Mohon tunggu...
Ardi
Ardi Mohon Tunggu... Tenaga Kependidikan

Alumnus Mahad Abu Ubaidah Bin Al-Jarrah Medan. Alumnus STAI Bahriyatul Ulum Pandan Tapanuli Tengah

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Pengaruh Media Sosial terhadap Karakter Siswa

12 Maret 2020   10:37 Diperbarui: 12 Maret 2020   10:47 163 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pengaruh Media Sosial terhadap Karakter Siswa
Sumber: Pixabay

Media sosial bukan hal yang asing bagi siswa di zaman milenial ini. Punya lebih dari satu akun media sosial pun bukan pemandangan baru di kalangan siswa. Media sosial seperti sudah menjadi bagian dari keseharian siswa. Apakah media sosial suatu kebutuhan siswa? Apakah ada pekerjaan siswa akademis yang mengharuskan siswa untuk punya akun media sosial?

Nah, berbicara mengenai karakter anak didik sekarang ini, banyak wacana yang memberitakan akan minimnya karakter baik yang dimiliki siswa. Itulah sebabnya dulu pada kurikulum 2013 dititikberatkan pada pendidikan karakter siswa. Tujuannya untuk membentuk dan atau membenahi karakter siswa agar lebih baik.

Budi perkerti adalah hal utama yang seharusnya ditanamkan pada anak didik. Karena budi pekerti mampu membentengi siswa dari hal baru yang dapat merusak pribadi mereka. Baik orangtua, guru maupun masyarakat lebih mencintai anak yang berbudi pekerti walau tidak terlalu pintar, daripada anak yang pintar namun minim karakter baik.

Lantas, mengapa bisa media sosial mempengaruhi karakter siswa? Media sosial punya dua sisi yang berbeda. Ia bisa berdampak buruk, dan bisa juga berdampak baik. Siswa yang mempunyai bekal budi pekerti, ia akan menggunakan media sosial untuk hal yang baik pula. Namun bagi siswa yang kurang pengawasan, ia akan memakainya untuk hal yang buruk.

Diantara dampak buruknya adalah menyebabkan kecanduan. Media sosial seperti sebuah ruang yang membuat asik penggunanya. Jika ia bosan dengan satu aplikasi, iapun beralih ke aplikasi lain. Tanpa sadar ia telah kehilangan banyak waktu yang bermanfaat. Hal ini berefek pada sikap intoleran. Ya, ia serasa punya dunia sendiri sehingga tidak peka lagi terhadap hal-hal disekitarnya.

Selanjutnya, media sosial secara tidak langsung melatih anak untuk menjadi orang lain. Indah dan bahagia, begitulah kiranya ketika pengguna berselancar di media sosial. Harusnya siswa dapat belajar tentang arti sebuah perjuangan sebelum melihat keadaan yang indah dan bahagia itu. Ini berdampak kepada krisis kepercayaan diri.

Dalam ilmu pengembangan diri, kita selalu mendengar kalimat "jadilah dirimu sendiri," artinya bahwa seorang siswa perlu memupuk rasa kepercayaan diri. Dengan kepercayaan diri yang kuat, seorang siswa mampu menjadi insan berkarakter. Mampu menemukan passion sendiri. Dan memunculkan aura positif di kalangan teman-temannya. Maka, otomatis ia akan menjadi orang yang menyenangkan berada di antara teman-temannya.

Ucapan siswa yang kasar bisa jadi dikarenakan media sosial juga. Kolom komentar dalam suatu postingan acap menuturkan bahasa yang tidak mendidik. Bahkan ada netizen yang mencaci maki tanpa filter di kolom komentar tersebut. Itulah yang dilihat dan dibaca oleh siswa yang aktif di media sosial.

Nantinya jika siswa akan memberikan komentar di suatu postingan, bisa jadi ia akan memberikan komentar yang kasar, sama seperti kebanyakan netizen yang ia lihat di media sosial. Tidak menutup kemungkinan juga di dunia nyata ia berprilaku yang sama. Berkomentar kasar terhadap temannya bahkan bisa jadi juga terhadap gurunya.

Betapa besar pengaruh media sosial ini terhadap pembentukan karakter siswa. Media sosial yang sulit terlepas dari keseharian siswa, harus disertai dengan sebuah pengawasan. Orangtua punya andil besar dalam menentukan karakter siswa. Tidaklah cocok jika pengembangan karakter siswa sepenuhnya diserahkan hanya kepada sekolah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x