Mohon tunggu...
Ardi
Ardi Mohon Tunggu... Guru - Tenaga Pendidik

Alumnus Mahad Abu Ubaidah Bin Al-Jarrah Medan. Alumnus STAI Bahriyatul Ulum Pandan Tapanuli Tengah

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Perlukah Memperingati Hari Guru?

26 November 2018   05:19 Diperbarui: 26 November 2018   05:47 303 1 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Perlukah Memperingati Hari Guru?
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Tanggal 25 Nopember selalu menjadi tanggal bersejarah bagi para guru untuk menerima penghormatan khusus dari para muridnya. Menyanyikan lagu hymne guru, menyematkan rangkaian kecil bunga di dada atau memberi sebuah bingkisan manis yang berkesan. Benarkah ini berasal dari keikhlasan siswa memberi, atau ada unsur suruhan dari pihak sekolah? Nyamankah siswa dengan kegiatan memberi penghormatan ini?

Semoga apa yang saya paparkan berikut tidak terjadi pada para generasi milenial saat ini. Saya masih ingat ketika saya duduk di bangku sekolah dasar kelas 5. Itu tahun 1996. Satu hari sebelum hari guru, wali kelas kami menyarankan agar besok membawa kado untuk guru. Tidak harus mahal, yang penting ada.

Saya bukanlah berasal dari keluarga yang berkecukupan. Bisa sekolah saja sudah bersyukur. Saya sampaikan saran guru saya pada orang tua saya. Saya berharap orang tua saya mau menyiapkan kado hari guru itu. Namun harapan itu jauh dari kenyataan. Hal itu malah menyusahkan orang tua saya.

Akhirnya saya tidak pergi ke sekolah karena malu dengan teman-teman saya yang membawa kado. Tidak wajib sebenarnya, tapi anak seusia saya kala itu akan mendapat ejekan dari teman-teman yang lain jika tak membawa kado. Dan jikapun saya datang, mungkin hanya saya sendiri yang tidak membawa kado.

Beranjak ke jenjang pendidikan menengah pertama. Hari guru memang tidak dianjurkan membawa kado, tapi ada kutipan khusus yang disebut 'uang hari guru'. Seminggu sebelum hari guru, osis atau wali kelas sudah mengumumkan adanya pembayaran 'uang hari guru' agar dapat disampaikan pada orang tua.

Pembayarannya bisa dicicil. Tiba hari H berlangsung, guru dan siswa sama-rata. Ya, guru mendapat hadiah yang sama. Dan siswa di sama-ratakan membayar iuran tersebut.

Nah, bagaimana dengan sebagian siswa yang kondisinya pas-pasan hanya mendapat jatah uang jajan setiap harinya? Apakah harus memangkas jatah uang jajannya? Bagaimana pula dengan orang tua yang merasa keberatan? Ini jarang tersampaikan ke pihak sekolah. Bahkan setelah berlalunya hari gurupun, 'uang hari guru' itu tetap masih di tagih bagi yang belum lunas.

Dengan bahasa kasar saya simpulkan bahwa mengutip 'uang hari guru' kepada siswa itu adalah tindakan mengemis. Kita kembali pada makna memperingati hari guru. Menghargai dan menghormati guru atas kinerjanya mencerdaskan anak bangsa. Hal ini selaras dengan tulisan saya sebelumnya 'bolehkah guru terima hadiah dari siswa'?

 Saya pikir kita sepakat bahwa memaknai ungkapan 'guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa' artinya guru yang mendidik anak didik tidak mengharap pamrih kecuali gaji yang menjadi haknya. Semoga bermanfaat.

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN