Mohon tunggu...
ardhani prameswari
ardhani prameswari Mohon Tunggu... guru

seorang yang sangat menyukai photography

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Waspadai Pancasila sebagai Kedok

18 Juli 2020   10:18 Diperbarui: 18 Juli 2020   10:17 102 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Waspadai Pancasila sebagai Kedok
flickr.com

Beberapa hari ini kita menyaksikan aksi massa yang menyatakan menolak rancangan UU Haluan Ideologi Pancasila (HIP). Mereka juga menegaskan ingin menegakkan Pancasila di bumi Nusantara. Mereka juga secara terang-terangan menyatakan bahwa mereka mengatasnamakan pemahaman keislaman tertentu.

Masalah ini tentu menarik untuk dicermati. Karena mereka yang bersuara itu kerap melontarkan bentuk khilafah bagi Indonesia. Mereka berpendapat bahwa selama khilafah bisa ditegakkan dengan dakwah, dengan pendekatan yang baik dan dapat diterima tanpa ada pemaksaan atau unsure makar kenapa tidak ?  Ini adalah kalimat kutipan dari seorang ketua alumni pemahaman keislaman tertentu.

Sebelumnya mereka sering menyuarakan penggantian Pancasila dengan ideologi yang mereka miliki. Mereka kerap menyuarakan bahwa Piagam Jakarta setara dengan Pancasila, sehingga Pancasila dapat diganti dengan Piagam Jakarta. Kaum agamis ini juga menyodorkan konsep NKRI ber-syariah sampai konsep khilafah seperti yang diterangkan di atas.

 Dengan membawa bendera agama dan menyakini ideologi lebih baik, kita bisa melihat bagaimana konsep negara agama yang ingin mereka usung. Lalu tetiba mereka ingin menegakkan Pancasila. Bahkan mereka mengancam akan demo berjilid-jilid untuk melakukan itu.

Tentu saja ini bertentangan dengan komitmen bersama kita bahwa negara kita berbentuk Kesatuan dengan Pancasila sebagai falsafah negara. Sikap mereka itu seperti berdiri pada dua pijakan.

Pijakan pertama adalah menggeser Pancasila yang melindungi keberagaman dengan pijakan agama. Kita tahu dengan mata telanjang saat beberapa peristiwa politik, mereka tak segan memakai pijakan agama untuk meraih kekuasaan. Mereka juga menempatkan segala sesuatu yang beraroma agama sebagai landasan berfikir masyarakat. Tak hanya politik, tapi juga pendidikan, budaya serta ekonomi. Kita tentu ingat buku-buku yang berisi diksi kafir dan halal haram yang beredar di anak-anak Sekolah Dasar. Tak hanya itu kegiatan budaya juga seringkali menempatkan agama sebagai landasan budaya, dengan ketentuan berbusana dan lain sebagainya. Contoh lain dan nyata adalah bagaimana kelompok masyarakat yang menamakan diri Front Pembela Islam (FPI) menujukkan hasrat mereka untuk memberlakukan syariat Islam dengan mendompleng narasi Piagam Jakarta.

Sedangkan pijakan kedua yang ingin mereka perlihatkan belakangan ini adalah menegakkan Pancasila yang jelas-jelas merupakan negasi (berlawanan) dengan pijakan pertama. Mereka bersikap seolah-olah Pancasila sudah selayaknya dilindungi dari berbagai faham lainnya. Salah satu sikap nyata mereka akan hal ini adalah aksi yang dilakukan dalam beberapa hari ini.  

Sikap-sikap seperti ini tentu saja bersifat ambigu dan berbahaya jika kita mempercayai mereka dan menelan mentah-mentah sikap terbaru mereka ini. Bisa jadi sikap ingin membela Pancasila adalah tipu muslihat atau kedok belaka. Mustahil bagi mereka untuk segera mengubah keyakinan terhadap pijakan agama dan dalam hitungan hari berpindah ke pijakan Pancasila.

Cara pencegahan yang baik atas hal tersebut adalah mendorong setiap komponen negara dan masyarakat untuk selalu berperilaku Pancasila yang menghargai keragaman, memberi tempat pada keyakinan yang berbeda sampai memandang keragaman namun bisa dipersatukan dalam satu bangsa ini adalah satu kekayaan tersendiri yang dihargai oleh bangsa lain sebagai sikap teladan.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x