Mohon tunggu...
Mbah Ukik
Mbah Ukik Mohon Tunggu... Buruh - Jajah desa milang kori.

Wong desa

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Herodes dan Para Pengkotbah Natal

24 Desember 2019   23:29 Diperbarui: 25 Desember 2019   23:47 135
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber: paroki_sragen.or.id

Empat minggu menjelang natal bagi umat kristiani merupakan masa penantian kelahiran Kristus, di mana setiap pribadi mempersiapkan diri dengan lebih banyak membaca Alkitab dan berdoa baik secara pribadi maupun kelompok.

Serta memperbanyak melakukan kebaikan, termasuk di antaranya mati raga dengan menyisihkan sebagian dari karunia yang ia terima dengan apa yang disebut Aksi Natal.

Aksi Natal ini dikumpulkan ke gereja menjelang Natal tiba dan akan dibagikan kepada mereka yang membutuhkan. Sehingga kemeriahan bukan hanya bersifat profan atau duniawi seperti halnya sebuah keluarga yang akan menyambut kelahiran seorang bayi atau anak tetapi juga menyambut dengan hati bersih.

Maka tak heran jika menjelang natal ada banyak kegiatan rohani bagi umat kristiani seperti rekoleksi dan retreat, di mana umat diajak merenung atau kontemplasi diri dengan bimbingan dari biarawan, imam, tokoh agama, dan rohaniwan.

Hebatnya, selama lebih dari 35 tahun ini, apalagi sejak ada media sosial kemeriahan ini semakin nyata sejak masa sebelum Adven. Bahkan kotbah-kotbah, bukan renungan, sudah gencar dikumandangkan. Tetapi bukan oleh tokoh agama, biarawan, dan rohaniawan Kristiani sendiri namun dari tokoh agama lain atau dari mereka yang merasa dirinya paham tentang agama yang dipeluknya.

Media sosial, mulai dari tweeter, WA, dan facebook, apalagi youtube hampir setiap menjelang natal  selalu berseliweran kotbah-kotbah ini. Pengkotbahnya pun mulai dari tingkat RT sampai jebolan perguruan tinggi beken.

Umat Kristiani yang mendengar dan membaca apalagi yang menanggapi hanya satu dua. Mungkin mereka termasuk yang terbawa arus ketidak mengertian.

Sedang yang lain tetap diam dalam kontemplasi diri menyiapkan kelahiran bayi kudus Yesus Kristus dengan sepenuh hati. Seperti para gembala di Padang Efrata dan tiga orang Majus dari timur yang datang dengan kerendahan hati.

Tidak mengerti dan ketakutan seperti Herodes.
Kelahiran Yesus Kristus, Sang Juru Selamat, di Betlehem sebuah kota kecil di Israel memang begitu mengguncang. Bahkan, Herodes pun kelabakan dan mengerahkan pasukannya untuk mencari, menemukan, dan membunuh bayi Yesus. Sehingga Bapa Yusup dan Bunda Maria pun harus membawa Yesus mengungsi ke Mesir, setelah mendapat kabar dari malaekat.

Ketakutan pada Yesus Kristus Sang Juru Selamat ini masih terasa hingga kini. Tingkah pola dan ucapan seperti Herodes pun muncul dengan berbagai argumen, yang kadang menjadi sesuatu yang sulit dimengerti. Kami yang merayakan, kok mereka yang kebingungan dan kelabakan.

Sesuatu yang membahagiakan, umat Kristiani tetap menganggap dan merasa bersahabat dengan mereka yang bersikap seperti Herodes dengan satu alasan: mereka tidak mengerti.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun