Mohon tunggu...
Mbah Ukik
Mbah Ukik Mohon Tunggu... Buruh - Jajah desa milang kori.

Wong desa

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Aku bakal Bali (Aku akan Pulang)

13 Mei 2021   22:15 Diperbarui: 13 Mei 2021   22:16 326
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Mak, wis telung pendak aku bara ing kene, kutha gedhe sing dakkarep bisa mulyakake uripku. Nggawa pakeyan sakpengadeg aku budhal sangu pandongamu bebarengan tumetese  waspamu kaya lakune menda sing dakangon menyang ara-ara aku jumangkah nglakoni urip.  
Telung sasi aku keranta kelangan daya sanajan ngupaya mung kanggo mangan sanalika.

Mak, aja gela yen aku isih ngumbara ing panase kutha kang kaya naraka. Sanajan ta aku keranta ora nganti laku durjana. Tetesing waspamu sing tansah nyegerake atiku nglakoni urip iki turu pinggir rel adol rosokan.

Mak, wis telung pendhak aku mung bisa titip pawarta Kang Jono durung bisa bali riyaya iki.
Mak, muga telung sasi ngarep aku bisa ngancani bapak buruh macul utawa mbrujul.
Mak, entena. Aku bakal bali.

Bahasa Indonesia.

Mak, sudah tiga tahun aku merantau di sini, kota besar yang kuanggap bisa membuatku sejahtera.
Membawa sepasang pakaian dan bekal doamu seiring tetesan airmatamu, aku melangkah pelan menjalani hidup ini seperti kambing yang kugembalakan di padang rumput.
Tiga bulan hidupku sangat tersiksa seakan kehilangan daya, walau hanya sekedar mendapat sesuap nasi.

Mak, janganlah kecewa jika aku masih mengembara di teriknya suasana kota yang seperti neraka. Namun tak pernah aku berlaku durjana sekali pun hidup sengsara. Tetesan airmatamu yang selalu menyegarkan hatiku menjalani kehidupan ini walau hanya menjual barang rongsokan di pinggir rel.

Mak, sudah sudah tiga tahun aku hanya bisa titip kabar lewat Kang Jono belum bisa pulang lebaran ini.
Mak, kuharap tiga bulan lagi aku bisa menemani bapak menjadi buruh mencangkul atau membajak sawah.

Mak, tunggulah. Aku akan pulang. 

Keterangan :

Mak : Bu (panggilan untuk ibu)

Durjana : pencuri

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun