Mohon tunggu...
Ardi
Ardi Mohon Tunggu... Tenaga Kependidikan

Alumnus Mahad Abu Ubaidah Bin Al-Jarrah Medan. Alumnus STAI Bahriyatul Ulum Pandan Tapanuli Tengah

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Di Perempatan Jalan

7 Juni 2020   14:39 Diperbarui: 7 Juni 2020   14:45 58 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Di Perempatan Jalan
Sumber gambar: Pexels/ Max Schwoelk

Matanya nanar memburu sebuah benda. Benda yang memang selama ini dia cari. Tapi hatinya menentang. Hari semakin panas, karung usang dan kumal juga masih menggandrung di punggung lelahnya. 

Sandal kumuh dan dekil menjadi alas kakinya. Perut yang mulai lapar juga hampir tak terasa lagi. Yang penting hari ini bisa dapat banyak barang usang yang laku dijual.

Terngiang kembali suara anaknya yang kini duduk dikelas empat Sekolah Dasar, 'Ayah, kapan Ani dibelikan sepatu baru? Teman-teman Ani selalu mengejek, katanya ada jempol berjalan'. Ani sampai dijuluki jempol berjalan, karena bagian muka sepatunya koyak, sehingga ibu jari kakinya terkadang keluar.

Suara ngiangan itu begitu mendera. Saat anaknya mengucap kata-kata itu, ia hanya bisa menjawab, 'sabar, ya, nak. Nanti kalau ayah ada duit, akan ayah belikan. Jangan sedih kalau diejek teman, berdo'alah supaya rejeki ayah dilapangkan. Karena salah satu do'a yang kabulkan adalah do'anya orang-orang yang terdzolimi.'

Lagi-lagi ia bingung. Sepatu itu baru, lengkap dengan bungkus plastiknya. Ukurannya juga sesuai untuk putrinya. 'Kapan lagi aku bisa memberikan sepatu untuk anakku? Bila terus-terusan menunggu sampai punya uang, mana mungkin. Penghasilan pemulung seperti aku ini, hanya cukup untuk biaya makan sehari. Dapat siang, malam sudah habis. Tidak! Itu bukan milikku. Tapi jika aku tinggalkan, bisa diambil orang yang tidak bertanggung jawab'  bimbangnya di hati.

Setibanya di rumah, ia selipkan benda itu di antara lemari dan rak buku, agar anaknya tidak tahu.

***

Selepas maghrib, seperti biasanya Ani mengaji, lalu belajar, membahas materi pelajaran yang akan dipelajari besok. Tanpa sengaja, tangannya menyenggol sebuah buku hingga jatuh di antara lemari dan rak buku. 

Ia terkejut saat melihat ada sebuah bungkusan. Ia buka bungkusan itu dan wah, ia sama sekali tidak menyangka kalau isinya adalah sepatu. Kelopak matanya membesar, gemuruh perasaan senang tetiba merasuk. Ia segera berlari membawa bungkusan sepatu itu menuju ayahnya.

"Ayah, ini sepatu siapa? Ini untuk Ani, ya, yah?" Tanyanya menampakkan bungkusan itu penuh harapan. Ayahnya heran, kenapa sampai bisa ditemukan. Padahal ia menyimpannya sudah terlalu menyudut agar sulit diketahui. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN