Ardi
Ardi Guru

Tenaga Kependidikan di SMP Ulun Nuha Medan Alumnus STAI Bahriyatul Ulum KH. Zainul Arifin Tapanuli Tengah Tahun 2012

Selanjutnya

Tutup

Muda Pilihan

Atasi Rasa Jenuh Belajar dengan Metode "Mind Mapping"

14 Januari 2018   10:38 Diperbarui: 14 Januari 2018   10:45 2025 0 0
Atasi Rasa Jenuh Belajar dengan Metode "Mind Mapping"
foto: My Inspiration - blogger

Kejenuhan akan terjadi dalam pembelajaran jika antara pendidik dan anak didik saling tidak sinkron dalam materi ajar. Bisa jadi pengajar yang tidak menguasai materi atau anak didik yang tidak paham dengan penjelasannya. Efeknya adalah akan terjadi ketidak-kondusifan dalam kelas. Guru dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam melakukan pengajaran. Metode ceramah yang terus menerus juga dapat memicu kebosanan. Setelah mendengar penjelasan, maka dengan mudah anak didik melupakannya. Secara tidak langsung, anak didik di 'paksa' untuk tahu terhadap materi yang diceramahkan.

Mind mapping atau peta pemikiran adalah metode mengajar anak didik dengan menggabungkan kerja otak kiri dan otak kanan. Otak kiri bekerja pada hal yang berhubungan dengan menghafal, menghitung, berbicara, menulis, logika, pertimbangan dan menganalisa. Sedangkan otak kanan lebih banyak bekerja pada kreatifitas, seni dan keterampilan imajinasi. Berikut beberapa manfaat menggunakan metode mind mapping dalam pembelajaran,

1. Menguatkan ingatan

'Pohon' ide yang dibuat dalam mind mapping memudahkan anak didik untuk mengingat poin-poin penting dari judul besar. Setelah itu, anak didik dapat merunutkan penjelasan sub judul secara gamblang dengan bahasa yang mereka pahami. Nilai pendidikannya adalah mengajarkan anak didik untuk pintar berkomentar, menulis dan berbahasa yang baik.

2. Menyingkat waktu

Satu buku yang mencakup lima bab, dapat disingkat menjadi satu halaman. Cukup membuat 'pohon' ringkasan dengan satu kata kunci pada masing-masing bab, judul, sub judul dan poin-poin penting pada sub judul.

3. Memudahkan penjelasan

Mind mapping dapat digunakan oleh siapa saja. Baik pendidik maupun anak didik. Dengan menguasai mind mapping yang dibuat, maka hanya perlu mengingat 'pohon' ide yang telah dibuat saja. Selanjutnya dapat menjabarkan sesuai urutan 'pohon' ide tersebut.

4. Mengajak anak didik untuk aktif

Saat mulai menulis judul, guru akan memancing siswa untuk menyebutkan sub judul apa saja terkait pelajaran. Setelah itu guru kembali mengajak siswa untuk menyebutkan poin-poin penting apa saja terkait sub judul yang diajukan mereka tadi. Dengan begitu, terjadilah feedback antara guru dan siswa. Secara tidak langsung siswa telah menguasai 20% dari materi yang akan diajarkan.

Lalu, bagaimana cara membuat mind mapping? Berikut contoh pembuatan mind mapping dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Misalkan seorang guru memberikan tugas untuk membuat cerpen dengan judul "Sekolahku", maka yang perlu dilakukan adalah:

1. Tulis kata "Sekolahku" di tengah kertas lalu lingkari. Akan lebih baik lagi jika lingkaran itu diganti dengan gambar yang melambangkan sekolah. Siapkan juga tinta warna untuk mengetahui cabang dari poin yang mana yang dijelaskan dalam gambar.

2. Buat cabang sub judul yang terkait dengan kata "Sekolahku", seperti guru-guru hebat, teman yang selalu semangat, dan sekolah yang menyenangkan. Tarik garis lalu lingkari kembali dengan warna-warna yang berbeda. Akan lebih baik jika membuat gambar di samping lingkaran sebagai lambang yang mewakili setiap sub judul.

3. Buat poin-poin penting dari sub judul. Misalnya guru-guru hebat, poinnya Pak Karmin, Bu Saodah, Pak Hendra. Teman yang selalu menyenangkan, poinnya Ridwan, Habib, Riska. Sekolah yang menyenangkan, poinnya kantin yang lengkap, halaman yang luas, masjid yang bersih. Buat kembali garis keluar dari lingkaran sub judul tersebut untuk menerangkan poin-poin penting terkait sub judul. Lingkari setiap poin sub judul tersebut. Akan lebih baik jika membuat gambar di samping lingkaran sebagai lambang yang mewakili setiap poin sub judul.

dokpri
dokpri
4. Selesai. Proses pembuatan mind mapping siap untuk di aplikasikan. Anak didik bebas berekspresi sesuai kreatifitasnya. Mereka akan berpikir, apa yang cocok untuk pengembangan judul, subjudul dan poin penting dari subjudul tersebut. Ini mempermudah mereka dalam merangkai kata-kata yang akan dijadikan sebuah cerita pendek. Tinggal mendeskripsikan masing-masing sub judul menjadi sebuah paragrap. Semoga  bermanfaat.