Mohon tunggu...
Arifin Sultan
Arifin Sultan Mohon Tunggu... Freelancer - Pegiat Ekonomi Kreatif

Entrepreneur

Selanjutnya

Tutup

Sosok Pilihan

Bobby Nasution, Anak Muda, dan Semangat Kewirausahaan

12 Maret 2020   17:20 Diperbarui: 12 Maret 2020   17:15 147
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia, ibu kota Sumatera Utara ini memiliki potensi menjadi kota yang jauh lebih maju. Kota Medan yang multikultur dan multietnis juga menjadi potensi sosial budaya dan sosial ekonomi tersendiri karena melahirkan berbagai peluang wisata, jasa, bisnis dan berbagai atraksi menarik lainnya.

Selama ini Kota Medan menjadi penopang ekonomi, tak hanya di Sumatera Utara, namun juga provinsi-provinsi sekitarnya. Saya melihat, jika mengacu potensi ekonomi Kota Medan yang sangat baik, maka salah satu aktivitas yang tetap relevan dengan karakter, posisi, dan prospek Kota Medan adalah entrepreneurship atau kewirausahaan.

Terutama pada era sekarang ini terdapat kebutuhan yang tinggi untuk mencetak semakin banyak pelaku wirausaha baru. Memang kebutuhan usahawan baru ini tak hanya untuk Medan, namun juga di berbagai kota di Indonesia. Medan menjadi penting karena sebagai kota terbesar di Pulau Sumatera, Medan memiliki pengaruh sebagai kota terbesar yang berada di titik terdepan Indonesia bertetangga dengan Singapura, Kuala Lumpur, Bangkok, dan kota-kota utama di Selat Malaka lainnya.

Pertanyaannya adalah bagaimana peluang untuk menjadi seorang wirausaha di Medan? Adakah kemudahan dan kebijakan khusus yang diberikan agar seseorang bisa menjadi wirausahawan baru? Untuk menjawab pertanyaan ini ada sejumlah pengalaman yang bisa jadi merupakan jawabannya.

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan Iqbal, seorang pengusaha muda yang menggeluti usaha mebel dan kayu. Iqbal bercerita tentang lika-liku menjadi seorang pengusaha di Kota Medan. Awal membuka usahanya Iqbal mengaku lancar-lancar saja. Dia bermimpi mengembangkan usahanya lebih besar dengan mencoba meminjam modal dari salah satu bank. Sayangnya, bank tersebut menolak lantaran Iqbal belum memiliki ijin usaha.

Iqbal pun bingung bagaimana caranya mengurus ijin usaha karena belum banyak informasi terkait hal tersebut di Kota Medan. Ternyata, Iqbal tidak sendirian karena ada sejumlah pengusaha mengalami hal serupa. Tidak adanya ijin usaha membuat mereka harus "gigit jari" karena permohonan peminjaman uang dari bank ditolak.

Selain soal modal, saya bertanya kepada Iqbal, apa ada masalah lain yang dihadapi pengusaha di Kota Medan. Menurut Iqbal, banyak pengusaha di Kota Medan tidak berkembang dan tidak jarang harus "gulung tikar" karena tidak punya pemahaman yang baik dalam berwirausaha. Iqbal menjelaskan, kurangnya pelatihan dan bimbingan, baik untuk pengusaha baru maupun pengusaha yang sudah menjalankan usahanya sangat diperlukan.

Padahal menurut Iqbal, pelatihan dan bimbingan kepada pelaku usaha bisa meningkatkan kualitas dan meningkatkan penjualan produk. Beberapa pelatihan yang diperlukan seperti pelatihan digital marketing, packaging, pelatihan mengelola keuangan, dan lain sebagainya. Alhasil, selama ini, para pengusaha hanya mendapatkan bimbingan, pelatihan, dan sharing informasi terkait kewirausahaan dari beberapa diskusi dan workshop yang diadakan oleh perorangan saja, bukan dari kebijakan pemerintah setempat.

Dari cerita Iqbal ini, terutama soal diskusi dan workshop, saya teringat pengalaman datang ke acara diskusi bertema kewirausahaan di Kopi Jolo, Jalan Cik Ditiro, Kota Medan. Acara ini dihadiri beberapa pengusaha di Kota Medan dan beberapa narasumber. Dari narasumber yang hadir, ada satu yang mencuri perhatian saya. Dia adalah Muhammad Bobby Afif Nasution.

Pengusaha muda ini biasa dipanggil Bobby Nasution. Belakangan ini, Bobby menjadi perbincangan warga Kota Medan karena niatnya mencalonkan diri sebagai Wali Kota Medan. Tentu, majunya Bobby tidak lepas dari rekam jejak dan pengalamannya dalam membangun bisnis. Ia bisa dibilang sukses dalam menjalankan usahanya di bidang properti. Di forum diskusi itu, Bobby yang lahir 5 Juli 1991 ini bercerita bahwa memulai usaha saat berusia 20 tahun. Usia yang sangat belia dalam belantara bisnis yang tak mudah.

Bisnis properti yang dijalani Bobby dilakukan mulai dari skala terkecil. Di tahun 2011, suami Kahiyang Ayu ini memulai usahanya dengan membeli rumah kemudian merenovasinya. Hasil rumah yang sudah direnovasi itu kemudian dijual kembali. Begitu seterusnya hingga bisnis propertinya meluas dan besar. Bobby mengaku, tidak mudah dalam menjalankan usahanya karena terjadi pasang-surut dalam menjalankan perusahaannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosok Selengkapnya
Lihat Sosok Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun