corona tembus 55.092 orang. Dari jumlah itu, 23.800 orang dinyatakan sembuh dan 2.805 orang meninggal. Di tengah terus bertambahnya kasus, Presiden Joko Widodo mengatakan, "Jangan sampai kita masih merasa normal-normal saja, berbahaya sekali." (1)

Tidak dipungkiri bahwa dengan beredarnya kabar virus corona yang telah menjangkiti Indonesia berdampak pada sikap masyarakat yang menjadi lebih over-protektif terhadap lingkungan sekitarnya. Ketakutan terhadap virus corona akan memberikan pengaruh terhadap sikap sosial masing-masing individu. Kita akan lebih mudah menaruh curiga pada orang yang batuk, bersin, atau terlihat pucat di sekitar lingkungan kita.

Kita akan lebih cenderung memutuskan menjauh ketimbang menanyakan kabar atau sekadar menunjukkan bentuk kepedulian kecil lainnya. Asumsi-asumsi ini sifatnya memang masih spekulatif, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa ancaman virus corona ini tidak hanya akan merenggut kesehatan seseorang tetapi juga merenggut rasa sosial kita terhadap sesama.

Ketidakmampuan kita dalam mengelola rasa curiga, takut, sikap over-protektif dalam merespons isu corona ini memiliki potensi untuk merusak hubungan sosial dengan individu lain. Apalagi, jika kita hidup dan aktif dalam lingkungan pergaulan di kantor, sekolah, masyarakat, bahkan keluarga.

Adalah hal yang manusiawi ketika kita mulai memberikan respons antisipatif dalam melihat situasi. Namun, ada etika sosial yang perlu dijunjung tinggi dan dipelihara agar hubungan dengan sesama tetap terjaga.

Wabah corona menjadi ketakutan kita bersama. Namun, jangan sampai wabah ini merenggut cara kita memanusiakan sesama. Selain mengedepankan aspek materiil seperti menjaga perilaku hidup sehat, mengenakan masker, berolahraga rutin, dan asupan bergizi, aspek non materiil juga perlu dipelihara seperti etika sosial kita terhadap sesama yang tercermin dari sikap peduli, saling pengertian, dan aware dengan lingkungan sosial kita. 

Berawal dari prasangka, akhirnya dapat muncul sikap diskriminasi. Sikap diskriminasi yang paling nyata terjadi berupa kekerasan simbolik. seperti tidak mau menolong orang lain secara kontak fisik langsung dengan orang yang diduga terjangkit virus corona.  Corona mungkin bisa merenggut nyawa manusia, tetapi ada satu hal yang tidak bisa direnggut olehnya; kemanusiaan. (2)

Seperti cerita tentang "perumpamaan orang Samaria yang baik hati" (baca: The Good Samaritan) memberikan gambaran jelas tentang bagaimana seharusnya manusia itu memandang manusia lain. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan berarti memandang tinggi kemanusiaan melampaui berbagai macam batasan-batasan seperti perbedaan suku, ras dan agama. Semua manusia sebagai manusia sama deratnya, dengan demikian bahwa segala bentuk diskriminasi berdasarkan bangsa, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, suku, perbedaan pendapat, kelompok, golongan dan sebagainya itu seharusnya tidak ada. (3)

Pemahaman tentang kisah "The Good Samaritan" dibungkus dalam bahasa yang lebih sederhana, agar senantiasa ringan tangan membantu sesama yang tengah membutuhkan bantuan, yang tengah dalam kesusahan, yang tengah dalam penderitaan, yang tengah dirundung kemalangan tanpa perlu melihat siapa mereka.

Sama halnya seruan dari Dr. G.S.S.J Ratulangi tentang "Manusia Hidup untuk Memanusiakan Manusia yang lain" (baca: Sitou Timou Tumou Tou), kata-kata yang sangat luar biasa untuk rakyat Minahasa bahkan untuk bangsa Indonesia, dan memang dari dulu rakyat Minahasa telah kenal dan kental dengan budaya mapalus atau bergotong royong yang pada dasarnya adalah cara hidup rakyat Minahasa memang sudah seperti itu.  (4)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN