Mbah Ukik
Mbah Ukik tani

narima ing pandum

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Ciptakan Suasana Berkesan bagi Semua Saat Mudik

14 Juni 2018   05:11 Diperbarui: 14 Juni 2018   14:57 392 6 3
Ciptakan Suasana Berkesan bagi Semua Saat Mudik
Berbicang dengan handai taulan.

Mudik di hari raya terutama Hari Raya Idul Fitri, sepertinya sudah dan terus berkembang menjadi tradisi bangsa Indonesia dan telah mendapat perhatian khusus agar perjalanan mudik menjadi aman dan nyaman bagi mereka yang mudik.

Seperti arti kata mudik adalah kembali ke udik atau ke desa atau kampung halaman, maka sebaiknya suasana pedesaan atau kampung yang akan kita rasakan bersama keluarga, kerabat, dan handai taulan. Bukan suasana kota, jika kita merantau ke kota, untuk dibawa ke kampung atau desa.  Sebab suasana pedesaan atau perkampunganlah yang penuh kekerabatan, kekeluargaan, serta kedamaian yang kita rindukan. Bukan suasana perkotaan yang mungkin lebih mementingkan diri sendiri atau kelompok dan agak cuek. Sebab dengan suasana yang demikian, kita akan benar-benar merasakan kembali ke fitri. Tentu hal ini akan menjadi mudik menjadi suatu pertemuan yang berkesan bagi semua serta menjadi kenangan indah yang tak terlupakan.

Ikuti takbiran demi menjalin keakraban kembali.
Ikuti takbiran demi menjalin keakraban kembali.

Kunjungi siapa pun.
Kunjungi siapa pun.

Tinggalkan gawai.
Tinggalkan gawai.

Berdasarkan pengalaman penulis, ada beberapa hal yang sebaiknya dilakukan saat mudik:

  • Tampil dan bergaya sederhana seperti saat kita masih belum merantau. Tak perlu menunjukkan kesuksesan, kekayaan, atau prestasi lain saat merantau.
  • Tinggal atau menginap di rumah orangtua ( jika masih ada ) atau rumah keluarga dan kerabat yang dijadikan pepunden dengan keadaan apa pun. Sehingga kita dapat merasakan kebersamaan kembali yang pernah ada.
  • Ikuti kembali kegiatan agama menjelang hari raya, misalnya malam takbiran. Setidaknya ikut memeriahkan dengan menonton.
  • Sungkem ( dan mengajak anak kita ) pada orangtua atau kakek nenek sambil saling mendoakan dan mohon maaf. 
  • Tinggalkan sejenak ( sehari dua hari ) hape dan sejenisnya, setidaknya jangan sibuk dengan smartphone saat kita berkumpul.
  • Sambut tamu dengan kerendahan hati penuh persaudaraan. Sekali pun di masa lalu kita kurang akrab.

Terima tamu dengan hati terbuka.
Terima tamu dengan hati terbuka.

Nikmati sajian yang ada sekalipun bukan selera kita.
Nikmati sajian yang ada sekalipun bukan selera kita.

  • Berkunjung atau anjangsana bersama anak-anak kita kepada kerabat dan handai taulan, sekali pun kita sudah dikunjungi. Hal ini  kita lakukan untuk tetap menjaga persaudaraan atau kekerabatan dalam keluarga besar. Budaya Jawa mengatakan "ora kepaten obor"  yang artinya agar obor atau semangat persaudaraan tidak terputus.
  • Kunjungi atau anjangsana bersama anak-anak kita pada tetangga, terutama mereka yang terasa tersisihkan karena berbagai sebab. Dan, saat silaturahmi jangan hanya berjabattangan atau bersalaman lalu mohon pamit. Duduk dan berbincang sambil merasakan hidangan yang disajikan adalah sebuah kehormatan yang kita berikan.
  • Saat beranjangsana atau menerima tamu, hindari percakapan yang menyangkut pribadi. Alihkan pembicaraan secara diplomatis jika ada yang membicarakan tentang masalah pribadi.
  • Terimalah buah tangan atau oleh-oleh yang diberikan kerabat atau tetangga sebagai buah kasih persaudaran.
  • Ajak keluarga jalan-jalan mengelilingi suasana desa atau kampung.
  • Pamitlah pada kerabat dan tetangga saat akan kembali ke kota. Sebab mereka inilah yang paling dekat untuk memberi bantuan pada orangtua kita selama ditinggal merantau.

Alangkah indahnya, bila kita semua dapat melakukan hal-hal di atas sebab akan menjadi kenangan yang mengesankan bagi semua orang yang mudik dan yang tinggal di udik.

Pamitlah pada kerabat saat akan kembali.
Pamitlah pada kerabat saat akan kembali.

Terima buah tangan apa pun bentuknya.
Terima buah tangan apa pun bentuknya.