Mohon tunggu...
Ardi Winangun
Ardi Winangun Mohon Tunggu... seorang wiraswasta

Kabarkan Kepada Seluruh Dunia

Selanjutnya

Tutup

Wisata Pilihan

Ribuan Tahun yang Lalu Sudah Ada Studio-studio Musik

19 April 2021   12:36 Diperbarui: 19 April 2021   12:42 165 3 0 Mohon Tunggu...

Kali pertama saya ke Candi Borobudur, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah; ketika saya mengikuti study tour semasa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Selanjutnya mengunjungi candi itu saat wisata dan atau bila ada tugas kantor ke Kota Yogyakarta dan Magelang, sekalian mampr. Kali pertama saya ke candi Budha terbesar di dunia itu, saya sangat terpesona dengan bangunan yang ada. Betapa tidak, candi yang dibangun pada tahun 800 masehi itu selain besar, bangunan yang ada juga sudah memakai berbagai macam ilmu yang bisa dikatakan pada saat itu semua penuh dengan keterbatasan.

Dengan menggunakan ilmu matematika, para arsitektur pembuat candi mampu membuat susunan batuan yang ada sangat detail dan rapi susunannya, bentuk lurus, lingkar, dan sudut-sudutnya; serta tinggi dan lebarnya bangunan candi, sehingga membuat candi yang terbangun terlihat sempurna baik luas, lebar, tinggi, dan bentuk-bentuk volume lainnya.

Tak hanya dari besar, lebar, dan tinggi yang membuat Borobudur menjadi candi Budha terbesar di dunia dan pernah dinobatkan sebagai salah satu keajaiban dunia, saat ini Borobudur merupakan salah satu Wonderful Indonesia. Di dinding-dinding yang ada, oleh pembuat candi dipahat gambar, relief, yang menggambarkan semua sendi kehidupan ummat manusia pada masa itu. Relief di Borobudur tidak hanya perjalanan Budha namun juga menggambarkan semua sendi kehidupan manusia. Pada masa itu sudah ada perahu besar yang mengarungi samudera. Relief perahu yang ada menginspirasi orang saat ini untuk membuat hal yang sama dengan membuat Perahu Borobudur.

Masa itu Pulau Jawa masih diselimuti hutan belantara. Hal demikian membuat kita beranggapan pada masa dahulu dunia yang ada juga diselimuti dengan suasana sepi. Hanya ada aktivitas manusia dalam perekonomian, pemerintahan, agama, dan pertanian. Tak ada 'hingar bingar' seperti saat ini, dunia musik (hiburan).

Anggapan kita pada masa lalu, sebelum 800 M, yang sepi dan tak ada aktivitas musik, rupanya dibantah oleh bukti sejarah yang ada. Di relief yang ada di Borobudur, menunjukan ada gambaran manusia yang ada saat itu tengah bermain musik. Dari catatan yang ada, ada 226 relief yang menampilkan adanya musik, orchestra, atau perpaduan berbagai macam instrument suara yang dimainkan orang pada masa itu bahkan pada masa sebelum Borobudur dibangun. Terdapat 226 relief alat musik jenis aerophone (tiup), cordophone (petik), idiophone (pukul), dan membranophone (ber-membran), serta 45 relief ansambel di dinding candi (PEJ Ferdinandus).

Jadi masa masa lalu sudah ada 'hingar bingar' suara alat-alat musik yang dipermainkan oleh masyarakat baik tujuannya untuk acara keagamaan, istana, menghibur raja, ratu, dan tamu istana; seperta pertunjukan musik untuk menghibur masyarakat atau untuk hajatan (slametan). Dari bentuk dan jenisnya, alat-alat musik yang ada seperti ditiup, dipetik, dipukul, dan digetarkan, bentuknya sama dengan alat-alat musik saat ini. Hal demikian menunjukan bahwa pada masa itu sudah ada produsen (pabrik) alat-alat musik. Dan pastinya untuk menguasai alat-alat musik yang ditiup, dipukul, dipetik, dan digetarkan perlu belajar. Dengan mandiri atau bimbingan guru, mereka belajar memainkan alat musik dan belajar memadukan dengan pemain instrument musik lainnya. Untuk bisa menguasai alat musik dan memainkan suatu lagu, tentu ada guru yang membimbing mereka. Dari sinilah bisa disimpulkan pada masa itu sudah ada sanggar-sanggar atau studio-studio musik sebagai tempat masyarakat belajar bermain musik dan orchestra.

Relief yang ada di Borobudur yang menggambarkan musik dan instrument yang ada membuat mata kita terbuka bahwa pada masa itu dunia sudah maju. Di mana masyarakat sudah banyak yang bermain musik. Dengan melihat relief yang ada, kita bisa masuk dalam lorong waktu yang menyusuri ribuan tahun yang lalu dan melihat masyarakat bermain musik untuk berbagai kepentingan dan keperluan. Dengan relief yang ada membuat mata kita terbuka bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang maju, sudah ribuan tahun yang lalu kita menekuni dunia musik. Dari Borobudur kita jadi mengerti bahwa peradaban musik sudah terbangun ribuan tahun yang lalu dan itu ada di Indonesia sehingga Borobudur pusat musik dunia. Sound of Borobudur, dari relief-relief yang ada membuat kita sadar bahwa musik usianya setua peradaban manusia.

VIDEO PILIHAN