Mohon tunggu...
Ardi
Ardi Mohon Tunggu... Tenaga Kependidikan

Alumnus Mahad Abu Ubaidah Bin Al-Jarrah Medan. Alumnus STAI Bahriyatul Ulum Pandan Tapanuli Tengah

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

KKN di Desa Peracun

1 April 2020   10:24 Diperbarui: 1 April 2020   10:26 131 4 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
KKN di Desa Peracun
Gambar: Pixabay

Ibu Karsem, salah satu penduduk setempat yang rumahnya disewa oleh kepala dusun untuk menjadi posko mahasiswa KKN. Suaminya meninggal setahun yang lalu. Malam itu ia berbagi cerita tentang suatu yang janggal terjadi di rumahnya. Kadang ia mencium bau asap rokok. Padahal tak satupun dari mahasiswa KKN itu yang merokok. Ia percaya bahwa bau asap rokok itu pertanda kedatangan suaminya.

Ibu Karsem berpesan pada mereka agar selalu berhati--hati kemanapun di desa itu. Ada sepasang suami istri yang telah dikenal masyarakat setempat sebagai "Peracun". Mereka akan mencari tumbal untuk memperpanjang ilmu hitamnya. Seketika itu ia sedih, karena kata 'orang pintar', suaminya meninggal karena terkena racun mereka.

Semua memandang Aisyah. Cerita itu jadi beku. Malam jadi hening. Ya, hanya Aisyah yang mengisi jadwal KKN-nya dengan mengajar mengaji anak-anak di desa. Diantara teman-temannya, Aisyah lebih baik bacaan mengajinya. Aris, anak dari "Peracun" itu diam--diam suka padanya.

Seminggu berlalu, mereka mendapat kabar bahwa Aris jatuh sakit. Mereka datang menjenguknya. Dirumahnya, tidak ada siapa--siapa kecuali dia dan ibunya. Saudaranya yang lain merantau ke luar kota.

Ibunya menyajikan teh untuk mereka.

Glek.. glek.. glek..

Aisyah menghabiskan teh itu dengan segera. Yang lain masih heran. Mereka takut kalau teh itu sudah dibacakan mantra. Aisyah memulakannya dengan mengucap basmalah. Ia tahu bahwa segala aktifitas yang dimulakan dengan ucapan itu akan mendapat perlindungan.

Dua bulan berlalu. Membuat taman, gotong royong desa, menempel nomor rumah masyarakat, menghidupkan pengajian dan lain -- lain. Aris dan pemuda setempat lainnya juga banyak membantu mereka dalam mengisi jadwal kegiatan KKN.

Tibalah hari terakhir mereka di desa itu. Aris memberi surat pada Aisyah.

06 Agustus 2010

Teriring salamku pada Dik Aisyah, semoga sehat selalu dalam lindungan Tuhan. Aisyah, Aku salut padamu. Bagiku kau adalah wanita istimewa yang pernah kutemui. Walau kau tahu bahwa aku ini anak siapa.

Maaf kalau aku lancang berkirim surat padamu. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa aku suka kamu. Tapi aku sadar, aku ini siapa. Gadis sholehah sepertimu lebih cocok mendapat pasangan yang sepadan ilmu dan nasabnya. Aku tak ingin melukaimu. Kau begitu baik. Pasti bahagia orang yang akan menjadi suamimu kelak.

Ada satu hal yang ingin ku ceritakan..

Kalau boleh aku menyesal, aku juga tidak menginginkan kondisi ini. Kakek nenek kami dulu menguasai ilmu hitam. Harus ada yang menjadi tumbal agar dapat meneruskan awet ilmu itu. Kalau tidak, maka ilmu itu sendirilah yang akan memakan tuannya. Ini adalah ilmu keturunan dan akan diturunkan juga kepadaku kelak. Mungkin orang tuakupun merasa seperti apa yang ku rasakan.

Apa mau dikata. Bagaimanapun dia tetap orang tuaku. Aku hanya bisa pasrah dan memohon agar Tuhan memberi hidayah pada kami. Terima kasih, Aisyah. Semoga sukses dalam cita-citamu.

Aris

***

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x