Mohon tunggu...
Ardianto Nugroho
Ardianto Nugroho Mohon Tunggu... Administrasi - Penulis

Penulis

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Gara-gara Beli Rumah Pakai Perasaan

11 Oktober 2021   14:31 Diperbarui: 11 Oktober 2021   15:08 528
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Apa yang perlu dipertimbangkan ketika membeli rumah? Sudah tentu tidak hanya satu atau dua pertimbangan. Kalau bisa sepuluh sampai lima belas! Berikut adalah cerita pendek tentang pengalaman Pokja dan rumah barunya yang dapat menjadi pembelajaran kita ketika akan mencari rumah.

Pokja dan Rumahnya

Pokja memiliki pemikiran bahwa memiliki rumah atas nama pribadi adalah pencapaian tertinggi dalam hidupnya. Pemikiran itu ia pikirkan terus-menerus dan telah menjadi visi-misi pribadinya.

Saat ini Pokja tinggal di sebuah kamar kos ukuran 4 x 3 meter dengan kamar mandi dalam. Kecil, tetapi cukup untuk Pokja. Tinggal di kos bagi Pokja sebenarnya bukan pilihan, tetapi lebih karena terpaksa aja. 

Terlebih lagi ketika suatu hari ibunya mengultimatum Pokja untuk segera cari rumah untuk masa depannya. Makin bersemangatlah Pokja untuk mencari rumah. Tiap hari ia mantengin OLX dan keliling komplek kos untuk mencari rumah yang dijual, lumayan sambil bantu pak satpam patroli keamanan.

Suatu hari ia melihat iklan rumah yang sesuai dengan daya belinya. Lokasi rumah itu 28 Km dari tempatnya bekerja, cukup jauh memang. Namun ia tidak peduli itu, yang penting punya rumah, rumah pribadi pula.

Segera ia menghubungi Bank untuk mengajukan KPR. Meskipun perawakan Pokja bukan nilai plus, tetapi semangatnya untuk mengajukan KPR menjadi nilai plus di mata Hanny, CS Bank bagian KPR. Entah mengapa ke-ngotot-an Pokja dalam meyakinkan Bank bahwa ia sanggup melunasi KPR terlihat begitu mengharukan di mata Hanny. Singkat kata Bank menyetujui KPR Pokja. 

Dengan cicilan 45% dari gaji, Pokja mendapatkan rumah idamannya. Perasaan bangga tumbuh menyeruak di hati Pojka. Hatinya berbunga-bunga meskipun ia harus menanggung KPR dengan tenor 25 tahun. Ia pun semakin bangga ketika hendak melamar kekasihnya kelak. Dalam hati, "Dek, abang lamar kamu bukan hanya modal hati, tetapi juga dengan properti".

Masa Bahagia (1)

Satu minggu setelah KPR disetujui menjadi minggu paling bahagia Pokja. Ia merasa visi-misi hidupnya sudah tercapai. Ia merasa berhasil menjadi salah satu manusia tersukses di dunia.

Topik obrolan yang dipilih selalu berhubungan dengan rumah. Setiap ada rekan kerjanya yang membahas rumah, entah dari mana, Pokja tiba-tiba muncul dan ikut meramaikan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun