Mohon tunggu...
Ardiansyah jainis
Ardiansyah jainis Mohon Tunggu... Mahasiswa

Arsitektur Universitas Riau

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Terima Kasih, Ibu Pertiwi

29 Mei 2020   17:52 Diperbarui: 29 Mei 2020   17:48 21 0 0 Mohon Tunggu...


Nama saya Ardiansyah JS, sekarang berkuliah di Arsitektur Universias Riau, Pekanbaru Riau,  saya bersal dari keluarga  petani di kabupaten Kuantan Singingi, RIAU, sebuah kabupaten yang terkenal dengan event tradisional pacu jalurnya, dan  rumah saya terletak tidak di pusat ibu kota kabupatenya, sekitaran 30 menit dari pusat ibu kota kabupaten Kuantan Singingi, terlahir sebagai seorang anak kampung , ada banyak yang saya hadapi selama berproses mewujudkan mimpi,  apalagi dari golongan petani,  dan untuk kali ini saya akan berbagi salah satu kisah saya.

Jika berbicara tentang bagaimana kondisi  Indonesia sekarang, mungkin saya  dan sebagian kita hanya tau dari  media ataupun televisi saja, kita tidak tau bagaimana kondisi Indonesia secara merata, apakah merata atau masih berat sebelah, ya mungkin karna faktor saya yang seorang anak kampung yang memiliki pengetahuan kurang dan juga Cuma bisa melihat Indonesia ini dari media televisi, sebelum mendapatkan beasiswa bidikmisi, saya belum bisa memiliki smartphone dan mungkin hanya bisa melihat Indonesia dari televisi saja, baik itu untuk mengakses informasi maupun mengenal  dunia  luar.

Dan sekarang  kita akan berbicara mengenai kondisi  indonesia terlebih dahulu, dahulu saya sering membandingkan kenapa  kota-kota yang ada di televisi seperti  kota di pulau Jawa itu lebih maju dari pada kabupaten saya, dan dengan semakin bertambahnya usia saya semakin tau penyebab itu semua adalah otonomi daerah, sebuah kebijakan yang di berikan untuk daerah tersebut mengelola sendiri sumber daya yang ada di daerah tersebut , baik itu sumber daya alam, mineral maupun manusia.

Dan saya tau sumber daya di daerah saya banyak, khususnya emas, tapi mengapa percepatan pembangunan kota berjalan lambat, Dan disini saya juga baru mendapatkan alasan bahwa kualitas manusia lah yang sangat-sangat mempengaruhi  kemajuan daerah daerah tersebut,  dan kenapa saya merasa daerah saya kurang maju mungkin karna mata saya kurang terbuka atau mungkin  kondisinya memang seperi  itu, daya beli masyarakat rendah di buktikan nya hanya sedikit minimarket yang mau membangun cabang disini, dan bukan berarti dengan saya beranggapan daerah saya masih tertinggal saya juga beranggapan SDM kami masih kurang bagus,  sebenarnya banyak juga putra putri asli kabupaten kuantan singingi ini yang sudah menjadi manusia unggul tapi mungkin saya saja yang tidak mengetahui.

Berangkat dari  membandingkan daerah sendiri dengan daerah daerah yang sering muncul di televisi akhirnya saya menanamkan dalam hati untuk menjadi salah satu putra daerah kuansing yang semoga besok bisa merubah dan memajukan daerah kuantan singingi. Namun sebelum kita bermimpi  tentu sebagai manusia tak mau mimpi sekedar mimpi dan cerita hanyalah cerita, tentu ada keinginan untuk mewujudkan.

Dari hal ini kita kebelakangkan dulu masalah logika, di sini saya ingin menjelaskan terlebih dahulu  mengenai  mimpi saya dulu, masalah terealisasi atau tidak kita serahkan ke sang pencipta, walau jika di hubungkan ke status ekonomi itu sangat tidak bisa menutupi, itu pendapat saya waktu masih kelas dua SMA.

Akibat keseringan melihat televisi membuat tingkat halusinasi terlalu tinggi dan tigkat ekspetasi teralalu berani, di awali dengan saya menonton film yang jalan ceritanya di angkat dari kisah hidup salah satu kepala Negara Indonesia yaitu pak BJ Haibie , dengan judul  habibie ainun 2, dan  yang  saya cerna dari film ini  bukanlah keromantisan antara bapak Habiebie dan ibuk Ainun, melainkan keseriusan pak Habibie dan tekad dia yang percaya bisa merubah Indonesia dari Negara Agraria menjadi Negara HI-tech seperti jepang dan jerman, dari sini kita bisa menangkap jika kita ingin merubah sesuatu yang mungkin sulit untuk dirubah kita harus merubah diri sendiri terlebih dulu, walau banyak  cemo'oh kita harus kuat dengan tekad tersebut.

Jika kita membandingkan pada apa yang pak Habibie punya dengan kehidupan saya  mungkin sangat-sangat berbeda, apalagi dari segi kecerdasan, namun apa yang di bilang tekad untuk membawa kemajuan bagi tanah air yang digelorakan pak habibie itu saya merasa semangat itu tumbuh di hati saya, terinspirasi dari film ini dan di latar belakangi masalah yang ingin membawa kemajuan ke daerah asal  membuat saya untuk bertekad dengan bermimpi menjadi seorang engineer, atau insinyur, seperti apa yang di tekuni pak Habibie, dan saya yakin juga seorang engineer mampu membawa kemajuan kepada daerahnya maupun negaranya, dibuktikan juga dengan prestasi pak habibie yang mampu menormalkan Indonesia setelah terpuruk dari krisis moneter jaman presiden soeharto. membuat mainset seora engineer sangat di butuhkan indonesia Untuk mempercepat kemajuan.  Sejak saat itu saya bermimpi  menjadi seorang insinyur .

Masuk ke masa masa SMA, dimana masa masa awal kita mencari jalan awal kemasa depan, mimpi saya  untuk menjadi seorang insinyur sudah dapat, dan sekarang saya berpikir untuk bagaimana merealisasikannya, jikalau melihat kondisi ekonomi keluarga saya mungkin sangat sulit untuk mendukung impian saya untuk menjadi seorang insinyur, dengan kondisi pekerjaan orang tua sebagai petani, apalagi seorang petani karet, dengan harga karet yang waktu saya SMA sekitaran RP.5000-RP.6000 pada waktu itu, dan dengan luas kebun karet yang tidak terlalu luas membuat pengahasilan orangtua saya hanya sekitaran seratusan per minggu untuk 4 anggota keluarga, namun kembali lagi orang tua saya selalu berpesan "jalan sudah di atur oleh tuhan".

Jikalau saya berkuliah nanti mungkin akan sangat sangat menyulitkan orang tua saya yang mana mereka juga sudah menempu usia senja, bapak dengan umur(64) dan ibu dengan umur (59) pada waktu itu juga salah satu dari sekian alasan untuk membuat saya berpikiran tidak akan berkuliah, Berkaca dari dua orang abang saya yang sudah berkuliah dan telah menjadi sarjana, dan untuk menguliahkan abg saya saja saya pernah ikut turun membantu bapak saya untuk motong karet, paginya sekolah siangnya motong karet, itu pas masih SMP, dan lahan yang di garap itu paginya lahan sendiri siangnya lahan orang lain dan nanti hasilnya di bagi, itu terjadi waktu saya masih smp, waktu itu harga karet sudah seperti ini tapi usia orang tua masih segar, berbeda dengan jaman saya, lahan sudah tinggal lahan sendiri dan usia orang tua sudah tua, dan banyak lagi pertimnbangan saya untuk memutuskan berkuliah atau tidak.

Walau di hubungkan ke keadaan ekonomi tidak memungkinkan, namun saya tetap bersih kukuh untuk berkuliah, dan akhirnya masa SNMPTN sudah dekat, jika di hubungkan dengan tingkat kecerdasan, saya adalah anak yang tidak pintar pintar amat dan tidak masuk tiga besar, namun karna mungkin dari jawaban dari impian allhamdulillah saya di luluskan di data pdss dan allhamdulillah berkesempatan  bersaing di SNMPTN, dan mungkin inilah satu satunya jalan saya untuk berkuliah.

Ketika saya gagal mungkin saya tidak tau lagi bagaimana cara untuk berkuliah, jadi saya berpikir saya tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan itu, tapi kembali lagi ke kepercayaan saya selaku umat beragama tentang mainset semua sudah di tentukan tuhan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN