Mohon tunggu...
Ardi Winangun
Ardi Winangun Mohon Tunggu... seorang wiraswasta

Kabarkan Kepada Seluruh Dunia

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Tantangan Umat Beragama di Masa Pandemi Covid-19

5 Mei 2021   08:56 Diperbarui: 5 Mei 2021   09:03 50 1 0 Mohon Tunggu...

Angka penularan Covid-19 di India diberitakan oleh banyak media meningkat tajam. Meroketnya angka penularan di negeri Bollywood itu dikarenakan ummat Hindu di sana merayakan rangkaian festival Kendi atau Kumbh Mela. Dalam perayaan yang ada, ratusan ribu ummat Hindu berkumpul di tepi Sungai Gangga dan mandi di sana sebagai ritual ibadah. 

Penularan terjadi sebab kalau dilihat dari foto dan video yang beredar, mereka tidak menetapkan protokol kesehatan seperti menjaga jarak, memakai masker, dan menghindari kerumunan. Selain itu masyarakat di sana disebut mulai kendor dalam menerapkan protokol kesehatan, seperti menggunakan masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, menghindari perjalanan, serta mencuci tangan (5 M).

Naiknya angka penularan Covid-19 pastinya membuat pemerintah India direpotkan. Pemerintah harus menyediakan ruang isolasi dan pengobatan yang lebih banyak bagi warganya karena angka penambahan jumlah orang yang terdampak Covid-19. Dampak tingginya angka penularan akibat kegiatan agama di Sungai Gangga itu juga akan berpengaruh pada ekspor vaksin ke negara-negara lain. Beberapa hari sebelumnya, India menghentikan pengiriman vaksin Covid-19 ke negara lain dengan alasan lebih memprioritaskan kebutuhan dalam negeri. Dalam negeri lebih diprioritaskan karena angka penularan Covid-19 dirasa belum terkendali.

Merayakan hari-hari agama dengan terdampak Covid-19 seperti dalam rangkaian Festival Kendi di India, merupakan tantangan bagi ummat beragama dalam masa pandemi Covid-19. Berbagai kegiatan agama terganggu akibat adanya wabah ini. Bahkan acara agama yang ada tidak sekadar terganggu namun juga dibatalkan atau ditiadakan. 

Dalam ibadah-ibadah ummat Islam, seperti Haji, Umroh, dan ibadah sholat berjamaah, jumlah jamaah yang mengikuti ibadah tidak hanya dibatasi namun sampai pada tingkat ditutup atau dilarang. Akibat yang demikian niatan untuk menyempurnakan rukun atau meningkatkan keimanan dan pahala bagi ummat Islam menjadi tertunda. Hal demikian juga dialami oleh ummat beragama yang lainnya, saat Paskah dan Natal, ummat Kristen yang biasanya melakukan ibadah di gereja dengan banyak diikuti oleh jemaat, akhirnya ibadah itu dibatasi kehadiran jemaatnya. Menjelang Hari Raya Nyepi, di Bali biasanya ummat Hindhu di sana mengarak ogoh-ogoh keliling desa dengan sangat meriah namun akibat wabah, acara itu jadi dibatasi.

Dalam ajaran banyak agama, mereka memiliki kegiatan ritual atau ibadah yang hukumnya ada yang boleh dilakukan secara sendiri-sendiri, ada pula yang hukumnya harus dilakukan secara bersama, berjamaah, atau massal. Kedua cara beribadah itu semuanya perlu atau wajib dilakukan dan saling melengkapi. Dalam agama Islam, ibadah yang dilakukan secara berjamaah atau bersama-sama, nilai dan ganjarannya lebih banyak daripada dilakukan sendiri-sendiri. Inilah yang membuat ummat Islam kerap melakukan ibadah secara massal atau berjamaah.

Ketika wabah Covid-19 melanda dunia, di mana masyarakat dilarang berkerumun agar terhindar dari penularan penyakit, hal ini mengakibatkan pertemuan-pertemuan yang sifatnya massal dilarang. Aturan larangan berkumpul ini didukung banyak pihak termasuk kaum agamawan, ulama, dan rohaniawan. Para kaum agamawan sepakat bahwa mendahulukan kehidupan lebih diutamakan dari pada yang lainnya. Akibat yang demikian banyak kegiatan ibadah dan ritual keagamaan yang sifatnya massal atau berjamaah ditiadakan atau dibatasi jumlah massanya. Semua dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi dan mengendalikan penularan Covid-19.

Kapan ibadah yang sifatnya massal atau berjamaah bisa terselenggara kembali seperti dahulu lagi? Jawabannya adalah bila wabah Covid-19 berlalu atau ummat manusia telah memiliki kekebalan yang tercipta, vaksinasi. Bila dua hal ini belum tercipta tetapi ummat beragama nekad melalukan ibadah atau ritual yang sifatnya massal maka kegiatan yang dilakukan akan menjadi cluster penularan.

Menghadapi Covid-19 yang membuat ibadah secara massal atau berjamaah terganggu, ummat beragama perlu terus berdoa kepada Tuhan agar wabah ini segera berlalu. Bagi ummat beragama yang taat, pastinya yakin akan kekuatan doa yang bisa mengubah semuanya. Tak hanya itu, kegiatan ibadah atau ritual keagamaan yang massal atau berjamaah juga harus patuh pada protokol kesehatan. Wabah ini tidak hanya menyerang satu kelompok atau golongan namun menyasar kepada semua ummat tanpa memandang asal usul dan latar belakangnya. Tertular pada satu kelompok bisa menular kepada kelompok yang lain.

Tugas pemerintah dalam menjawab tantangan pandemi Covid-19 yang menimpa ummat beragama dalam kegiatan ibadah atau ritual yang sifatnya massal, tidak hanya memberi pengertian dan pemahaman akan pentingnya penerapan protokol kesehatan tetapi juga harus tegas dalam menegakan aturan yang ada. Jangan sampai aturan yang ada plin plan, tebang pilih, satu diperbolehkan satunya tidak, dan tidak jelas, sehingga membuat seolah-olah ummat dipermainkan.

Mudik saat Lebaran bisa disebut bagian dari rangkaian ibadah puasa. Masyarakat mudik selain untuk merayakan hari kemenangan, kembali ke suci, juga untuk bersilaturahmi dengan saudara-saudaranya di kampung halaman. Saat mudik, anak meminta maaf kepada kedua orangtua, kepada yang lebih tua usianya, serta masyarakat di sekitarnya. Ini merupakan bagian ibadah penyucian diri agar lepas dari dosa-dosa masa lalu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN